Category Archives: IEPC-Kursus Bahasa Inggris

Jenis-Jenis Teks Bahasa Inggris

Standard

Dalam Bahasa Inggris terdapat macam-macam jenis teks, di bawah ini adalah beberapa jenis teks yang harus diketahui dan dipahami oleh siswa SMP, berikut ini adalah 5 jenis teks beserta penjelasan sederhana dari teks tersebut :

1.DESCRIPTIVE
Teks Descriptive adalah teks yang menggambarkan seseorang, benda atau tempat tertentu sehingga pembaca dapat membayangkan seolah-olah yang diceritakan itu benar-benar nyata.
Tujuan Komunikatif :
memberikan informasi mengenai ciri-ciri seseorang, benda atau tempat tertentu.
Struktur Teks:
* Identification / Pengenalan: ciri-ciri seseorang, suatu benda atau tempat tertentu yang akan dideskripsikan.
* Description / Deskripsi: menggambarkan ciri-ciri seseorang, benda atau tempat tersebut, misalnya bentuk, ukuran, warna, asal, kegemaran dan ciri khusus lainnya.

2.NARRATIVE
Teks Narative adalah teks yang bercerita mengikuti alur waktu.
Tujuan Komunikatif : Menghibur pendengar atau pembaca dengan pengalaman nyata atau khayal.
Ciri naratif adalah adanya unsur konflik (masalah) dan resolusi (penyelesaian masalah).
Struktur Teks:
* Pengenalan latar: tokoh, waktu, dan tempat.
* Pengembangan konflik.
* Penyelesaian konflik.
* Koda: perubahan yang terjadi pada tokoh atau pelajaran yang dapat dipetik dari cerita.

3.PROCEDURE
Teks Prosedure adalah teks yang menjelaskan dengan jelas cara membuat atau melakukan sesuatu.
Tujuan komunikatif :
Memberi petunjuk cara melakukan sesuatu melalui serangkaian tindakan atau langkah.
Struktur Teks: Goal/Aim/Tujuan – Materials/Tools/Bahan/Alat – Steps/Methods/Langkah

4. RECOUNT
Teks Recount adalah teks yang menceritakan kembali kejadian yang telah terjadi berurutan dengan menggunakan keterangan waktu yang jelas pada masa lampau
Tujuan komunikatif:
Melaporkan peristiwa, kejadian atau kegiatan dengan tujuan memberitakan atau menghibur.
Struktur teks :
* Orientation : Pendahuluan yaitu memberikan informasi orang atau benda yang melakukan atau yang terlibat di dalamnya, serta waktu, tempat, situasi, dan lain-lain;
* Event 1, Even 2… : Rangkaian peristiwa yang terjadi, yang biasanya disampaikan secara urut.
* Re-orientation : Kesimpulan dari rangkaian peristiwa yang terjadi. Reorientation tidak selalu ada pada teks recount.

5.REPORT
Teks Report memiliki kemiripan dengan teks deskriptif, teks report memberikan gambaran umum tentang sesuatu tidak mendetail seperti pada teks Deskriptif.
Tujuan Komunikatif: Menyampaikan informasi tentang sesuatu, apa adanya, sebagai hasil pengamatan sistematis atau analisis.
Stuktur Teks :
* General Classification : (klasifikasi umum, yaitu menggolongkan atau menentukan secara umum termasuk kepada golongan mana.
* Description : yaitu uraian deskripsi atau gambarannya bagia-bagian yang umum ada padanya, derajatnya, dam sifat-sifatnya. Biasanya berupa uraian umum.

Penjelasan + Contoh Narrative Text Terlengkap
Posted by Ahmad Fathoni

Penjelasan + Contoh Narrative Text – Semua orang pasti sering menceritakan kejadian yang dialaminya ke pada seseorang, baik teman, saudara, orang tua, dll. Nah, sebenarnya apa yang kita lakukan ketika menceritakan kejadian yang kita alami ke seseorang merupakan contoh aplikatif dari Narrative Text. Oleh karena itu semua orang pasti sudah tahu atau paling tidak pernah mendengar kata Narrative Text sebelumnya. Narrative Text merupakan jenis teks bahasa inggris yang sering muncul dan di ajarkan pada tingkat pendidikan SMP atau SMP. Tapi apa sih sebenarnya Narrative Text itu?

Untuk itu, pada kesempatan kali ini penulis mencoba hadirkan pengertian, tujuan komunikatif, struktur kebahasaan, ciri kebahasaan dan contoh dari Narrative Text. Semoga penjelasan di bawah ini bermanfaat. Terima kasih.

A. Pengertian Narrative Text

Narrative Text adalah satu dari 13 jenis teks bahasa inggris (genre) yang lahir dari kalangan Narration (lihat Types Of Text) sepertihalnya Recount Text, Anecdote Text, Spoof Text dan News Items Text yang mana berfungsi untuk menceritakan kisah masa lampau dan untuk hiburan.

B. Tujuan Komunikatif Narrative Text

Tujuan Komunikatif Narrative Text seperti yang dijelaskan di atas adalah untuk menghibur pendengar atau pembaca tentang suatu kisah atau cerita masa lampau yang bertalian dengan pengalaman nyata, khayal atau peristiwa-peristiwa pelik yang mengarah ke suatu krisis, yang pada akhirnya menemukan suatu penyelesaian.

C. Generic Structure Narrative Text

Setiap jenis teks bahasa Inggris (genre) memiliki struktur teksnya sendiri-sendiri. Struktur dari Narrative Text terdiri dari tiga bagian yaitu :

1. Orientation
Pada bagian Orientation atau pengenalan berisi tentang pengenalan tokoh dalam cerita serta waktu dan tempat kejadiannya.

2. Complication
Pada bagian Complication berisi tentang gambaran munculnya krisis atau masalah yang di alami oleh tokoh pada cerita tersebut yang harus dipecahkan.

3. Resolution
Pada bagian Resolution berisi tentang bagaiman tokoh dari cerita tersebut memecahkan masalah yang ada pada bagian Complication. Biasanya terdapat lebih dari satu Resolution untuk satu Complication.

Pada beberapa referensi tentang Narrative Text, terdapat tambahan generic structure pada Narrative Text, yaitu penambahan Coda setelah Resoultion. Jadi susunan Narrative text adalah Orientiation, Complication, Resolution dan Coda.

Coda adalah bagian terakhir dari structure Narrative Text yang berisi perubahan yang terjadi pada tokoh dan pelajaran yang dapat dipetik dari cerita tersebut.

D. Ciri Kebahasan Narrative Text

Pada Narrative Text, terdapat beberapa ciri-ciri antara lain sebagai berikut :
• Mengunakan Action Verb dalam bentuk Past Tense. Misalnya : Climbed, Turned, Brought, dsb.
• Menggunakan Nouns tertentu sebagai kata ganti orang, hewan dan benda tertentu dalam cerita. Misalnya : the king, the queen, dsb.
• Menggunakan Adjectives yang membentuk noun phrase. Misalnya : long black hair, two red apples, dsb.
• Menggunakan Time Connectives dan Conjunctions untuk mengurutkan kejadian-kejadian. Misalnya : then, before, after, soon, dsb.
• Menggunakan Adverbs dan Adverbial Phrase untuk menunjukkan lokasi kejadian atau peristiwa. Misalnya : here, in the mountain, happily ever after, dsb.
E. Contoh Narrative Text

Banyak sudah contoh mengenai Narrative Text yang telah dibuat , anda bisa melihatnya di Cerita Rakyat Bahasa Inggris Se-Dunia. Tapi untuk lebih afdolnya, penulis hadirkan contoh Narrative Text sebagai berikut beserta contohnya.

Snow White

Orientation

Once upon a time there lived a little girl named Snow White. She lived with her Aunt and Uncle because her parents were dead.

(Suatu ketika, hiduplah seorang gadis bernama Snow White. Dia tinggal bersama paman dan bibinya, karena orangtuanya telah meninggal.)

Complication 1

One day she heard her Uncle and Aunt talking about leaving Snow White in the castle because they both wanted to go to America and they didn’t have enough money to take Snow White.

Snow White did not want her Uncle and Aunt to do this so she decided it would be best if she ran away. The next morning she ran away from home when her Aunt and Uncle were having breakfast. She ran away into the woods.

(Suatu hari dia mendengar paman dan bibinya berbicara tentang rencana meninggalkan istana karena mereka berdua ingin pergi ke Ameria dan mereka tidak mempunyai cukup uang untuk membawa serta Snow White.)

(Snow White tidak ingin paman dan bibinya melakukan hal tersebut, sehingga dia memutuskan akan lebih baik jika dia pergi. Pagi harinya dia pergi dari rumah ketika paman dan bibi nya sedang sarapan. Dia lari ke dalam hutan.)

Resolution 1

Then she saw this little cottage. She knocked but no one answered so she went inside and fell asleep.

Meanwhile, the seven dwarfs were coming home from work. They went inside. There they found Snow White sleeping. Then Snow White woke up. She saw the dwarfs. The dwarfs said, “what is your name?” Snow White said, “My name is Snow White.”

Doc, one of the dwarfs, said, “If you wish, you may live here with us.” Snow White said, “Oh could I? Thank you.” Then Snow White told the dwarfs the whole story and finally Snow White and the 7 dwarfs lived happily ever after.

(Kemudian dia melihat gubuk kecil. Dia mengetuk pintu tetapi tidak ada yang menjawab sehingga dia masuk dan merasa ngantuk.)

(Sementara itu, tujuh kurcaci telah pulang dari pekerjaannya. Mereka masuk. Di sana mereka menemukan Snow White tertidur. Kemudian Snow White terbangun. Dia melihat kurcaci tersebut. Kurcaci tersebut berkata “Siapa nama kamu?” Snow White menjawab, “Nama saya Snow White.”)

(Doc, salah satu dari kurcaci tersebut berkata, “Jika kamu mau, kamu bisa tinggal di sini bersama kami.” Snow White berkata, “Oh, bolehkah? Terima kasih.” Kemudian Snow White menceritakan semua kisahnya dan akhirnya Snow White dan 7 kurcaci hidup bahagian selamanya.)
Teks Recount (Recount Text)
Posted by Ahmad Fathoni

Teks Recount (Recount Text) – Teks Recount adalah salah satu dari jenis teks bahasa Inggris yang menceritakan kembali kejadian-kejadian atau penglaman-pengalaman di masa lampau. Tujuan dari teks recount adalah untuk memberikan informasi atau untuk menghibur pembaca. Di dalam teks recount tidak terdapat komplikasi (complication) seprtihalnya di teks narrative.

Tujuan Komunikatif Teks Recount

Tujuan komunikatif teks recount adalah melaporkan presitiwa, kejadian atau kegiatan dengan tujuan memberitakan atau menghibut.

Generic structure Teks Recount

Orientation
Orientation atau pengenalan yaitu memberikan informasi tentang siapa, dimana, dan kapan peristiwa atau kegiatan itu terjadi di masa lampau.

Events
Events merupakan rekaman peristiwa yang terjadi, yang biasanya disampaikan dalam urutan kronologis, seperti “In the first day, I … . And in the next day … . And In the last day …” . Di bagian events ini juga biasanya terdapat komentar pribadi tentang peristiwa atau kejadian yang diceritakan.

Reorientation
Pada bagian reorientation, terdapat pengulangan pengenalan yang ada di orientation, pengulangan yang merangkum rentetan peristiwa, kejadian atau kegiatan yang diceritakan.

Contoh Recount Text

Our trip to the Blue Mountain

Orientation
On Friday we went to the Blue Mountains. We stayed at David and Della’s house. It has a big garden with lots of colourful flowers and a tennis court.

Events
On Saturday we saw the Three Sisters and went on the scenic railway. It was scary. Then, Mummy and I went shopping with Della. We went to some antique shops and I tried on some old hats. On Sunday we went on the Scenic Skyway and it rocked. We saw cockatoos having a shower.
Penjelasan + Contoh Procedure Text Terlengkap
Posted by Ahmad Fathoni

Penjelasan + Contoh Procedure Text Terlengkap – Pernahkah kalian memasak mie instant sendiri, apa langkah awalnya, rebus air hingga mendidih, masukan mie, tunggu hingga matang, tuang ke mangkuk, campurkan bumbu dan terakhir siap untuk disantap. Langkah-langkah atau instruksi dalam membuat atau mengoprasikan sesuatu yang sering kita lakukan sebenarnya merupakan salah satu contoh penerapan dari Procedure Text.

Pengertian Procedure Text
Apa itu Procedure Text? Procedure Text adalah salah satu jenis teks bahasa Inggris atau yang biasa disebut genre yang menunjukan sebuah proses dalam membuat atau mengoprasikan sesuatu yang berfungsi untuk menggambarkan bagaimana sesuatu dikerjakan melalui langkah-langkah yang teratur.

Tujuan Komunikatif Procedure Text
Tujuan Komunikatif dari Procedure Text adalaha memberikan petunjuk tentang cara melakukan sesuatu melalui tindakan-tindakan atau langkah-langkah yang urut.

Generic Sturcture Procedure Text

Generic Structure dari Procedure Text terdiri dari 3 bagian, yaitu:

1. Aim/ Goal
Pada generic sturcture bagian pertama dari Procdeure Text ini berisi informasi mengenai tujuan dalam pembuatan atau pengoprasian sesuatu.

2. Materials
Pada bagian ke-dua, Materials teridiri dari bahan-bahan yang digunakan dalam membuat sesuatu. Tapi tidak semua Procedure Text menyertakan bagian materials, adakalanya sebuah Procedure text tidak memiliki bagian materials.
Ada tiga jenis procedural text yang tidak menggunakan bagian materials, yaitu:
• Procedural text yang menjelasakan bagiamana sesuatu bekerja atau bagaimana cara melakukan instruksi secara manual. Contohnya : How to use the video game, the computer, the tape recorder, the fax, etc.
• Procedural text yang menginsturksikan bagaimana melakukan aktivitas-aktivitas tertentu dengan peraturanya. Contohnya : raod safety rules, video game rules, etc.
• Procedural text yang berhubungan dengan sifat atau kebaiasaan manusia. Contohnya How to live happily, How to secceed.
3. Steps
Pada bagian steps, berisi tentang langkah-langkah atau urutan-urutan yang harus dilakukan agar tujuan yang diuraikan pada baigan Aim/ Goal bisa tercapai. Langkah-langkah atau urutan-urutan tersebut haruslah urut dari yang pertama hingga terakhir.

Ciri Kebahasaan Procedure Text

Terdapat beberapa ciri kebahasaan dalam Procedure Text, diantaranya yaitu:
1. Mengguanakan pola kalimat imperative (Perintah), misalnya, Cut, Don’t mix, dsb.
2. Menggunakan action verbs, misalnya turn, put, don’t, mix, dsb.
3. Menggunakan connectives (kata penghubung) untuk mengurutkan kegiatan, misalnya then, while, dsb.
4. Menggunakan adverbials (kata keterangan) untuk menyatakan rinci waktu, tempat, cara yang akurat, misalnya for five minutes, 2 hours, dsb.
5. Menggunakan simple present.

Contoh Procedure Text
Di bawah ini penulis hadirkan dua contoh dari Procedure Text, baik yang menyertakan materials atau pun yang tidak. Chech this out.

1. Planting Chilies

Aim/ Goal
Planting is a nice activity in our spare time. The following is guided information on how to plant a chili-plant easily. Here are the steps.

Steps
Firstly, dry a handful seeding under the sunlight.
Secondly, put the seeding on the soil. It should be in open area
Next, wait it. There will come out the sprout after that let it be bigger.
Finally, put it in another big pot. It will soon grow bigger and bigger and yield us some fresh chilies soon.

2. How to Make a Cheese Omelet

Aim/ Goal
How to Make a Cheese Omelet

Materials
Ingredients
1 egg, 50 g cheese, ¼ cup milk, 3 tablespoons cooking, oil, a pinch of salt and pepper.
Utensils
Frying pan, fork, spatula, cheese grater, bowl, plate.

Steps
1. Crack an egg into a bowl
2. Whisk the egg with a fork until it is smooth
3. Add milk and whisk well
4. Grate the cheese into the bowl and stir
5. Heat the oil in a frying pan
6. Pour the mixture into the frying pan
7. Turn the omelet with a spatula when it browns
8. Cook both sides
9. Place on a plate; season with salt and pepper
10. Eat while warm.
Penjelasan Report Text Terlengkap
Posted by Ahmad Fathoni

Penjelasan Report Text Terlengkap – Sebelumnya apakah anda pernah mendengar apa iu Report Text? Report Text merupakan salah satu jenis teks bahasa Inggris yang tergolong ke dalam golongan Description (Lihat artikel Types of Text) yang fungsinya hampir sama dengan Descriptive Text.

Jika anda berfikir bahwa teks bahasa Inggris yang fungsinya mendeskripsikan sesuatu adalah hanya Descriptve Text, anda salah besar. Ada satu jenis teks bahasa Inggris yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu, yaitu Report Text. Tapi sebelum membahas terlalu jauh perbedaan antara Descriptive Text dengan Report Text, mari kita lihat pengertian dari Report Text berikut ini.

A. Pengertian Report Text

Report Text adalah salah satu dari ke-13 jenis teks bahasa Inggris (Types of Text) yang menghadirkan informasi tentang sesuatu seperti alam, hewan, tumbuhan, hasil karya manusia, dan fenomena sosial dengan apa adanya. Informasi yang dihadirkan dalam Report Text adalah hasil dari observasi dan analisis secara sistematis.

B. Tujuan Komunikatif Report Text

Tujuan komunikatif dari Report Text adalah menyampaikan informasi tentang sesuatu, apa adanya, sebagai hasil pengamatan sistematis atau analisis. Yang di deskripsikan dapat meliputi gejala alami, lingkungan, benda buatan manusia, atau gejala-gejala sosial. Deskripsi sebuah Report Text dapat berupa kesimpulan umum, misalnya, ikan paus termasuk binatang mamalia karena ikan tersebut melahirkan anaknya.

C. Struktur Teks/Generic structure Report Text

Dalam Report Text, terdapat struktur teks yang terdiri dari dua bagian, yaitu:

1. General Clasification
Pada bagian general clasification (klasifikasi umum) berisi pengenalan fenomena/ benda yang akan dibicarakan dengan menyertakan pernyataan umum yang menerangkan subjek laporan, keterangan, dan klasifikasi-nya.

2. Description
Pada bagian Description (gambaran) terdiri dari gambaran dari fenomena/ benda yang didiskusikan dari bagian ke bagiannya, kebiasaan atau tingkah laku untuk benda hidup, ataupun kegunaannya untuk benda secara detail.

D. Ciri Kebahasaan Report Text

Dalam sebuah Report Text terdapat beberapa ciri-ciri kebahasaan (language features) seperti berikut ini:
• Menggunakan general nouns, seperti ‘Reptiles in Comodo Insland’, dsb.
• Menggunakan relating verbs untuk menjelaskan ciri, misalnya reptiles are scaly animals (ciri ini berlaku untuk semua reptilia), dsb.
• Menggunakan action verbs dalam mejelaskan perilaku, misalnya lizards cannot fly, dsb.
• Menggunakan present tense untuk menyatakan suatu yang umum, misalnya Komodo dragons usually weight more than 160 kg, dsb.
• Mengguanakan istilah teknis/ ilmiah, misalnya water contains oxygen and hydrogen, dsb.

E. Perbedaan antara Descriptive Text dan Report Text

Beberapa jenis teks bahasa Inggris (Types of Text) cukup sulit untuk di bedakan. Sepertihalnya Descriptive Text dan Report Text yang mempunyai kesamaan dalam hal tujuan komunikatif (Social Function) dan sturktur kalimatnya (Generic Structure). Tetapi jika kita menganalisisnya dengan cermat, perbedaan antara ke-duanya akan nampak.

Tujuan dari kedua teks tersebut adalah untuk memberikan deskripsi langsung mengenai objek. Antara Descriptive Text dan Report Text lebih mencoba untuk menunjukan dari pada memberitahu pembaca tentang kondisi fakta dari objek tersebut. Pembaca dengan sendirinya akan menangkap point yang mengesankan dari objek tersebut melalui penunjukan gaya penulisan. Yang membuat berbeda antara Descriptive Text dan Report Text adalah pada cakupan penulisan objek. Jika kita berbicara tentang misalkan sepeda yang di tulis dalam bentuk Report Text, teks tersebut akan berbicara mengenai sepeda secara umum; bagian-bagiannya, kekuatannya, dan fungsinya secara umum selayaknya sepeda. Sedangkan jika sepeda dideskripsikan dengan Descriptive Text, maka sepeda tersebut merujuk ke jenis speda tertentu misalnya sepeda gunung, sepeda balap dan yang lainnya, yang tentunya dengan ciri-ciri sertifikasi-nya; warna, jenis roda, warna, dll.

Singkatnya, Report Text mendeskripsikan sesuatu yang biasanya merujuk kepada gejala-gejala alam, hewan, dan benda ilmiah. Report Text ditulis setelah mendapatkan obeservasi secara cermat. Hal ilmiah dan teknikal inilah yang membuat perbedaan yang jelas dari Descriptive Text.

F. Contoh Report Text

Untuk mempermudah pemahaman anda mengenai penjelasan penulis tentang Report Text di atas, penulis juga sertakan contoh Report Text di bawah ini beserta terjemahannya:

THE PELICAN REPORT

General Clasification
The white pelican is one of the most successful fish-eating birds.

(Pelican putih adalah salah satu burung pemakan ikan paling berhasil.)

Description
The success is largely due to its command hunting behaviour. A group, perhaps two dozen birds, will gather in a curved arc some distance offshore. The birds then begin to move forward towards the shore, beating the water furiously with their wings, driving the fish before them.

(Keberhasilan ini terutama disebabkan oleh perintah perilaku berburu mereka. Sebuah kelompok, mungkin terdiri dari dua lusin burung, akan berkumpul membentuk busur melengkung beberapa jarak dari lepas pantai. Burung-burung tersebut kemudian mulai bergerak maju menuju pantai, mengalahkan air laut yang ganas dengan sayap mereka, mengarahkan ikan di depan mereka.)

When the water is shallow enough for the birds to reach the fish, the formation breaks up as each bird dips its bill into the water to scoop up its meal. As the bird lifts its head, the water drains from its bill leaving the fish which are then swallowed. Pelicans are among the oldest group of birds, Fossils of this genus have been found dating back 40 million years.

(Ketika air cukup dangkal untuk burung untuk mencapai ikan, formasi memecah karena setiap burung menurunkan paruhnya ke dalam air untuk meraup makanannya. Keika burung tersebut mengangkat kepalanya, air mengalir dari paruhnya yang hanya meninggalkan ikan yang kemudian ditelannya. Pelikan adalah salah satu kelompok burung tertua, fosil dari genus ini telah ditemukan sejak 40 juta tahun yang lalu.)
eks Analytical Exposition
Posted by Ahmad Fathoni

Teks Analytical Exposition (Analytical Exposition Text) – Analytical Exposition adalah jenis teks yang termasuk keadalam jenis Argumentation Text dimana teks tersebut berisi tentang pemikiran terperinci penulis tentang sebuah penomena yang ada di sekitar. Fungsi sosial dari teks Analytical Exposition adalah untuk meyakinkan pembaca bahwa topik yang dihadirkan adalah topik yang penting untuk dibahas atau mendapat perhatian dengan cara pemberian argument-argument atau pendapat-pendapat yang mendukung main idea atau topik tersebut.

Generic Structure Analytical Exposition

Generic Structure teks Analytical Exposition terdiri dari tiga bagian yaitu:

1. Thesis
Dalam bagian Thesis, penulis mengenalkan tentang topik atau main idea yang akan dibahas. Thesis selalu berada di paragraph pertama dalam teks Analytical Exposition.

2. Argument
Dalam bagian ini penulis menghadirkan argumen-argumen atau pendapat-pendapat yang mendukung main idea penulis, biasanya dalam sebuah teks Analytical Exposition terdapat lebih dari dua argumen. Semakin banyak argumen yang ditampilkan semakin percaya pembaca bahwa topik yang dibahas oleh penulis adalah topik yang sangat penting atau membutuhkan perhatian.

3. Reiteration
Bagian ini merupakan bagian penutup dari sebuah teks Analytical Exposition yang selalu terletak di akhir paragraph. Reiteration berisi penulisan kembali atau penempatan kembali main idea yang terdapat di paragraph pertama. Reiteration juga biasa disebut dengan conclusion.

Language Features Analytical Exposition
Dalam sebuah Analytical Exposition Text, terdapat beberapa ciri-ciri kebahasaan seperti di bawah ini, yaitu:
• Menggunakan simple present
• Mengunakan reltional process
• Menggunakan internal conjunction
• Menggunakan casual conjuction
Contoh Analytical Exposition Text

Untuk melengkapi dan memperkuat pemahaman anda mengenai Analytical Exposition Text, sengaja penulis sertakan contoh analytical exposition berikut ini.

Cars should be banned

Thesis
Cars should be banned in the city. As we all know, cars create pollution, and cause a lot of road deaths and other accidents.

Argument 1
Firstly, cars, as we all know, contribution to the most of the pollution in the world. Cars emit a deadly gas that causes illness such as bronchritis, lung cancer, and ‘triggers’ off asthma. Some of these illnesses are so bad that people can die from them.

Argument 2
secondly, the city is very busy. Pedestrians wander everywhere and cars commonly hit pedestrains in the city, which causes them to die. Cars today are our roads biggest killers.

Argument 3
Thirdly, cars are very noisy. If you live in the city, you may find it hard to sleep at night, or concentrate on your homework, and especially talk to someone.

Reiteration
in conclusion, cars should be benned from the city for the reason listed.
Teks Hortatory Exposition
Posted by Ahmad Fathoni

Teks Hortatory Exposition (Hortatory Exposition Text) – Seperti halnya Analytical Exposition, Hortatory Exposition adalah types of English text yang tergolong ke dalam kelas Argumentation. Hortatory Exposition adalah sebuah jenis text Bahasa Inggris yang mana menghadirkan usaha penulis mempengaruhi pembaca untuk melakukan sesuatu atau bertidak dalam hal tertentu. Dalam text Hortatory Exposition, penulis mencatumkan beberapa arguments atau pendapat mengenai hal tertentu untuk memperkuat ide pokok atau main idea dari teks tersebut.

Berbeda dengan Analytical Exposition, Hortatory Exposition menghadirkan Recomendation sebagai paragraph pentutup dari sebuah teks Hortatory Exposition. Dalam Recommendarion ini, penulis berusaha mengajak dan membujuk pembaca untuk melakukan sesuatu. Hal ini jauh berbeda dengan Analytical Exposition yang mana menempatkan Reiteration atau penulisan kembali ide pokok sebuah teks sebagai penutup tanpa adanya ajakan atau bujuakan kepada pembaca.

Generic Structure dari teks Hortatory Exposition

Ada tiga bagian dari struktur atau pola kalimat dalam teks hortatory exposition, yaitu:

1. Thesis
Thesis berisi tentang pengenalan main idea atau ide pokok penulis tentang suatu gejala atau penomena yang akan diangkat atau dibahas.

2. Arguments
Arguments berisi tentang pendapat-pendapat yang mendukung main idea atau ide pokok penulis. Semakin banyak pendapat yang penulis tuliskan, semakin menarik sebuah teks Hortatory Exposition itu, karena pembaca cenderung percaya terhadap suatu peristiwa jika terdapat banyak pendapat yang mendukung di dalamnya.

3. Recommendation
Recommendation berisi tentang rekomendasi atau ajakan penulis terhadap pembaca.

Language Features dari teks Hortatory Exposition

Di bawah ini adalah ciri kebahasaan yang terdapat pada teks hortatory exposition, yaitu:
• Menggunakan simple present tense
• Menggunakan temporal conectives; firstly, secondly, thirdly, etc.
• Menggunakan evaluative words; importanly, valuablly, trustworthly, etc.
Contoh dari teks Hortatory Exposition

Di bawah ini, penulis sertakan contoh hortatory exposition untuk memahami penjelasan di atas.

Corruption

Thesis
Do you know what the meaning of corruption is? What is the relation between money and corruption? Well, corruption is common everywhere in the world, even in the United States. It’s just a matter of intensity. However, it is quite shocking when one reliable survey claims Jakarta as the most corrupt place in Indonesia.

Argument 1
The survey has made me sad, actually, because I stay and earn a living here in the capital. As most people know, Tanjung Priok port smuggling is not a new thing at all. Entrepreneurs who want to minimize their tax payments tend to do such a thing more often. They even bribe the officials.

Argument 2
Well, I think the measures taken so far to overcome the problem by punishing the corruptors is still not far enough. We have to prevent the younger generations from getting a bad mentality caused by corruption.

Recommendation
I believe we should start at the earliest stages in school and I think everyone should be involved in the effort to eradicate corruption. We must not make any distinction.
Adapted from: The Jakarta Post, February 2005
Teks Explanation (Explanation Text)
Posted by Ahmad Fathoni

Explanation text (teks explanation) adalah sebuah teks yang berisi tentang proses-proses yang berhubungan dengan fenomena-fenomena alam, soisal, ilmu pengetahuan, budaya dan lainnya. Sebuah Explanation text biasanya berasal dari pertanyaan penulis terkait ‘why’ dan ‘how’ terhadap suatu fenomena yang ada.

Tujuan Komunikatif Explanation Text

Tujuan komunikatif dari Explanation text adalah untuk menerangkan proses-proses yang terjadi dalam pembentukan atau kegiatan yang terkait dengan fenomena-fenomena alam, sosial, ilmu pengetahuan, budaya, dan lainnya yang bertujuan menjelaskan.

Generic Structur Explanation Text

Terdapat tiga bagian dalam struktur kalimat Explanation Text, yaitu:

1. A general statement
Dalam general statement berisi tentang penjelasan umum tentang fenomena yang akan dibahas, bisa berupa pengenalan fenomena tersebut atau penjelasannya.

2. A squenced of explanation
A squenced of explanation berisi tentang penjelasan proses mengapa fenomena tersebut bisa terjadi atau tercipta. A squenced of explanation berupa jawaban dari pertanyaan ‘why’ dan ‘how’ penulis ketika membuat sebuah Explanation text. Dalam squenced of explanation bisa terdiri lebih dari satu paragrap.

3. Closing
Sebenarnya closing itu tidak tercantum dalam generic structure dari Explanation text, tetapi kebanyakan orang beranggapan bahwa paragrap terakhir dari sebuah Explanation text adalah closing, padahal itu merupakan bagian dari squenced of explantaion yang berisi tentang langkah akhir yang dijelaskan pada bagian squenced of explanation.

Language features Explanation Text

Dalam sebuah explanation text, terdapat ciri-ciri kebahasaan seperti di bawah ini, yaitu:
• Menggunakan simpel present tense
• Mengguankan abstract noun (kata benda yang nampak)
• Mengguanakan Passive voice
• Menggunakan Action verbs

Contoh Explanation Text

Untuk menambah pemahaman anda mengenai penjelasan Explanation Text di atas, penulis sertakan juga contoh explanation text berikut ini:

Making Paper from Woodchips

General statement
Woodchipping is a process used to obtain pulp and paper products from forest trees. The woodchipping process begins when the trees are cut down in a selected area of the forest called a coupe.

Squence of explanation
Next the tops and branches of the trees are cut out and then the logs are taken to the mill. At the mill the bark of the logs is removed and the logs are taken to a chipper which cuts them into small pieces called woodchips. The woodchips are then screened to remove dirt and other impurities. At this stage they are either exported in this form or changed into pulp by chemicals and heat. The pulp is then bleached and the water content is removed.

Closing
Finally the pulp is rolled out to make paper.
Teks Descriptive (Descriptive Text)
Posted by Ahmad Fathoni

Teks Descriptive (Descriptive Text) – Seperti apakah muka mu? Hidung mancung, mata sipit, bibir tipis, rambut lurus, pipi chuby? Pasti semua orang pernah menggambarkan kenampakan sesuatu, baik itu orang, benda, hewan, tumbuhan atau pun tempat. Descriptive Text merupakan salah satu dari 13 jenis teks bahasa Inggris (Types of Text) yang secara umum menggambarkan suatu objek.

Tetapi berbeda dengan Report Text yeng memberikan penggambaran mengenai benda, hewan, tumbuhan atau pun tempat berdasarkan riset yang mendalam. Descriptive Text hanya memberikan penggambaran mengenia benda, hewan, tumbuhan atau pun tempat berdasrakan pengetahuan si penulis saja. Untuk lebih jelasnya lihat penjelsaan dari Descriptive Text di bawah ini. Semoga bermanfaat.

A. Pengertian Descriptive Text

Descriptive Text merupakan jenis teks yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari dalam menggambarkan benda, tempat, manusia, hewan dan lain sebagainya. Descriptive Text adalah sebuah teks bahasa Inggris untuk mengggmbarkan seperti apa benda atau mahluk hidup yang kita deskripsikan, baik secara kenampakan, bau, suara, atau tekstur dari benda atau makhluk hidup tersebut.

B. Tujuan Komunikatif Descriptive Text

Tujan Komunikatif dari Descriptive Text adalah untuk menggambarkan dan mengungkapkan ciri-ciri dari benda, tempat, atau mahluk tertentu secara terperinci, sehingga orang yang mendengar atau membaca gambaran yang kita berikan dapat mengetahui dan bisa membayangkan seperti apa benda, tempat atau mahluk hidup yang kita diskripsikan.
C. Generic Structure Descriptive Text

Di setiap Descriptive Text terdapat dua bagian yang menjadi ciri dari Descriptive Text itu sendiri. Kedua bagian tersebut adalah:

1. Identification
Idnetification adalah bagian dari Descriptive Text yang berisi tentang topik atau “apa” yang akan digambarkan atau dideskripsikan.

2. Description
Description adalah bagian terakhir dari Descriptive Text yang berisi tentang pembahasan atau penggambaran tentang topik atau “apa” yang ada di Identification mengenai kenampakan fisik, kualitas, perilaku umum maupun sifat-sifatnya.

D. Ciri Kebahasan Descriptive Text

1. Descriptive Text menggunakan Present Tense, misalnya: go, eat, fly, etc.

2. Descriptive Text menggunakan berbagaimacam Adjectives (kata sifat) yang bersifat Describing (mengambarkan), Numbering (Menomerkan), dan Classifying (mengklasifikasikan), misalnya: two strong legs, sharp white fangs, etc.

3. Descriptive Text menggunakan Relating Verbs untuk memberikan informasi tentang subjek, misalnya: my mum is realy cool, it has very thick fur, etc.

4. Descriptive Text menggunakan Thinking Verbs (kata kerja berfikir, seperti belive, think, etc.) dan Feeling Verbs (kata kerja perasa, seperti feel)untuk mengungkapkan pandangan pribadi penulis tentang subjek, misalnya: police believe the suspect is armed, I think it is a clever animal, etc.

5. Descriptive Text juga menggunakan Adverbs (kata keterangan) untuk memberikan informasi tambahan mengenai perilaku atau sifat (Adjective) yang dijelaskan, misalnya: it is extremely high, it runs definitely past, etc.

E. Contoh Teks Discriptive

Di bawah ini juga penulis juga sertakan Contoh Desctiptive Text yang tentunya diharpkan membantu pemahaman pembaca mengenai penjelasan Descriptive Text di atas. Di sertakan pula terjemahaanya.

MacQuarie University

Identification
Macquarie University is one of the largest universities in Australia. This year, in 2004, it celebrates its 40th anniversary.

(Macquarie University adalah salah satu universitas terbesar di Australia. Tahun ini, pada tahun 2004, merayakan ulang tahun ke-40 nya.)

Description
The university is located at the North Ryde Greenbelt, Sydney, where the New South Wales government sets aside 135 hectares for the institution. In 1964, Macquarie area was a rural retreat on the city fringe, but today the campus and its surroundings have evolved beyond recognition. The North Ryde District has grown into a district of intensive occupation anchored by a vibrant and growing university.

(Universitas ini terletak di North Ryde Greenbelt, Sydney, di mana pemerintah New South Wales menyisihkan 135 hektar bagi lembaga univeristas tersebut. Pada tahun 1964, daerah Macquarie merupakan retret pedesaan di pinggiran kota, tapi hari ini kampus dan sekitarnya telah berkembang di luar harapan. Distrik North Ryde telah tumbuh menjadi sebuah distrik kependudukan yang intensif yang tumbuh dari perkembangan dan dinamisme universitas.)

Blessed with a fortunate location and room to breathe, Macquarie can be proud of that careful planning that retains and enrich the university’s most attractive natural features. A pleasing balance between buildings and plating is evident across the campus. This emphasis on the importance of landscape has created images of Macquarie as a place that members of the university are most likely to pleasurably recollect.

(Diberkahi dengan lokasi yang menguntungkan dan adanya ruang terbuka untuk bernapas, Macquarie bisa bangga dengan perencanaan yang matang tersebut yang dipertahankan dan memperkaya ciri khas alami yang paling menarik dari universitas tersebut. Keseimbangan yang menyenangkan antara bangunan dan hiasan jelas di kampus. Penekanan pada pentingnya lanskap telah menciptakan gambar Macquarie sebagai tempat bahwa anggota universitas akan sangat mungkin mendapatkan kesenangan)

One of the highlights of the landscape is the Mars Creek zone. It comprises landscaped creek sides and valley floor, a grass amphitheatre, and artificial lake surrounded by rocks and pebbles, native plants and eucalypts.

(Salah satu yang menarik dari lanskap adalah Mars Creek zona. Ini terdiri dari sisi taman sungai dan dasar lembah, sebuah amphitheater rumput, dan danau buatan yang dikelilingi oleh batu dan kerikil, tanaman asli dan pohon eukaliptus.)

Today, a railway station is under construction. In three years1 time, Macquarie will be the only university in Australia with a railway station on site. Macquarie is poised to be the most readily accessible in Sydney region by rail and motorway, yet retaining its beautiful site.

(Hari ini, sebuah stasiun kereta api sedang dibangun. Dalam waktu tiga tahun, Macquarie akan menjadi satu-satunya universitas di Australia dengan stasiun kereta api di sekitar lokasinya. Macquarie siap untuk menjadi univeristas yang paling mudah diakses di wilayah Sydney oleh kereta api dan jalan tol, namun tetap mempertahankan lokasi yang indah.)

Untuk menambah pemahaman mengenai Descriptive Text, lihatlah Contoh Teks Descriptive yang lain.
Teks Discussion (Discussion Text)
Posted by Ahmad Fathoni

Teks Discussion (Discussion Text) – Discussion adalah sebuah proses mencari titik temu antara dua pemikiran, pandangan atau pendapat yang berbeda. Discussion bisa di definisikan sebagai sebuah teks yang berisi tentang sebuah wacana yang bermasalah. wacana yang bermasalah ini adalah wacana yang memiliki dua kubu antara Pro dan Contra, antara pendukung issue dan penentang issue. Masalah yang dihadirkan dalam teks Discussion nantinya akan didiskusikan berdasarkan dua poin of tersebut, Pro dan Contra.

Tujuan Komunikarif Discussion Text
Tujuan komunikatif dari teks Discussion itu sendiri adalah unutk mengetengahkan suatu masalah atau issue yang ditinjau paling tidak dari dua sudut pandang, sebelum sampai pada suatu kesimpulan atau rekomendasi.

Generic Sturcture
Dalam Discussion text, terdapat empat stuktur kalimat pada discussion text sebagai bahan pembentuk teksnya, yaitu:

1. Issue
Issue terletak di paragraph pertama yang berisi penempatan masalah atau issue yang akan didiskusikan.

2. Supporting Points
Dalam bagian ini, penulis menghadirkan pendapat yang mendukung issue. Di setiap paragraph supporting point terdiri dari dua komponen dianataranya adalah main idea dan elaborasi atau uraian dari main idea tersebut.

3.Contrasting Points
Dalam bagian ini, penulis menghadirakan pendapat yang menentang issue. Seperti dalam paragraph supportin point, contrasting points juga menghadirkan dua komponen pembentuk yaitu main idea dan elaborasi atau uraian ari main idea tersebut.

4. Conclunlusion or Recomendation
dalam bagian ini penulis menghadirakan kesimpulan atau juga bisa rekomendari dari issue yang telah didiskusikan.

Language Features Discussion Text
Di dalam membuat teks Discussion, penulis harus memperhatikan penggunaan bahasa yang biasa diterapkan, seperti:
• Menggunakan simpel present tense
• Menggunakan modalites, seperti must, should, would, may, etc.
• Menggunakan additive, contrastive, dan casual connection, seperti similiary, however, furthemore, on the other hand, etc.
Contoh Discussion Text

Untuk menambah dan melengkapi penjelasan di atas tentang Discussion Text, sengaja penulis sertakan contoh discussion text berikut ini.

The Advantage and Disadvantage of Nuclear Power

Issue
Nuclear power is generated by using uranium which is a metal mined in various part of the world. The first large scale of nuclear power station was opened at Calder Hall in Cumbria, England in 1956.

Supporting Point
Some military ships and submarines have nuclear power plant for engine. Nuclear power produces around 11% of the world’s energy needed, and produces huge amounts of energy. It cause no pollution as we would get when burning fossil fuels. The advantages of nuclear plant are as follow:
• It costs about the same coal, so it is not expansive to make.
• It does not produce smoke or carbon dioxide, so it does not contribute to the greenhouse effect.
• It produces huge amounts of energy from small amount of uranium.
• It produces small amount of waste.
• It is reliable.
Contrasting Point
On the other hand, nuclear power is very, very dangerous. It must be sealed up and buried for many years to allow the radioactivity to die away. Furthermore, although it is reliable, a lot of money has to be spent on safety because if it does go wrong, a nuclear accident ca be a major accident.

Conclusion or Recomendation
People are increasingly concerned about this matter. In the 1990’s nuclear power was the fastest growing source of power in many parts of the world.
Penjelasan News Item Text Terlengkap
Posted by Ahmad Fathoni

Penjelasan News Item Text Terlengkap – Bagi anda yang akrab dengan salah satu media informasi yang bernama koran, pastinya tidak begitu asing dengan salah satu dari jenis teks bahasa Inggris (Types of Text), News Item Text. Walaupun anda tidak tahu tentang istilah News Item Text itu sendiri, tapi penulis yakin anda pasti mengerti tentang apa itu News Item Text karena sebagian besar informasi yang ditulis dalam koran memiliki ciri-ciri yang sama.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis akan menghadirkan penjelasan News Item Text secara lengkap dari mulai pengertian, tujuan komunikatif, struktur kebahasaan, ciri kebahasaan dan juga contohnya. Semoga bermanfaat.

A. Pengertian News Item Text

News Items Text adalah salah satu (Types Of Text) yang memberi informasi kepada pembaca mengenai kejadian-kejadian yang terjadi sehari-hari. Kejadian-kejadian tersebut yang disampaikan kepada pembaca adalah kejadian yang dianggap penting, hangat dan patut dijadikan berita.

B. Tujuan Komunikatif News Item Text

Tujuan komunikatif dari News Items Text adalah memberitakan kepada pembaca, pendengar atau penonton tentang peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang dipandang penting atau layak diberitakan.

C. Generic Structure News Item Text

Pada teks bahasa Inggris yang berjenis News Item Text, terdapat tiga bagian dalam setiap struktur kebahasaannya, yaitu:

1. Newsworthy Event
Bagian pertama dari struktur kebahasaan News Item Text yang sering disebut Main Event adalah bagian yang menceritakan atau berisi berita tentang peristiwa atau kejadian inti yang biasanya dalam bentuk ringkasan atau Summary.

2. Backgroud Event
Bagian kedua dari struktur kebahasaan News Item Text atau yang sering disebut juga dengan Elaboration adalah bagian yang menceritakan atau berisi tentang latar belakang peristiwa atau kejadian, siapa yang terlibat dan di mana tempat kejadiannya.

3. Source
Bagian terakhir dari struktur kebahasaan News Item Text adalah bagian yang menceritakan atau berisi tentang komentar, saksi kejadian, pendapat para ahli, dsb. mengenai peristiwa atau kejadian yang diberitakan.

D. Ciri Kebahasaan News Item Text

Di setiap teks bahasa Inggris yang berjenis News Item Text, terdapat ciri-ciri kebahasaan seperti berikut ini:
• Informasi singkat tertuang dalam headline
• Memfokuskan pada kejadian
• Menggunakan action verb
• Menggunakan material process
E. Contoh News Item Text

Di bawah ini penulis sertakan contoh News Item Text untuk menambah pemahaman anda mengenai penjelasan News Item Text di atas.

Seven Killed in Accident on Jalan Sultan

Newsworthy Event
Seven people were killed in a collision between a bus, a car and a truck at 10:35 p.m. on Jalan Sultan last night.

Backgroud Event
The dead were all passengers in the car. Police believe the car may have been trying to overtake the bus when it was struck by a truck coming from the opposite direction. The driver of the car may not have been using his lights, as the truck driver said he did not see the car approaching.

Sources
The police said the car should not have been trying to pass the bus, since overtaking is not allowed on Jalan Sultan. In addition, the police reported that the car–a small Japanese car–should not have been carrying more than five people. The names of the victims are not yet known.
Anecdote Text, Penjelasan + Contoh Lengkap
Posted by Ahmad Fathoni

Anecdote Text, Penjelasan + Contoh Lengkap – Pernahkah mengalami kejadian ganjil atau tidak biasa? Dan pernah menceritakan kejadian ganjil atau kejadian tidak biasa tersebut ke orang lain. Kalau anda pernah menceritakan kejadian tersebut, pastinya akan sangat mudah memahami apa itu Anecdote Text. Untuk itu, pada kesempatan kali ini penulis mencoba menghadirkan penjelasan dan contoh Anecdote Text untuk anda.

A. Pengertian Anecdote Text

Anecdote Text merupakan salah satu jenis teks bahasa Inggris dari kalangan Narration (lihat artikel Types of Text) yang mana menceritakan kembali kejadian ganjil atau kejadian yang tidak biasa baik fakta maupun imajinasi.

B. Tujuan Komunikatif Anecdote Text

Sebenarnya dari pengertian Anecdote Text tersebut di atas kita bisa menyimpulkan tujuan komunikatif dari Anecdote Text yaitu menceritakan kembali kejadian ganjil atau kejadian yang tidak biasa yang ditujukan untuk menghibur pembaca.

C. Generic Structure Anecdote Text

Terdapat 4 struktur kebahasaan (Generic Structure) dari Anecdote Text, yaitu:

1. Abstract
Struktur kebahasaan yang pertama dari Anecdote Text yaitu Abstract. Pada bagian Abstract, biasanya penulis mulai mengenalkan kejadian ganjil atau tidak biasa apa yang akan diceritakanya. Terdapat beberapa Abstract dari Anecdote Text diawali dengan penggunaan kalimat tanya, tetapi tidak semua Abstract dari Anecdote Text menggunakan kalimat tanya.

2. Orienation
Struktur kebahasaan yang kedua dari Anecdote Text yaitu Orientation. Seperti halnya di Narrative Text, Orientation di Anecdote Text juga menceritakan siapa, kapan, dan di mana kejadian ganjil atau kejadian tidak biasa tersebut terjadi.

3. Crisis
Struktur kebahasaan yang ketiga dari Anecdote Text yaitu Crisis. Pada bagian ini menceritakan kejadian ganjil atau kejadian tidak biasa tersebut terjadi. Penulis menceritakan kejadian tersebut dengan detail.

4. Reaction/ Incident
Struktur kebahasaan yang terakhir dari Anecdote Text yaitu Coda. Pada bagian Coda, penulis menceritakan bagaimana subjek cerita (pelaku) memecahkan masalahnya dan akhir dari kejadian ganjil atau tidak biasa tersebut.

D. Ciri kebahasaan Anecdote Text

Setiap jenis teks bahasa Inggris memiliki ciri kebahasaan tertentu selain bisa dilihat dari struktur kebahasaanya (Generic Structure). Di bawah ini adalah beberapa ciri kebahasaan yang biasanya ditemukan di setiap Anecdote Text:

1. Menggunakan past tense (Waktu lampau), seperti: I found it last night.
2. Menggunakan rhetoric question (pertanyaan retorika), seperti: Do you know what?
3. Menggunakan conjuction of time (kata sambung waktu), seperti: then, afterward, etc.
4. Menggunakan action verb (kata kerja aksi), seperti: went, writed, etc.
5. Menggunakan imperative sentece (kalimat perintah), seperti: listen to this.
6. Menggunakan exclamation sentence (kalimat seru), seperti: it’s awful, it’s wonderful, etc.

E. Contoh Anecdote Text

Snake in the Bath

Abstract
How would you like to find a snake in your bath? A nasty one too!

Orientation
We had just moved into a new house, which had been empty for so long that everything was in a terrible mess. Anna and I decided we would clean the bath first, so we set to, and turned on the tap.

Crisis
Suddenly to my horror, a snake’s head appeared in the plug-hole. Then out slithered the rest of his long thin body. He twisted and turned on the slippery bottom of the bath, spitting and hissing at us.

Reaction/Incident
For an instant I stood there quite paralysed. Then I yelled for my husband, who luckily came running and killed the snake with the handle of a broom. Anna, who was only three at the time, was quite interested in the whole business. Indeed I had to pull her out of the way or she’d probably have leant over the bath to get a better look!

Coda
Ever since then I’ve always put the plug in firmly before running the bath water.
Spoof Text, Penjelasan + Contoh Lengkap
Posted by Ahmad Fathoni

Spoof Text, Penjelasan + Contoh Lengkap – Pernahkah kalian melihat salah satu program komedi, Seketsa? Pastinya kalian tidak asing kan. Jalan cerita di Seketsa itu lah yang dinamakan Spoof Text. Awal cerita dimulai dengan adegan atau kejadian yang biasa kemudian menjelang akhir ada adegan atau kejadian yang tidak dikira yang membuat cerita tersebut lucu.

Untuk melengkapi penjelasan mengenai Jenis Teks Bahasa Inggris (Types of Text), pada kesempatan kali ini penulis hadirkan penjelasan dan contoh Spoof Text lengkap.

A. Pengertian Spoof Text

Selain Narrative Text, Recount Text, dan Anecdote Text, Spoof Text juga termasuk ke dalam golongan Narration (lihat Jenis Teks Bahasa Inggris, Types of Text), yang tentunya menceritakan kejadian di masa lampau dengan akhir yang lucu dan tidak disangka-sangka.

B. Tujuan Komunikatif Spoof Text

Tentunya semua jenis teks yang tergolong Narration memiliki tujuan komunikatif yang sama, begitu juga pada Spoof Text, yaitu untuk menghibur pembaca atau pendengar dari cerita yang dibacakan.

C. Struktur Kebahasaan Spoof Text

Terdapat tiga jenis struktur kebahasaan yang dimiliki oleh Spoof Text, yaitu:

1. Orientation

Seperti halnya jenis teks Narration yang lain, selalu diawali dengan orientation. Orientation adalah bagian di mana penulis memulai memperkenalkan cerita.

2. Events

Sedangkan pada bagian Events yaitu bagian di mana penulis menceritakan kejadian-kejadian dalam cerita tersebut tetapi kejadian yang diceritakan masih kejadian yang wajar.

3. Twist

Dan bagian dari Spoof Text yang terakhir adalah Twist. Twist merupakan bagian teks yang mana menceritakan kebalikan dari kejadian-kejadian wajar di bagian Events. Twist merupakan bagian akhir dari Spoof Text yang menceritakan kejadian akhir lucu dan tidak disangka-sangka sebelumnya.

D. Ciri Kebahasaan Spoof Text

Terdapat beberapa ciri kebahasaan Spoof Text yang bisa membedakan dengan Jenis Teks Bahasa Inggris (Types of Text) yang lainnya, yaitu:

1. Menggunakan Past Tense; was, were, did, etc.

2. Menggunakan kata kerja aksi (action verb); did, went, walked, etc.

3. Menggunakan kata keterangan waktu dan kata keterangan tempat.

4. Diceritakan secara kronologis.

E. Contoh Spoof Text

Penguin in the Park

1. Orientation

Once a man was walking in a park when he come across a penguin.

(Suatu ketika ada seorang pria sedang berjalan di sebuah taman ketika dia melihat seekor pinguin melintas.)

2. Event

He took him to a policeman and said, “I have just found this penguin. What should I do?” The policeman replied, “take him to the zoo”.

The next day the policeman saw the same man in the same park and the man still carrying the penguin with him. The policeman was rather supriseed and walked up to the man and asked “why are you still carrying that penguin about? Didn’t you take it to the zoo?”

(Dia membawanya ke seorang polisi dan berkata, “saya baru saja menemukan pinguin ini. Apa yang harus saya lakukan?” Polisi tersebut menjawab, “bawa ke kebun binatang”.)

(Hari berikutnya polisi tersebut melihat pria yang sama di taman yang sama dan pria tersebut masih membawa pinguin bersamanya. Polisi tersebut terkejut dan menghampirinya serta bertanya “mengapa kamu masih membawa pinguin itu? Bukannya kamu membanya ke kebun binatang?”)

3. Twist

“I certainly did” replied the man.

“And it was a great idea because he really enjoyed it, so today I am taking him to the moviest, and the next day I’ll take it to the beach. It’ll be so much fun” said the man.

(“Saya melakukannya” jawab pria tersebut.)

(“Dan itu merupakan sebuah ide yang bagus karena pinguin tersebut menikmatinya, jadi hari ini saya akan membawanya ke bioskop, dan besok saya akan membawanya ke pantai. Itu kan sangat menyenangkan” kata pria tersebut.)

Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006 59

Standard

Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006 59
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran
Peran Guru dalam Membangun
Kesadaran Kritis Siswa

*) Kepala Jenjang SMAK BPK PENABUR Jakarta
Opini
al yang sangat sering kita dengar dalam
dekade terakhir ini adalah menurunnya
mutu pendidikan, darimana masyarakat
menilai? Apa yang diamati oleh
masyarakat adalah anak sekarang tidak dapat
memahami hal-hal yang sederhana yang terjadi
di sekelilingnya baik dalam fungsi hitungmenghitung,
fungsi sosial, maupun perilaku dan
moral mereka. Mereka lebih senang tawuran
daripada belajar padahal mereka diberi pelajaran
Pendidikan Moral Pancasila yang sarat dengan
nilai-nilai moral dan etika selama bertahun-tahun,
mereka lebih senang membuat gaduh dan tidak
tertib daripada berkreasi, mereka cenderung
menginginkan segala sesuatu yang instan tanpa
mau bersusah payah dan berpikir keras, inisiatif
serta kreativitas mereka terbatas. Dimana letak
kesalahan pendidikan kita? Siapa yang salah?
Para siswa, orang tua, pendidik, sistem
pendidikan kita atau Pemerintah sebagai
pengambil kebijakan?
Sistem pendidikan kita membatasi setiap ruang
gerak anak. Anak tidak mempunyai kebebasan
untuk mengungkapkan apa saja yang menjadi
buah pemikirannya. Mereka “ditakdirkan” hanya
cukup menerima pemberian guru. Sebab jargon
yang mengatakan bahwa “guru tahu segalanya”
masih banyak berlaku sehingga sistem yang
berjalan adalah satu arah, hanya dari guru ke anak.
Tidak ada informasi dari anak ke guru, atau timbal
balik keduanya. Bukan hanya guru, tetapi
pendidikan secara menyeluruh telah menciptakan
generasi inggah-inggih (generasi “asal bapak
senang).
Dari diskusi siswa-siswi di suatu sekolah di
Jakarta yang dimuat dalam majalah Basis,
Menggugat Dunia Pendidkan Kita, 1998,: “Menurut
pandangan kami yang dimaksud dengan
“mencerdaskan” adalah membentuk manusia
yang mempunyai pola pikir yang logis, kritis dan
reflektif, serta mampu mengungkapkan isi
pikirannya, berwawasan luas dan mempunyai
daya analisis yang tajam”. Sementara sistem
pendidikan sekarang ibarat gelas kecil yang diisi
penuh air melalui selang pemadam kebakaran,
pada akhirnya akan tumpah ruah karena tidak
dapat lagi menampung air yang disemprotkan.
Kesadaran kritis lebih melihat pada aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Ciri-ciri pokok dari
pembelajaran yang membangun kesadaran kritis adalah belajar dari realitas atau pengalaman, tidak menggurui
dan dialogis. Pola pembelajaran searah kurang dapat menumbuhkan kesadaran kritis. Peran guru yang lebih
tepat untuk membangun kesadaran kritis adalah sebagai fasilitator, dan siswa sebagai subjek bukan objek
pembelajaran.
Kata kunci : Peran guru, siswa, pembelajaran, kesadaran ktitis
The critical consciousness tends to see the system and structural aspect as a problem source.The main
feature in developing the critical consciousness is learning from reality or experience, not dictating but
interacting. One way instructional process does not develop the critical consciousness
In improving the critical consciousness the teacher is expected to act more as a fasilitator, and the student
plays as the subject, not the object of learning process.
Abstrak
H
Pendahuluan
60 Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran Kritis Siswa
Tidak dapat dipungkiri kalau sistem
pendidikan seperti ini akan mematikan
kreativitas, sikap kritis dan potensi siswa.
Pendidikan justru membawa para siswa menjadi
‘jauh’ dari lingkungannya, tidak peka terhadap
lingkungannya sendiri karena hanya
mementingkan hal-hal yang bersifat akademis dan
materiil. Pelajaran-pelajaran hanya diberikan
secara teoritis belaka tanpa ditelaah secara
mendalam dan mengkritisinya serta diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pelajaranpelajaran
tersebut tidak bermanfaat.
Hal-hal tersebut di atas membuat siswa tumbuh
dan dibentuk menjadi pribadi-pribadi yang
individualis, dangkal dan lama kelamaan akan
menanamkan sifat “emang gue pikirin”, sementara
guru-guru hanya melaksanakan tugasnya sebagai
pengajar, bukan sebagai pendidik karena mereka
hanya mengejar target materi-materi kurikulum.
Salah satu kelemahan utama pendidikan kita
adalah tidak membangun kesadaran kritis siswa
dalam belajar. Kita lebih banyak menjejalkan
pengetahuan ke dalam otak siswa tanpa mau tahu
apakah pengetahuan yang kita berikan diserap
dengan baik atau tidak karena kita hanya
menuntut mereka untuk menghafalkan apa yang
kita berikan. Tidak heran kalau siswa sering kali
menjawab “tidak tahu” jika guru bertanya sesuatu
yang baru saja diajarkan
kepada mereka. Dalam
taxonomi Bloom tingkat
belajar yang paling rendah
adalah menghafal dan ini
sudah menjadi pola belajar
siswa kita bahkan sampai
tingkat mahasiswa
sekalipun. Bagaimana
mungkin otak mereka
mampu menyerap secara
mendalam ilmu pengetahuan
yang kita berikan karena
terlalu banyaknya bahan
pelajaran yang kita berikan, dengan demikian
pengetahuan itu tidak sempat mengendap dan
dicerna dengan baik. Apa yang dilakukan oleh
para guru selama ini adalah sesuatu yang sia-sia.
Sungguh keprihatinan yang luar biasa karena
pekerjaan mulia para guru ini kurang bermanfaat
bagi perkembangan anak didik.
Lalu pertanyaannya menjadi, apakah yang
hendak kita capai melalui pendidikan untuk anakanak
kita? Orang tua mengharapkan anaknya
bertumbuh menjadi manusia yang mandiri dan
mampu menentukan pilihan-pilihannya secara
bertanggung jawab. Untuk itu diperlukan
kesadaran kritis mengenai tanggung jawab
sebagai manusia. Lalu mengapa kita tidak
membangun kesadaran kritis para siswa untuk
belajar sesuatu yang lebih berguna, dengan
demikian siswa akan belajar “living value”.
Berpikir kritis merupakan salah satu ciri manusia
yang cerdas. Akan tetapi berpikir kritis akan terjadi
apabila didahului dengan kesadaran kritis yang
diharapkan dapat ditumbuh kembangkan melalui
pendidikan. Tulisan ini mencoba menelaah peran
guru untuk membangun kesadaran kritis siswanya.
Disadari bahwa guru mengemban berbagai peran
sebagai pembelajar di sekolah, akan tetapi telaah
berikut ini dibatasi pada perannya dalam
membangun kesadaran kritis siswa.
Paulo Fraire, seorang ahli pendidikan dari Brazilia,
(1921–1997) banyak mengkritisi teori-teori dan
praktek pendidikan pada jamannya. Dalam
bukunya yang terkenal yakni
Pedagogy of Opressed, 1978
(Pendidikan Kaum Tertindas)
dan Cultural Action for Freedom,
1977 (Gerakan
Kebudayaan Untuk
K e m e r d e k a a n ) ,
menggolongkan kesadaran
manusia menjadi tiga kategori
: Kesadaran magis, kesadaran
naïf dan kesadaran kritis.
Kesadaran magis (magical
consciousness), adalah suatu
kesadaran masyarakat yang
tidak mampu mengetahui kaitan antara suatu
faktor dengan faktor lainnya. Dalam dunia
pendidikan, jika proses belajar mengajar tidak
mampu melakukan analisis terhadap suatu
masalah maka proses belajar mengajar tersebut
dalam prespektif Freirean disebut sebagai
pendidikan fatalistic. Proses pendidikan modern
ini tidak memberikan kemampuan analisis, kaitan
antara sistem dan struktur terhadap suatu
permasalahan masyarakat. Murid secara dogmatik
menerima ‘kebenaran’ dari guru, tanpa ada
mekanisme untuk memahami ‘makna’ ideologi
Tinjauan Teoritis
Filsafat Pendidikan Paulo Fraire
Masalah
Berpikir kritis merupakan
salah satu ciri manusia yang
cerdas. Akan tetapi berpikir
kritis akan terjadi apabila
didahului dengan kesadaran
kritis yang diharapkan dapat
ditumbuhkembangkan
melalui pendidikan.
Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006 61
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran
dari setiap konsepsi atas kehidupan masyarakat.
Kesadaran naif (naival consciousness), kesadaran
ini lebih melihat ‘aspek manusia’ menjadi akar
penyebab masalah masyarakat. Pendidikan dalam
konteks ini tidak mempertanyakan sistem dan
struktur yang ada sudah baik dan benar.
Semuanya merupakan faktor “given” dan oleh
sebab itu tidak perlu dipertanyakan. Tugas
pendidikan adalah bagaimana membuat dan
mengarahkan agar siswa dapat masuk
beradaptasi dengan sistem yang sudah benar
tersebut.
Kesadaran kritis (critical consciousness),
kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan
struktur sebagai sumber masalah. Paradigma
kritis dalam pendidikan, melatih siswa dapat
untuk mampu mengidentifikasi ‘ketidakadilan’
dalam sistem dan struktur yang ada, kemudian
mampu melakukan analisis bagaimana sistem dan
struktur itu bekerja, serta bagaimana
mentransformasikannya.
Bagi Fraire pendidikan haruslah berorientasi
kepada pengenalan realitas diri manusia dan
dirinya sendiri, sistem pendidikan yang ada
selama ini dapat diandaikan sebagai sebuah
“bank” (banking concept of education). Pelajar diberi
ilmu pengetahuan agar ia kelak dapat
mendatangkan hasil yang berlipat ganda. Jadi
anak didik sebagai objek investasi dan sumber
deposito potensial.
Secara sederhana Fraire menyusun daftar
antagonisme pendidikan “gaya bank” itu sebagai
berikut :
 Guru mengajar, murid belajar.
 Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apaapa.
 Guru berpikir, murid dipikirkan.
 Guru bicara, murid mendengarkan.
 Guru mengatur, murid diatur.
 Guru memilih dan memaksakan pilihannya,
murid menuruti.
 Guru bertindak, murid membayangkan
bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan
gurunya.
 Guru memilih apa yang akan diajarkan, murid
menyesuaikan diri.
 Guru mengacaukan wewenang ilmu
pengetahuan dengan wewenang
profesionalismenya, mempertentangkannya
dengan kebebasan murid-murid.
 Guru adalah subyek proses belajar, murid
obyeknya.
Oleh karena guru yang menjadi pusat
segalanya, maka merupakan hal yang lumrah saja
jika kemudian murid-murid mengidentifikasikan
diri seperti gurunya sebagai prototip manusia ideal
yang harus digugu dan ditiru. Sistem pendidikan
yang bersifat satu arah yang menjadikan guru
sebagai subjek dan murid sebagai objek melahirkan
hubungan yang otoriter antara guru dan murid.
Pada saatnya sistem dan praktek pendidikan
seperti itu melahirkan generasi baru manusiamanusia
penindas.
Bagi Fraire, sistem pendidikan sebaiknya harus
menjadi kekuatan penyadar dan pembebas umat
manusia. Sistem pendidikan mapan selama ini
telah menjadikan anak didik sebagai manusiamanusia
yang terasing dan tercerabut (disinherited
masses) dari realita dirinya sendiri dan karena ia
telah dididik menjadi seperti orang lain yang
bukan dirinya sendiri.
Manusia pada dasarnya adalah kesatuan dari
fungsi berpikir, berbicara dan berbuat.
Kemanunggalan karsa, kata dan karya disebut
praxis. Prinsip praxis inilah yang menjadi
kerangka dasar sistem dan metodologi pendidikan
Fraire. Seperti yang digambarkan dalam diagram
di bawah ini :
Gambar 1: Kerangka Dasar Sistem dan metodologi
Pendidikan Praire
Dengan aktif bertindak dan aktif berpikir
sebagai pelaku, dengan terlibat langsung dalam
permasalahan nyata, dan dalam suasana yang
dialogis, maka pendidikan segera menumbuhkan
kesadaran yang menjauhkan seseorang dari “rasa
takut akan kemerdekaan” (fear of freedom). Proses
kesadaran seseorang merupakan proses inti atau
hakikat dari proses pendidikan itu sendiri. Dunia
kesadaran seseorang tidak boleh berhenti atau
mandeg, harus senantiasa berproses, berkembang
dan meluas dari satu tahap ke tahap berikutnya,
dari tingkat “kesadaran naïf” sampai ketingkat
“kesadaran kritis”, sampai akhirnya mencapai
tingkat kesadaran tertinggi dan terdalam yaitu
“kesadarannya kesadaran” (the consice of the
consiousness).
Bertindak
Bertindak
Dst …
Berpikir
Berpikir
62 Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran Kritis Siswa
Jika seseorang sudah mampu mencapai tingkat
kesadaran kritis terhadap realitas, maka orang
itupun mulai masuk ke dalam proses pengertian
dan bukan proses menghafal semata-mata. Ia
menjadi orang yang mengerti bukanlah orang
yang menghafal, karena ia menyatakan diri atau
sesuatu berdasarkan suatu “kesadaran”,
sedangkan orang yang menghafal hanya
menyatakan diri atau sesuatu secara mekanis
tanpa perlu sadar apa yang dikatakannya,
darimana ia telah menerima hafalan yang
dinyatakannya, dan untuk apa ia menyatakannya.
Seseorang yang telah mencapai kesadaran kritis
akan dapat berpikir kritis, tidak membeo saja, tetapi
dapat melontarkan pertanyaan dan tanggapan
kritis. Kita membutuhkan orang-orang yang
mampu berpikir kritis untuk dapat menjawab
tantangan masa depan pada era globalisasi yang
serba tidak pasti dan berubah sangat cepat.
Berpikir kritis mencakup seluruh proses
mendapatkan, membandingkan, menganalisis,
mengevaluasi, internalisasi dan bertindak
melampaui ilmu pengetahuan dan nilai-nilai.
Berpikir kritis bukan sekedar berpikir logis sebab
berpikir kritis harus memiliki keyakinan dalam
nilai-nilai, dasar pemikiran dan percaya sebelum
didapatkan alasan yang logis dari padanya (Steven
D. Schafersman, 1998). Berpikir kritis berarti
berpikir tepat dalam pencarian relevansi dan andal
tentang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai tentang
dunia. Berpikir kritis adalah berpikir yang
beralasan, reflektif, bertanggung jawab dan
terampil berpikir yang fokus dalam pengambilan
keputusan yang dapat dipercaya.
Seseorang yang berpikir kritis dapat
mengajukan pertanyaan dengan tepat,
memperoleh informasi yang relevan, efektif dan
kreatif dalam memilah-milah informasi, alasan
logis dari informasi, sampai pada kesimpulan
yang dapat dipercaya dan meyakinkan tentang
dunia yang memungkinkan untuk hidup dan
beraktifitas dengan sukses di dalamnya. Adalah
tidak mungkin untuk mendapatkan aktualisasi
diri tanpa melatih berpikir kritis. Kebiasaan
berpikir kritis itu tidak akan terjadi tanpa didahului
oleh kesadaran kritis.
Peran guru dalam pendidikan formal (sekolah)
adalah “mengajar”. Saat ini banyak guru yang
karena kesibukannya dalam mengajar lupa bahwa
siswa yang sebenarnya harus belajar. Jika guru
secara intensif mengajar tetapi siswa tidak intensif
belajar maka terjadilah kegagalan pendidikan formal.
Jika guru sudah mengajar tetapi murid belum
belajar maka guru belum mampu membelajarkan
murid.
Menurut Yamamoto, belajar mengajar akan
mencapai titik optimal ketika guru dan murid
mempunyai intensitas belajar yang tinggi dalam
waktu yang bersamaan. Kedudukan guru dan
siswa haruslah dianggap sejajar dalam belajar, jika
kita memandang siswa adalah subyek pendidikan
(Sumarsono, 1993). Guru dan siswa sama-sama
belajar, kebenaran bukan mutlak di tangan guru.
Guru harus memberi kesempatan seluas-luasnya
bagi siswa untuk belajar dan memfasilitasinya agar
siswa dapat mengaktualisasikan dirinya untuk
belajar. Gurupun harus mengembangkan
pengetahuannya secara meluas dan mendalam
agar dapat memfasilitasi siswanya. Inilah peran
guru dari guru.
Kesalahan fatal yang dilakukan pendidik orang dewasa
adalah usaha dalam mendefinisikan fungsi dirinya
sebagai pelaku tunggal bagi perubahan tingkah laku dan
berbuat seolah-olah tugas prinsipnya adalah untuk
mengkomunikasikan ide-ide, mendesain latihan (exercise),
untuk mengembangkan pengetahuan,
keterampilan atau sikap tertentu untuk menentukan
perubahan tingkah laku dan melakukan survey untuk
mendeteksi kebutuhan. (Kezirow,1987)
Di samping orang tua, pelaku utama
pendidikan adalah guru, sehingga seringkali guru
dalam paradigma lama berlaku sebagai sumber
utama ilmu pengetahuan dan menjadi segalagalanya
dalam pengajaran. Guru adalah orang
yang digugu dan ditiru, sehingga tak pelak lagi guru
menjadi orang yang setengah didewakan oleh
anak didiknya. Tetapi peran guru yang sentral
dalam pendidikan kurang berpengaruh terhadap
pembelajaran siswanya. Hal ini tentunya sebatas
hubungan formal yang tidak mendalam dalam
membangun kesadaran siswa untuk belajar
dengan sepenuh hatinya.
Guru pada era sekarang bukan satu-satunya
sumber pengetahuan karena begitu luas dan cepat
akses informasi yang menerpa kita, sehingga tidak
mungkin seseorang dapat menguasai begitu luas
dan dalamnya ilmu pengetahuan serta
perkembangannya. Akan lebih tepat jika guru
berlaku sebagai fasilitator bagi para siswanya
sehingga siswa memiliki kepandaian dalam
memperoleh informasi, belajar memecahkan
Peran Guru
Berpikir Kritis
Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006 63
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran
masalah, menarik kesimpulan, menuliskan,
mengekspresikan apa yang diketahuinya, ini akan
membuat siswa menjadi seorang pembelajar yang
luar biasa.
Ki Hajar Dewantoro merumuskan peran guru
dalam mendidik di sekolah sebagai berikut ing
ngarso sung tulodo, di depan memberi teladan, ing
madyo mangun karso, di tengah membangun
kreativitas dan tut wuri handayani, di belakang
memberi semangat. Hingga sekarang peran ini
masih aktual dan menjadi dasar dari semua peran
yang dijalankan seorang guru dalam mendidik,
bagaimana guru berperan sebagai teladan, mediator
sekaligus motivator dalam proses
pembelajaran, dengan pendekatan/metode
apapun yang digunakan oleh guru.
Pendidikan abad ke-21 diprediksi akan jauh
berbeda dengan sebelumnya sehingga UNESCO
pada tahun 1977 sudah mulai menggali esensi dari
pendidikan dan kemudian memperkenalkan The
Four Pillars of Education, yaitu Learning to know,
Learning to do, Learning to live together, dan Learning
to be, untuk mengantisipasi perubahan yang bukan
hanya linier tetapi mungkin eksponensial yang
diantisipasi akan terjadi di masyarakat yang
mengglobal.
Paolo Fraire mencoba untuk mengungkapkan
kondisi kemanusiaan yang sedemikian rapuh
dalam masyarakat kita dengan kejujuran tanpa
tedeng aling-aling. Pernyataan-pernyataan Fraire
memang sering kontroversial, meletup-letup dan
memancing banyak pertanyaan bahkan kritik,
namun fakta yang diungkapkannya adalah
realitas tak terbantahkan di hampir semua, negara
dunia ketiga. Dalam model banking seperti yang
diuraikan oleh Fraire, guru sangat aktif dan siswa
menjadi pasif dalam proses belajar mengajar di
sekolah. Gurulah yang berkuasa untuk
menentukan semuanya, sedangkan siswa hanya
menurut saja. Siswa dijadikan objek dan tidak
mempunyai hak untuk ikut menentukan. Aktor
utama adalah guru bukan siswa. Hal itu tampak
praktek guru seperti indoktrinasi sedangkan siswa
hanya menerima apa yang diajarkan guru dan
tidak boleh bertanya apalagi bersikap kritis.
Guru seringkali menekankan pada hanya ada
satu nilai/jawaban yang benar, juga guru
mengharuskan siswa untuk menggunakan satu
jalan saja, tanpa boleh menggunakan cara lain.
Jika siswa mengungkapkan gagasan alternatif,
selalu disalahkan. Hal ini kadang disebabkan
karena guru sendiri tidak memiliki pengetahuan
yang luas sehingga tidak memahami ada
bermacam-macam alternatif jawaban. Seringkali
guru beranggapan siswa yang banyak bertanya
sebagai pengganggu, apalagi kalau
pertanyaannya tidak dapat dijawab oleh guru.
Pola pengajaran demikian membuat siswa kita
tidak kreatif, tertekan, tidak bebas dalam
mengungkapkan pemikirannya. Jika kita ingin
mengubah pendidikan kita maka metode
pengajaran di atas perlu diubah dengan metode
pengajaran yang membuat siswa aktif, model
multinilai dan multikebenaran, bebas berbicara,
diperbolehkan salah, metode ilmiah dengan
pencarian bebas, berpikir kritis, membahas
masalah masyarakat secara terbuka, hubungan
guru-siswa dialogis (Paul Suparno, 1999)
Seperti yang diungkapkan Andy Hakim
Nasoetion, dalam Ilmu untuk Kehidupan dan
Penghidupan, seorang murid SD dari suatu desa
mengajukan pertanyaan kritis sebagai berikut:
“Kalau saya seorang astronut dan membawa kipas
ke ruang angkasa, kemudian saya kipas-kipaskan,
apakah akan terjadi angin?”. Disusul oleh
pertanyaan dari seorang murid SMP sebagai
berikut: “Kalau saya nyalakan lilin, nyalanya
menuju ke atas. Akan tetapi, kalau lilin itu saya
balikkan sumbunya kearah bawah, mengapa
nyalanya tidak mengarah ke bawah, melainkan
ke atas juga sehingga melelehkan ujung lilin itu
lebih cepat?”. Ternyata pertanyaan-pertanyaan itu
cukup sukar dijawab oleh para guru, guru tidak
siap dalam menjawab pertanyaan kritis dari
muridnya. Guru tidak suka merangsang murid
untuk bertanya karena pengetahuan guru yang
terbatas dan tidak memahami konsep-konsep sains
secara mendalam.
Guru harus menjadi agen perubahan dengan
mengubah paradigma berpikirnya terlebih dulu.
Guru harus siap dan dapat mengantisipasi dalam
menghadapi setiap perubahan yang terjadi, karena
dengan memberi kebebasan bagi siswa untuk
berpikir dan berekplorasi maka seringkali apa yang
dipikirkan dan ditemukannya berbeda dengan apa
yang selama ini menjadi pemahaman guru. Di
samping itu guru harus terus menerus
mengaktualisasikan diri, belajar memperluas dan
memperdalam pengetahuannya agar dapat
memfasilitasi siswa dalam belajar. Guru harus
membuat dirinya kompeten dan profesional. Hal
ini berarti guru perlu secara terus menerus
mengembangkan kemampuannya dalam
menguasai disiplin ilmu yang diajarkannya serta
Pembahasan
64 Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran Kritis Siswa
metodologi pembelajaran. Guru diharapkan
memberdayakan siswanya dalam proses
pembelajaran sehingga siswa benar-benar
memperoleh pengalaman belajar melalui metode
pembelajaram yang tepat.
Di antara berbagai metode pembelajaran siswa,
metode ceramah banyak dipergunakan oleh guru
dalam berbagai situasi dan tujuan. Pada masa lalu,
dan mungkin juga sampai sekarang, banyak
orang berpendapat seseorang yang disebut sebagai
guru berdiri di depan kelas sementara yang lain
duduk diam mendengarkan dan melaksanakan
perintahnya. Metode ini hingga sekarang masih
berlaku. Pusat pengetahuan hanya ada pada sang
guru. Metode mengajar seperti ini kurang
mengaktifkan siswa untuk memperoleh ilmu
pengetahuan dan belajar tentang nilai-nilai.
Belajar secara aktif akan lebih baik jika proses
belajar itu didorong oleh metode pengembangan
kemampuan dan pengetahuan yang diproses dari
pengalaman masing-masing. Metode ini akan
menimbulkan suatu pengalaman belajar yang lain
yang lebih menantang baik bagi guru maupun
siswa. Guru akan berperan sebagai fasilitator yang
mendorong semangat belajar siswanya, dan
menjadi faktor pendorong terjadinya perubahan.
Diakui bahwa metode ceramah efektif untuk
penyampaian pelajaran yang bersifat kognitif
dengan jumlah siswa yang besar dalam suatu
kelas. Akan tetapi penggunaan metode ini secara
tidak tepat dapat menimbulkan hal-hal negatif
sebagai berikut:
1. Pengetahuan yang disampaikan hanya
didasarkan pada apa yang dimiliki
penceramahnya, ibarat komunikasi maka
hanya satu arah tanpa peran partisipan, dan
tak ada umpan balik dari pendengarnya.
2. Ada kesenjangan pengetahuan antara
penceramah dan pendengarnya.
Anggapannya peserta adalah orang yang
tidak berpengetahuan sama sekali sehingga
harus diisi.
3. Peserta hanya menerima informasi secara
pasif, maka mereka akan cepat bosan dan
lelah.
4. Metode kuliah menekankan pada transfer
informasi dan fakta, lebih banyak
mengandalkan pesan-pesan dari informasi
dibandingkan denga faktanya.
5. Rentang waktu peserta untuk dapat
berkonsentrasi penuh sangat terbatas, apalagi
ceramah dengan suara monoton. Rata-rata
orang melupakan 50% dari apa yang mereka
dengar.
6. Penceramah biasanya tidak memiliki cara
untuk memastikan seberapa jauh para peserta
menangkap dan memahami apa yang
disampaikan penceramah, apalagi jika tidak
ditinjau ulang selama ceramah atau setelah
ceramah.
Metode ceramah tidak membuat siswa berpikir
secara aktif, apalagi kritis sehingga metode ini tidak
tepat untuk dapat membangun kesadaran kritis
siswa. Dengan waktu yang terbatas serta jumlah
siswa yang banyak dalam kelas, guru tidak mampu
melayani berbagai pertanyaan siswa dengan baik.
Menurut Vigotsky, proses belajar yang dapat
meningkatkan semangat siswa adalah dengan
berdiskusi, banyak bertanya, bereksplorasi, dan
bermain (fun learning), sehingga kemampuan verbal
dan motoriknya berkembang, termasuk
kemampuan berpikir kritisnya (higher order thinking).
Akan tetapi guru yang telah terbiasa dengan
metode tertentu merasa telah nyaman dengan
metode tersebut cenderung mempertahankannya
sungguhpun hasilnya kurang dapat membuat
siswa berpikir kritis. Keengganan guru tersebut
juga diungkapkan oleh Ratna Megawangi, dalam
Otonomi Sekolah, 2005, dengan mengatakan
“Masalah yang sering kami hadapi di Indonesia
Heritage Foundation, ketika melatih para guru
untuk mengubah metode pembelajaran di kelas
agar tujuan membangun manusia holistik yang
berkarakter dapat tercapai, yaitu ketakutan dan
keengganan para guru untuk memperbaiki metode
pembelajaran di kelas agar sesuai dengan teoriteori
yang berlaku (misalnya Piaget, Erik Erikson,
Vigotsky, dll).
Dari uraian di atas jelaslah bahwa membangun
kesadaran kritis tidak dapat dilakukan dengan
pola pengajaran ceramah, seperti yang selama ini
dilakukan oleh para guru.
Bagaimana Cara Membangun
Kesadaran Kritis?
Kerugian dari Mendengarkan
dalam Metode Ceramah
Metode Ceramah
Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006 65
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran
Proses Pendidikan Kritis, menurut Mansour Fakih,
2001.
Suatu penyelenggaraan belajar-mengajar,
merupakan proses pendidikan kritis harus
mencerdaskan sekaligus bersifat membebaskan
pesertanya untuk menjadi pelaku (subjek) utama,
bukan sasaran perlakuan (objek), dari proses
tersebut.
Artinya bahwa siswalah yang aktif untuk mencari
pengetahuannya dan menentukan apa yang ingin
dipelajari dan, guru berfungsi memfasilitasi siswa.
Ciri-ciri pokok dari pembelajaran yang
membangun kesadaran kritis, yaitu :
1. Belajar dari realitas atau pengalaman : yang
diajarkan bukan ajaran (teori, pendapat,
kesimpulan, wejangan, dsb) tetapi realitas
nyata. Keabsahan pengetahuan seseorang
ditentukan oleh pembuktiannya dalam
realitas tindakan atau pengalaman langsung
bukan pada retorika teoritik.
2. Tidak menggurui : guru dan murid samasama
belajar.
3. Dialogis : prosesnya bukan bersifat satu arah
tetapi lebih pada diskusi kelompok, bermain
peran dsb dan menggunakan media (peraga,
grafik, audio visual, dsb) yang lebih
memungkinkan terjadinya dialog kritis antara
semua orang.
Panduan proses belajar harus disusun dan
dilaksanakan dalam suatu proses yang dikenal
sebagai “daur belajar dari pengalaman yang
distrukturkan” (structural experiences learning
cyrcle) agar pendidikan kritis dapat dicapai dalam
pembelajaran. Proses ini memungkinkan setiap
orang untuk mencapai pemahaman dan
kesadaran kritis dengan cara terlibat didalamnya
secara langsung ataupun tidak. Proses yang
melibatkan setiap orang yang belajar itu adalah :
1. Rekonstruksi: yaitu menguraikan kembali
rincian (fakta, unsur-unsur, urutan kejadian,
dll). Ini tahap proses mengalami, menggali
pengalaman dengan cara melakukan
kegiatan. Apa yang dilakukan dan dialami
adalah mengerjakan, mengamati, melihat dan
mengatakan sesuatu. Pengalaman ini yang
menjadi titik tolak proses belajar selanjutnya.
2. Ungkapkan: setelah mengalami, maka tahap
berikutnya yaitu proses mengungkapkan/
menyatakan kembali apa yang sudah
dialami, bagaimana tanggapan, kesan atas
pengalaman tersebut.
3. Analisis: yaitu mengkaji sebab dan kaitan
permasalahan yang ada dalam realitas
tersebut yaitu tatanan, aturan-aturan, sistem
dari pokok pembahasan.
4. Kesimpulan: yaitu merumuskan makna atau
hakekat dari apa yang dipelajari, sehingga
terjadi pemahaman baru yang lebih utuh,
berupa prinsip-prinsip, kesimpulan umum
dari kajian atas pengalaman.
5. Tindakan: tahap akhir dari daur belajar ini
adalah memutuskan dan melaksanakan
tindakan-tindakan baru yang lebih baik
berdasarkan pemahaman atau pengertian
atas realitas tersebut, sehingga ada
kemungkinan menciptakan realitas baru yang
lebih baik. Langkah ini diwujudkan dengan
cara merencanakan tindakan dalam rangka
menerapkan prinsip-prinsip yang telah
disimpulkan.
Proses pengalaman belumlah lengkap,
sebelum didapatkan ajaran baru, pengalaman
baru, penemuan baru yang dilaksanakan dan diuji
dalam perilaku yang sesungguhnya, dalam
penerapan ini juga menimbulkan pengalaman
baru. Daur proses ini akan berulang kembali dari
awal, konsep learning by doing tercipta dalam daur
ini.
Gambar 2: Daur Belajar dari Pengalaman yang
Distrukturkan
Proses pendidikan kritis untuk
menumbuhkan kesadaran kritis, akan tercapai
jika guru menempatkan diri sebagai fasilitator
yang siap untuk melayani siswa dalam belajar,
bukan untuk menggurui dan berlaku sebagai satusatunya
sumber ilmu dan kebenaran. Dengan
lebih banyak menggunakan metode ilmiah dan
eksperimen agar siswa sebanyak mungkin
merasakan dan mengalami dalam suasana yang
dialogis.
Selama ini guru cenderung kurang mempedulikan
apakah siswanya memiliki motivasi dalam belajar,
karena yang penting adalah materi yang harus
disampaikan selesai. Padahal jika seseorang tidak
5
Tindakan
1
Rekontruksi
2
Ungkapan
3
Analisis
4
Kesimpulan
Motivasi Belajar
66 Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran Kritis Siswa
memiliki motivasi yang kuat dalam belajar maka
mustahil mereka akan mampu mempelajari
sesuatu dengan baik. Tugas seorang fasilitator
adalah justru membangkitkan motivasi itu, yaitu
dengan menciptakan cara-cara kreatif untuk
memotivasi siswa. Dengan demikian diharapkan
siswa akan belajar dengan penuh semangat.
Banyak masalah untuk membangun suasana
belajar dan membelajarkan siswa yang aktif dan
menarik dan sebagai aktor utama, guru, seringkali
secara personal mempunyai banyak kendala.
Tetapi tentu saja hal tersebut dapat dipelajari jika
diawali dengan niat yang sungguh-sungguh,
meskipun untuk menjadi fasilitator yang baik
memang diperlukan pengalaman dan jam terbang
yang cukup tinggi.
Mengutip pendapat dari Jenny Rogers,
fasilitator akan dengan semangat, peka dan
cermat memandu sebuah proses belajar jika ia
memiliki watak/karakter :
1. Kepribadian yang menyenangkan.
2. Kemampuan sosial, dengan kemampuan
menciptakan dinamika kelompok.
3. Mampu mendesain cara memfasilitasi yang
membangkitkan semangat para partisipan.
4. Mampu mengorganisasi kegiatan.
5. Cermat dalam melihat persoalan partisipan.
6. Memiliki ketertarikan terhadap subyek.
7. Fleksibel dalam merespon perubahan
kebutuhan belajar.
8. Pemahaman atas materi pokok pembahasan.
Dalam perspektif dan metodologi pendidikan
kritis, penggunaan media merupakan suatu
keharusan dalam hal siswa menemukan dengan
pengalamannya sendiri, bukan hafalan, teori, atau
kaidah dan rumus-rumus. Media akan membantu
siswa untuk memvisualkan hal-hal abstrak,
mengasah rasa, merangsang kreatifitas,
menemukan pengetahuan, memahami konsep,
dll. Agar dapat berfungsi meningkatkan mutu
proses dan hasil belajar, media harus disiapkan
dan dirancang dengan cermat oleh guru untuk
mencapai tujuan pembelajarannya. Di sini guru
dituntut untuk kreatif dan inovatif.
Sebagai contoh program Managing Basic Education
(MBA), dalam pendampingan sekolah di Pacitan
Jawa Timur mempergunakan Pembelajaran Aktif,
Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) yang
disusun oleh Lynne Hill. PAKEM memenuhi
syarat untuk mengembangkan kesadaran kritis
dalam diri siswa.
Pembelajaran yang baik dimulai dengan
perencanaan yang baik, kemudian diusahakan
agar pembelajaran menarik dan menantang serta
aktif. Hal ini memerlukan kreativitas guru dan
aktualisasi yang terus menerus agar dapat
memfasilitasi siswa dengan baik.
Dalam merencanakan pembelajaran yang
baik guru dapat melakukan hal-hal berikut:
1. Mengidentifikasi dengan tepat tujuan
pembelajaran (kompetensi yang diinginkan)
2. Mengidentifikasi apa yang telah diketahui
siswa dan mengembangkan pembelajaran
berdasarkan informasi tersebut.
3. Membuat urutan pembelajaran terdiri dari
beberapa tahap dan kegiatan.
4. Menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang
efektif.
5. Menyiapkan bahan dan sumber belajar.
6. Mengorganisasikan kelas dan mengelola
sumber-sumber yang direncanakan dengan
baik.
7. Memutuskan bagaimana menilai hasil belajar
siswa.
8. Merencanakan proses maupun hasil belajar
(produk). Proses dan produk pembelajaran:
apa yang akan dikerjakan siswa dan
bagaimana mengerjakannya (proses), dan
bagaimana siswa akan mendemonstrasikan
hasil belajar mereka (produk).
Agar pembelajaran menarik dan menantang
sehingga meningkatkan motivasi belajar, guru
hendaknya berusaha agar :
1. tidak terlalu banyak bicara dan memberikan
ceramah tetapi memberi kesempatan pada
siswa untuk melakukan sendiri kegiatan
yang sudah dirancang;
2. siswa tidak terlalu banyak mendengarkan
dan menjawab pertanyaan bersama-sama
(koor);
3. melakukan kegiatan meningkatkan
kemampuan berpikir kritis, memecahkan
masalah, termasuk tugas-tugas terbuka,
Pembelajaran yang Baik
Media Pembelajaran
Bagaimana Menjadi
Fasilitator yang Baik?
Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006 67
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran
misalnya percobaan di laboratorium dengan
metode inquiry laboratory lesson yaitu guru
dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan
pengarah untuk merangsang siswa berpikir
untuk memecahkan masalah;
4. mengembangkan pengalaman siswa secara
langsung (sumber belajar tangan pertama)
untuk meningkatkan minat dan motivasi,
misalnya mempelajari tentang hak asasi
manusia dengan cara melakukan wawancara
dengan tokoh atau orang yang mengalami
ketertindasan atau hak-haknya dilanggar.
Pembelajaran yang mengaktifkan siswa:
1. belajar dengan mengerjakan, siswa aktif,
terlibat, berpartisipasi, bekerja;
2. interaksi antar siswa tinggi, belajar kelompok,
berpasangan, bekerjasama;
3. siswa menemukan, memecahkan masalah
dan mengambil kesimpulan dari yang
dipelajari; dan
4. berfokus pada proses pembelajaran bukan
semata-mata hasil atau penyelesaian target
materi pelajaran selesai
Kesadaran kritis sangat diperlukan dalam
pengembangan pribadi dan intelektual siswa
dalam kehidupan sekarang dan maupun
kemudian hari. Kesadaran kritis dan berpikir kritis
dapat dibangun melalui pendidikan di sekolah
dan secara khusus melalui kegiatan belajar dan
pembelajaran.
Untuk menumbuhkan kesadaran kritis serta
berpikir kritis siswa dengan menempatkan siswa
sebagai subjek, maka hal-hal berikut perlu
diperhatikan guru.
1. Pembelajaran di kelas harus berubah dari
berpusat kepada guru menjadi berpusat
kepada siswa.
2. Guru berperan sebagai fasilitator untuk
melayani siswa dalam membelajarkan siswa
dan membuat siswa mengalami serta
menyukai belajar. Untuk itu guru senantiasa
belajar terus menerus mengaktualisasi diri,
memperluas dan memperdalam
pengetahuannya agar efektif dalam
memfasilitasi siswa dalam belajar.
3. Mengajar dengan mengembangkan metode
dialogis dalam diskusi, memberi kesempatan
pada siswa untuk berpikir dan
mengendapkan pengetahuannya, memberi
kesempatan untuk bertanya, berdebat,
berekplorasi untuk menemukan suatu
pemahaman yang baru.
4. Dalam membelajarkan siswa maka
pembelajaran dibuat semenarik mungkin
untuk memotivasi siswa sehingga senang
belajar, dengan demikian merangsang otak
untuk dapat menerima pengetahuan/
pemahaman baru lebih cepat.
5. Membuat perencanaan, persiapkan dengan
media yang dapat membantu siswa dalam
mengalami belajar, menemukan dan
merumuskan sendiri pengetahuannya.
6. Guru berperan sebagai agen perubahan
dengan berani mengubah paradigma
berpikirnya yaitu menjauhkan diri dari
ketakutan dan keengganan mengubah cara
mengajarnya yang tidak efektif serta bersikap
terbuka.
7. Kesadaran kritis akan terbentuk jika siswa
merasa bebas dalam berpikir, berpendapat
dan mengekpresikan diri dalam suasana
belajar yang terbuka, tidak banyak aturanaturan
yang membelenggu, multinilai,
multikebenaran, diperbolehkan salah,
menerapkan metode ilmiah. Guru tidak
menggurui karena guru dan siswa setara.
8. Kesadaran kritis akan membentuk pola
pemahaman konsep yang kuat bukan sekedar
menghafal, mampu untuk mencerna
pengetahuan dengan mendalam, memiliki
cara berpikir kritis menghadapi masalahmasalah
sehari-hari dalam kehidupan.
Pembelajaran dengan membangun kesadaran
kritis akan menghasilkan pembelajaran yang
bermutu.
Pembelajaran yang dapat meningkatkan
kesadaran kritis siswa ialah pembelajaran yang
membuat siswa menjadi pelaku dan berperan aktif
dalam proses belajar dan pembelajaran. Peran
aktif siswa dapat dirangsang dan ditingkatkan
dengan metode pembelajaran yang berfokus pada
kegiatan siswa untuk mengalami belajar (learning
by doing).
Guru sebaiknya melakukan perubahan dalam
mengefektifkan perannya untuk membangun
kesadaran kritis siswa sehingga dapat
menampilkan pembelajaran menjadi lebih
Kesimpulan
68 Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran Kritis Siswa
bermutu dan berguna bagi masa depan siswanya
serta mencerdaskan kehidupan bangsa.
Fakih, Mansour, dkk,. (2001). Pendidikan popular,
membangun kesadaran kritis. Yogyakarta: Insist
Hill, Lynne. (2005). Pembelajaran yang baik, dalam
Program Managing Basic Education (MBE) Indonesia.

http://www.mbeproject.net

Majalah BASIS, No. 01-02 tahun ke 47, edisi khusus
Menggugat Dunia Pendidikan Kita, Februari
1998
Megawangi, Ratna. Otonomi sekolah. Suara
Pembaruan Daily, 2005. http://
http://www.suarapembaruan.com
Nasution, Andi Hakim. (2000). Ilmu untuk
kehidupan dan Penghidupan, dalam menggagas
paradigma baru pendidikan. Yogyakarta:
Yayasan Kanisius
Paul, Suparno. (2000). Kurikulum SMU yang
menunjang pendidikan demokrasi, dalam
membuka masa depan anak-anak kita.
Mencari kurikulum pendidikan abad XXI.
Yogyakarta: Yayasan Kanisius
Poerwowidagdo, Judo MA, PhD. (2001).
Meningkatkan kualitas pendidikan Kristen
dalam menjawab perubahan zaman, dalam
pendidikan yang mendidik. butir-butir
pemikiran strategis-reflektif di seputar
pendidikan. Jakarta: Yudhistira
Schafersman, Steven D. (1998). Critical thinking and
its relation to science and humanism,
scahafesd@humanism.net.
Sumarsono. (1993). Pendidikan nilai dan profesi guru,
dalam Pendidikan nilai memasuki tahun 2000.
Jakarta: Grasindo
Supeli, Karlina Laksono. Ringkasan pemikiran: Orang
Tua di dalam Pendidikan Anak-Anak, Media
Kerja Budaya, http://
mkb.kerjabudaya.org , 2003
Tilaar, H.A.R. (1999). Beberapa agenda reformasi
pendidikan nasional. Magelang: Tera Indonesia
Daftar Pustaka