Antara Kau, Aku dan Kekasihku

Standard

Antara Kau, Aku dan Kekasihku

Dear diaryku,
Untuk kekasihku tercinta Avet Batang Prana. Kau berikan sesayup kata yang nuansanya selalu menghiasi malam-malam sebelum tidurku. Ya Allah, aku ingin menjadi miliknya selamanya, hanya ia yang kucinta tiada yang lain.

Riskaninda Maharani.
Selasa, 02 November 2010

Krrringgggg…krrringgggg… Pagi ini aku kembali dibangunkan oleh deringan cinta, deringan setia oleh Avet yang membangunkan pagiku dengan sapaan paginya yang khas setelah kuangkat telepon.
Avet : Selamat pagi cinta.
Aku : Pagi cinta.
Avet : Ayo cepat bangun, aku tunggu dibawah ya.
Aku : Oke deh cinta.
Setelah menerima telepon singkat dari Avet, aku langsung menatap dan memberi isyarat kepadanya, tunggu ya… Aku malu, seringkali aku kesiangan dan dia datang lebih awal untuk menjemputku pergi kekampus.
Riska…Riska… bangun. Itu Avet sudah menunggumu didepan. Ayo cepat bangun. Suara ibu terdengar gaduh didepan pintu kamarku.
Aku : Iya ma… aku segera keluar dari kamar dengan mambawa baju biru kesayanganku dan kesukaan Avet, celana jeans dan tas E-sprite hitam hadiah ulang tahunku ke-21 yang diberikan Avet.
Mama sedang sibuk didapur menyiapkan sarapan pagi untuk ayah, aku dan Vino adikku yang masih duduk dikelas 2 SD.
Ibu : Aduh, kamu ini anak gadis. Telat terus sih, tidak malu apa dengan Avet.
Ayo lekas mandi.
Aku : Iya mama, ini mau mandi. Kan Avet udah terbiasa menunggu. Ya tidak ma…hehe…
Mama : Iya, iya, tapi kan kasihan dia menunggumu setiap hari kurang lebih 15 menit didepan. Ayo cepat mandi sana.
Aku : Iya ma…
Dari balik jendela aku melihat Avet telah berdiri menungguku diseberang rumah.
Aku lanjutkan aktivitasku sebagai mahasiswi disebuah perguruan tinggi swasta. Disini aku mengambil Jurusan seni grafis dan Avet adalah teman sekelasku. Pagi ini terasa sangat bahagia, apalagi Avet menungguku sedari tadi, padahal kan aku belum siap-siap. Hehe.. dia memang kekasih yang sangat setia, belum menjadi suami saja dia sudah benar-benar menunjukkan kesetiaannya kepadaku. Ya Allah terima kasih telah memberikan orang terbaik disisi hidupku.

Dear Diaryku,

Hendra Saputra, kau ibarat angin yang terus mengusik hariku tanpa enggan kutolak. Aku menikmati setiap obrolan denganmu, terasa hangat dan sejuk melambungkan hatiku.
Tapi aku bingung harus memilih siapa, aku terus saja gusar dimalam-malam yang sepi. Kau selalu menghantui pikiranku. Kenapa kau datang Hendra disaat aku telah memadu kasih dengannya? Kenapa? Kenapa?
Oh,Tuhan, jika aku bisa memilih aku ingin memilih salah satu, tapi aku takut salah satu diantara mereka akan sakit menerima keputusanku. Tolong aku ya Tuhan.

Riskaninda Maharani.
Kamis, 20 Januari 2011

Siang ini aku masih di kampus dengan beberapa teman Teaterku, kami berencana latihan untuk mempersiapkan pertunjukkan pembukaan Pekan Seni Kreativitas Pelajar Jawa Tengah. Dalam diamku, pelan-pelan wajah Hendra kembali memasuki alam bawah sadarku, ia kakak tingkatku di kampus. Tidak heran dia bisa menjadi pelatih dikampusku, karena ia memang seorang aktor teater dan monolog di Dewan Kesenian Solo (DKS).
Astaga, kang Hendra mulai mengahmpiri kami. Kenapa selalu saja hatiku was-was ketika melihatnya. Rasa-rasanya aku jatuh cinta padanya. Ah, mungkin hanya khayalanku saja.
Hendra : Selamat siang, maaf saya terlambat. Tadi ban bocor dijalan. baik teman-teman, mari kita susun barisan melingkar.
Tim Teater : Baik kang.
Lalu kami seperti biasa memulai latihan dengan pembukaan pernapasan dan berlari sebanyak 5 kali keliling lapangan gedung teater ini.
Waktu latihan hampir usai, hah… lelahnya, entah kenapa, Hendra selalu melihatku dengan mata elangnya. Hal itu membuatku tak kuasa menahan degup jantung ini. Ada apa dengan hatiku. Dari kejauhan kulihat Avet datang menjemputku…
Avet : Hi Ris, udah latihannya?
Aku : Sudah dong Vet, ayo pulang.
Avet :Duh banyak banget keringatnya. Lalu dikeluarkannya sapu tangan biru miliknya. Ini dibersihkan dulu keringatnya Ris.
Sambil membersihkan keringat, aku berjalan kearah depan untuk pamit ke teman-teman dan Hendra. Entah kenapa Hendra tersenyum manis dihadapanku.
Aku : Pulang duluan ya teman-teman, Kang Hendra saya duluan.
Teman-teman : Ya hati-hati Ris.
Hendra : Ya Hati-hati.
Lagi-lagi ia melepaskan senyuman dan mata elangnya untuk kedua kalinya dihadapanku.
Sesampainya dirumah, Avet kupersilahkan masuk untuk menyantap hidangan kue brownies buatan mama.
Aku : Vet, sebentar ya, Aku ganti baju dulu. Nikmati dulu kuebrownies buatan mama ya. Tapi ingat, jangan dihabiskan semua.
Avet : Hahaha… ada-ada aja kamu Ris, emangnya aku kelaparan apa. Gak la, ayo cepat ganti baju sana.
Aku : Hehehe… iya Vet, bercanda kok. Bentar ya.
Avet : Iya nona besar.
Mama memang sangat dekat dengan Avet, maklum saja kami telah 2 tahun bersama dan Avet sangat sopan dengan orang tuaku, wajar mama dan papa sangat dekat dengannya. Aku beruntung bisa mendapatkan seorang kekasih yang sopan dan santun, semoga saja kisahku akan awet sampai ke jenjang pelaminan kelak. Amin ya Allah.
Tidak berapa lama aku turun dari lantai 2 untuk menemui Avet dan kami mengobrol selama 2 jam mengenai kegiatanku dan kegiatannya selama dikampus, Avet mengatakan bahwa ia telah direkomendasikan Dekan untuk mengikuti kontes Building Go Green Se-Asia di Jepang bulan depan. Kabar ini menambah cintaku padanya. Ia memang lelaki sempurna di hidupku, tiada penggantinya.
Malam hari pukul 19.36 wib
Aku telah terbiasa membaca buku-buku sastra yang kukumpulkan sejak SMP. Tidak pernah aku rasakan bosan untuk membaca berulang-ulang buku-buku novel yang berjumlah 234 hingga saat ini.
Tiba-tiba, krrinnggggg! Krriiinggggg! Suara handphone berbunyi. Hah! Hendra menelpon. Tanpa pikir panjang aku langsung mengankat telepon tersebut.
Aku : Assalamuallaikum…
Hendra: Waalaikumsalam Ris, maaf menganggu. Sedang sibuk gak Ris?
Aku : Ah tidak kok kang Hendra, ada apa kang?
Hendra: Begini Ris, akang mau mengobrol 4 mata besok dengan Riska dikampus, kira-kira bisa tidak Ris?
Aku : Sentak kaget aku mendengarnya. Oh, tidak sibuk kok kang. Mau mengobrol apa
Kang Hendra?
Hendra : Besok deh akang ceritakan ya. Besok jam 11.00 di kantin ya Ris.
Aku : oke deh kang Hendra.
Hendra : Sip, kalau begitu sampai ketemu besok. Assalamualaikum
Aku : Waalaikumsalam.
Astaga, apa lagi ini. Kenapa Hendra tiba-tiba ingin berbicara 4 mata besok. Apa aku ada salah dengannya atau mengenai pementasan. Ah, aku lebih baik mempersiapkan mental untuk bertemu dengannya besok.
Pagi ini aku pergi dengan Avet melewati jalur biasa, Avet menceritakan tentang perasaannya yang semakin hari semakin dalam, ia katakana berkali-kali hal ini. Dan kata-kata “sayang” yang diucapkannya kepadaku memberikan kesan yang membekas tak terhingga di hatiku. Aku sangat mencintaimu Avet.
Sesampainya di kampus, teman-temanku mengatakan bahwa dosen Interior tidak masuk hari ini, aku kembali teringat pertemuan hari ini dengan Hendra. Aku terus melihat jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 10.30. sebentar lagi aku akan bertemu dengannya. Lebih baik aku menunggu dikantin sekarang.
Tak berapa lama, Hendra datang dengan tatapan klasiknya kepadaku.
Hendra : Hi, sudah lama Ris?
Aku : Emm… tidak juga kok kang Hendra. Baru aja sampai.
Hendra : Bagus deh kalau begitu, mau pesan apa Ris? Hari ini biar akang yang traktir ya.
Aku : Wah, bagi-bagi rezeki nih ceritanya? Hehehe…
Hendra : Ah, biasa aja kok. Ayo pesan Ris.
Aku langsung memesan Bakso Urat dan Jus Mangga sementara Hendra memesan Teh manis dan siomay. Sementara menunggu pesanan aku masih saja heran, ini kali pertama Hendra mengajakku duduk dan mengobrol berdua.
Hendra : hei, kok bengong. Ada apa Ris?
Aku : Ah, tidak kok kak. Hehe.. maaf kang Hendra, ada apa ya akang mengundang Riska siang ini? Apa mengenai teater kita kang?
Hendra : Bukan semuanya Ris. Langsung saja ya Ris, akang tidak suka menutupi hal yang sudah lama akang pendam. Sebenarnya akang menyukai Riska. Sejak Riska bergabung dalam teater.
Astaga! Aku seperti ditimpa durian jatuh mendengarnya, sentak kaget dan seperti tak sadarkan diri mendengar ucapan barusan.
Aku : Ah, akang bercanda kan? Masa sih suka dengan Riska.
Hendra: iya Ris, akang benar-benar tidak kuat menahan rasa ini. Semakin akang pendam, rasa ini semakin dalam.
Setiap malamnya akang memikirkan Riska. Entah kenapa, hingga pada hari inilah akang beranikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya.

Mulai hari ini, aku dan Hendra menjalani hubungan tanpa status yang jelas, aku menyayanginya begitu juga aku menyayangi Avet. Entah kenapa hati ini terbelah menjadi dua, antara kau, aku dan kekasihku. Aku ingin keduanya bersemi dalam hidupku selamanya sampai pada titik perjalanan. Biar rasa yang menentukan siapa diantara kalian yang akan tetap terjaga mengisi hari-hariku dengan pasti.
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s