Merantau

Standard

Merantau

Sudah kubilang jangan kau beranikan diri untuk mencari sesuap nasi dinegeri orang, masih saja kau melawan. Ibu Cuma mengatakan apa adanya, cukup, cukup nak, biar ibu yang rasakan pahitnya bekerja diluar negeri. Berpikirlah sederhana, bahwa berapapun rezekinya yang kita dapatkan itu akan cukup bagi kita dinda. Jangan pernah mengharapkan lebih dari itu. Bersyukur dan kuatkan imanmu. (petikkan kata-kata ibu mengingatkanku setiap kali masuk kekamar ini). Ibu… maafkan aku.
Januari 2003 yang lalu aku diam-diam meninggalkan secarik surat diatas meja ruang tamu rumah. Aku terpaksa pergi tanpa pamit secara langsung ke Ibu dan Bapak, karena niatku sudah bulat untuk bekerja di Malaysia. Ibu sangat menentang keras mengenai keinginanku bekerja di Malaysia, berdasarkan pengalamannya selama menjadi TKI sewaktu muda, banyak hal negatif yang dirasakannya. Itulah salah satu sebab mengapa aku tidak diizinkan untuk bekerja diluar negeri.
Pertengahan Januari 2003 aku meninggalkan rumah untuk pertama kalinya, sengaja kupilih waktu subuh dimana ibu dan ayah masih terlelap pulas. Kutatap seisi rumah, menaruh harapan jika kelak aku kembali aku dapat diterima kembali dirumah ini. Sambil mendekati poto ibu dan ayah, kumeraih wajah-wajah mereka yang penuh cinta. Maafkan Dinda ibu…,ayah. Cittt…ciiiiittt…. Astaga bunyi apa itu, sentak kaget kubilas air mata dan segera melangkahkan kaki keluar rumah. Diluar masih kutatap rumah minimalis tua yang nyaman dan indah ditiap sudutnya. Selamat tinggal rumahku.
Ruang tunggu Kereta Argogede (Bandung-Jakarta). Loket ini sesak oleh ratusan orang yang rata-rata ingin berangkat ke Jakarta dan melanjutkan bekerja diluar negeri.
Aku : Mbak-mbak, tiketnya satu kelas ekonomi.
Petugas Tiketing : harganya Rp. 35.000,00 bu. Ada lagi yang bisa saya bantu bu?
Aku : Mbak berapa lama dari Bandung ke Jakarta?
Petugas Tiketing : Kurang lebih 2,5-3 jam mbak.
Aku : Wah cepat ya, hatur nuhun mbak.

Semoga perjalanan ini berkah sampai selamat ditujuan, Amin,Amin ya Allah. Masih setengah jam lagi keretaku berangkat, sebaiknya aku cari air untuk bekal diperjalanan nanti. Diwarung kecil tampak ibu-ibu muda menyantap hidangan-hidangan ringan, seperti roti dan minuman dingin. Wah, minuman yang kucari sedari tadi.

Aku : Bu, sprite satu. Berapa bu?
Penjaga warung : Rp. 3000,00 dek. nanti botolnya diletakkin aja dibawah kursi ya dek.
Aku : Iya bu.

Tampak kisruh terdengar pembicaraan ibu-ibu muda yang glamour terkesan ndeso, membicarakan tentang TKI di Malaysia.

Ibu 1 : Su tau gak, di Malaysia ada TKI yang disiram air panas oleh majikkannya. Untung aja kita gak bernasib gitu ya, tega sekali majikannya.
Ibu 2 : Iya dew, aku juga sudah mendengar kabar itu, kabarnya majikkannya sedang stress, sehingga pembantu itu menjadi sasaran empuk amarah iblisnya.
Ibu 1 : Kira-kira kalau kita mengalami nasib seperti itu di Jepang gmna Su?
Ibu 2 : Ah, kamu ada-ada aja. Mana mungkin Negara Jepang memperlakukan TKI sekejam Negara Malaysia. Jepang itu Negara yang beradab sama seperti Indonesia dew.
Ibu 1 : Alhamdulillah ya su, semoga saja kita tidak bernasib sial seperti Tukiyem asal Jombang itu.
Aku : Permisi bu, maaf ibu. Apa benar ada TKI di Malaysia disiksa majikkannya?
Ibu 1 : Iya neng, itu benar. Kan beritanya udah masuk televise lokal dan Koran. Hamper setiap hari dibicarakan orang-orang neng. Kenapa gitu neng?
Aku : Saya kaget mendengar pembicaraan ibu-ibu barusan mengenai TKI Malaysia, karena sa…saaaa..saa..sa..ya ingin menjadi TKI di Malaysia bu.

Tanganku tak berhenti bergetar, semakin panas darah dan detak jantung, teringat kata-kata ibu yang berdegung keras tentang penolakkannya untuk menjadi TKI.

Ibu 1 : Apa! Neng mau ke Malaysia? Sudah dipikirkan masak-masak neng?
Aku : Iya bu, sudah dari 6 bulan yang lalu saya merencanakan kepergian ini. Tetapi ibu saya tidak memberikan izin bahkan menolak mentah-mentah ide saya ini bu.
Ibu 2 : Sebenarnya menjadi TKI itu tidak masalah neng, yang menjadi persoalan sengit adalah lokasi dimana kita bekerja, wajar saja orang tua neng tidak setuju. Karena menjadi TKI taruhannya nyawa neng.
Aku : Insyaallah saya siap bu. Dengan semua resikonya. (sambil kuputar cincin pemberian ibu, hati masih saja ragu untuk pergi).
Ibu : Kalau begitu hati-hati dan saran ibu tetap komunikasi ke orang tua neng ya walau jauh. Sehingga jika ada apa-apa neng bisa langsung meminta tolong.
Aku : Iya bu, terima kasih atas sarannya. (kutatap jam tangan, pukul 15.40 wib, sekitar 5 menit lagi keretaku akan tiba). Kalau begitu saya duluan ya bu. Assalamualaikum.
Ibu 1 dan 2 : Waalaikumsalam

Cepat-cepat aku langkahkan kaki kearah kereta Argogede, antrian panjang dipintu masuk membuatku sesak. Beginilah kehidupan yang sebenarnya, baru kurasakan berbondong-bondong manusia mengejar waktu untuk berangkat mengadu nasib. Sama seperti diriku yang ingin membuktikan kepada semua orang, bahwa aku bisa sukses sekembalinya nanti. Sampai didalam kereta, kucari tiket yang tadi kupesan. Astaga! Dimana tiket itu, didalam tas tidak kutemukan, apa terjatuh.

Seorang petugas kereta mendekatiku dan sentak bertanya.

Petugas kereta : Tiketnya mbak.
Aku : Sebentar pak, saya lupa meletakkannya.

Kucari seluruh bagian didalam tas, tidak kutemukan juga, apa mungkin didalam Al-Quran kuseliplan. Alhamdulilah, akhirnya ketemu juga. Lega rasanya menemukan tiket ini. Pak, pak, ini tiketnya.

Petugas kereta : Lainkali hati-hati ya mbak. Disiapkan dahulu sebelum naik kereta.
Aku : Ya pak, terima kasih.

Perjalanan ditempuh selama 3 jam menuju Jakarta membuat dahaga lega, akhirnya aku dapat tegar meninggalkan kampung halaman dan tekadku semakin kuat. Daripada bengong dan perasaan kosong, lebih baik aku dzikir memohon kepadaNya agar perjalanan ini selamat sampai tujuan.
Tujuannku selalu terisi dengan gentayang-gentayang perkataan ibu, seperti kata-kata ini menjadi bekas yang menyelimuti perjalanan ini. Apakah akan terjadi hal buruk nantinya. Semoga saja tidak. Ah, daripada lelah memikirkan perkataan ibu yang terus mengerogoti hariku, lebih baik aku tidur dikereta ini.

Sore hari pukul 15.00 wib

Aku tiba di stasiun Gambir Jakarta, disini aku harus mencari tahu dimana alamat PT. Laskar Abadi Outsourcing yang aku lamar sebagai TKI. Kebetulan disana ada pos informasi. Langsung kutemui wanita paruh baya yang sedang duduk manis dibangkunya.

Aku : Permisi, maaf mbak mau tanya kalau jalan Sudirman dimana ya? Jauh gak dari sini?
Petugas Info : Jalan sudirman kira-kira 15 menit dari sini mbak. Naik ojek atau bis kota aja mbak. Gak jauh kok dari sini.
Aku : Oh gak jauh berarti ya mbak. Terima kasih mbak.

Setelah menanyakkan jalan sudirman, langsung kucari bis kota diluar stasiun gambir. Wah, ini Jakarta. Kota dimana orang-orang mencari rezeki dari desa, memang benar-benar luar biasa. Ratusan orang hilir mudik dalam hitungan detik. Nah, akhirnya ada juga bis kota. Langsung kuhampiri bis kota dan duduk dibarisan belakang, astaga menumpuk sekali orang-orang didalam bis ini. Sesak rasanya, aku segera menanyakan jalan sudirman dengan orang disampingku.

Aku : Permisi pak, jalan sudirman masih jauh pak?
Bapak tua : Sebentar lagi lewat mbak. Nanti saya juga mau kesana.
Aku : Kebetulan sekali pak, saya mau kesana untuk mencari kantor pak.
Bapak Tua : Memangnya adik mau bekerja ya?
Aku : Ya pak, saya mau menjadi TKI
Bapak Tua : TKI di Negara mana dik?
Aku : Di Malaysia pak.
Bapak Tua : Apa! Malaysia, kan baru-baru ini TKI dari Indonesia banyak yang dipulangkan dik gara-gara pihak majikkannya sangat kasar dan tidak bermoral. Apa adik benar-benar siap mau kesana?
Aku : Insyaallah siap pak, sudah saya pikirkan matang-matang.
Bapak Tua : Kiri pak, nah ini sudah sampai jalan sudirman dik, ayo turun.
Aku : ya pak.

Sungguh baik bapak itu, mau menunjukkan jalan sudirman. Semoga bapak tua itu mendapatkan rezeki kelak. Sangat jarang orang sekarang mau peduli antar sesama. Huft… waktu terasa mengendurkan urat sarafku, pegal rasanya mencari alamat kantor TKI ini. Betapa besarnya kota ini, aku terus mencari dimana letak kantor tersebut. Hingga pada sudut jalan sebelah kiri terpampang tulisan besar, PT. Laskar Abadi Outsourcing, akhirnya aku temukan kantor ini.

Selamat siang mbak, ada yang bisa saya bantu. Kata pak satpam penjaga gerbang masuk perusahaan ini.

Aku : Ya pak, saya ingin menemui pak Tisna Maulana, apa ada dikantor pak?
Satpam : Oh, ada mbak, sudah buat janji mbak?
Aku : Sudah pak. Jawabku singkat.
Satpam : Baik, kalau begitu mari ikut saya mbak

Aku mengikuti satpam itu menuju kantor, didalam terlihat banyak para wanita paruh baya dan ibu-ibu yang sibuk membicarakan mengenai Malaysia, ternyata mereka membicarakan mengenai para TKI asal Jombang yang diperkosa dan dianiaya oleh majikkannnya beberapa bulan yang lalu. Aku terkejut mendengar pembicaraaan mengenai TKI yang bekerja di Malaysia, apa aku juga akan mengalami nasib serupa.

Satpam : Mbak…mbak…mbak….
Aku : Oh, iya pak.
Satpam : Kok melamun mbak? Ini ruangan pak Tisna mbak. Silahkan masuk.
Aku : Terima kasih pak.

Lalu aku langsung menyiapkan mental untuk menemui big bos besar yang satu ini, wah, ganteng sekali pak Tisna ini, masih muda dan kulitnya putih bersih dan hidungnya mancung. Jika beberapa wanita melihatnya pasti tergila-gila.

Aku : Assalamuaikum…
Pak Tisna : Waalaikumsalam… silahkan masuk.
Aku : Perkenalkan nama saya Rina Aisyah pak.
Pak Tisna : Saya, Tisna Maulana. Silahkan duduk mbak.

Lalu aku duduk didepan meja pak Tisna, tak sanggup menatap mata elangnya yang menantang hatiku. Sungguh luar biasa pandangan matanya, membuat hatiku berdegup kencang. Apakah aku telah jatuh hati padanya? Aih, alih-alih jatuh hati. Kenal aja baru sekarang.

Pak tisna : Selamat datang di PT. Laskar Abadi Outsourcing, disini merupakan kantor perantara TKI ke Negara-negara tetangga. Mbak Rina sudah terdaftar dalam program 5 tahun untuk bekerja di Malaysia sebagai tenaga kerja di pabrik boneka Teddy Bear, dimana posisi mbak Rina adalah sebagai karyawan pabrik yang jangka waktu kerjanya dalam satu hari selama 8 jam, terhitung dari pukul 07.00 pagi sampai pukul 17.00 sore. Mbak…mbak….mbak Rina?
Aku : Oh, iya pak.
Aku tak sadar diri, kembali melamun memikirkan nasibku di Malaysia.
Pak Tisna : Apa ibu telah mengerti prosedur dan system kerjasama antara mbak dan pihak PT. Laskar Abadi Outsourcing?
Aku : Saya mau bertanya mengenai gajinya kira-kira dalam sebulan berapa ya pak?
Pak Tisna : untuk gaji, saya mendapat informasi mbak akan dibayar sebesar 1100 ringgit per bulan. Bagaimana ibu? Apa ibu bersedia?
Aku : Oke kalau begitu pak, serta jaminan tenaga kerja selama saya bekerja di Malaysia ada kan pak?
Pak Tisna : Oh, tenang saja. Untuk jaminan kami telah membuat MOU dengan pihak asuransi AIA Malaysia dan Indonesia, sehingga tenaga kerja yang bekerja disana akan aman. Jangan takut mbak Rina, saya jamin mbak akan pergi selamat dan pulang pun dalam keadaan selamat.
Dalam hatiku terasa lega mendengar ucapan pak Tisna, semoga saja benar apa yang dikatakan oleh beliau.
Aku : Terima kasih pak. Sekarang saya siap untuk berangkat ke Malaysia.
Pak Tisna : Baik, kalau semuanya sudah jelas. Ibu silahkan menemui ibu Surni di depan dan minta kunci kamar untuk mbak beristirahat. Besok mbak akan berangkat pukul 07.45 wib dari bandara Soekarno Hatta menuju Malaysia.
Aku : Baik pak, terima kasih atas kerja samanya.
Pak tisna : Sama-sama mbak Rina.
Aku : Saya permisi pak.
Sambil menjabat tangannya, hatiku berucap “semoga saja aku bisa lebih mengenalnya lebih jauh lagi ya Allah”.

Malaysia pukul 12.00
Mentari sangat terik di Negara ini, panntas saja para wargany banyak menggunakan kendaraan. Hanya sedikit orang yang masih mempergunakan kakinya sebagai alat untuk kesana-kemari, tampak wajah-wajah Indonesia berhilir mudik dibandara ini. Ya Allah lindungilah aku di Negara ini.
Didepan kutemui petugas informasi, secepatnya aku menemuinya untuk menanyakan mengenai letak pabrik Teddy Bear.

Aku : Selamat pagi pak cik. Saya mau bertanya letak pabrik Teddy Bear dari sini kira-kira berapa jauh ya?
Petugas Informasi : Letaknya sekitar 20 menit ibu. Nanti naik aja bis 08 yang menuju Johor.

Lalu aku langsung keluar dari bandara dan mencari bis 08 menuju Johor, tiba-tiba bis 08 lewat didepanku. Aku duduk dipojok kiri depan, sambil melihat-lihat pemandangan kota Malaysia. Ah kurasa tidak terlalu besar kota ini, hanya saja kota ini tersusun secara baik dan rapi. Sehingga dikenal sebagai salah satu kota maju di Asia.
18 menit diperjalanan, aku tiba di Pabrik Teddy Bear.

Pabrik ini luasnya kurang lebih 6 HA dan tersusun atas beberapa bagian-bagian pabrik olahkan kain, kapas, material lainnya. Sangat besar wilayah ini. Aku dituntun oleh seorang security pabrik untuk menemui salah satu HRD di pabrik ini.

Didalam ruangan HRD terpampang total semua TKI yang bekerja disini sebanyak 1678 orang, sudah termasuk para TKI lepas.

Hari pertama bekerja

Aku melihat banyak sekali karyawan-karyawan yang dipanggil keluar masuk kantor dilantai 2, kenapa mereka semua hilir mudik. Apa yang terjadi, dalam 10 menit ada 2 orang karyawan yang dipanggil. Semuanya wanita.
Hatiku mulai was-was. Ini hari pertama aku bekerja.
Bel berbunyi… kriiinggggg…..kringgggg… ini sebuah tanda untuk memangil nama karyawan.
Kringggg…kringggg…Rina Aisyah kode pekerje 08110999 harap kelantai atas.
Orang disebelahku memanggil. Mbak…mbak…kesini…

Aku : Iya mbak ada apa?
Karyawati Paruh Baya : Hati-hati diatas, jangan salah bicara mbak.
Aku : Memangnya kenapa bu?
Karyawati paruh baya : Bosnya sedikit darah tinggi mbak.
Aku : Ok bu. Saya akan ikuti saran ibu. Terima kasih bu.

Langkah kakiku sedikit gemetar menemui big bos dilantai 2, ya Allah lindungi segenap langkahku untuk bertemu dengan pamimpin pabrik ini.

Aku : Tokk…tokk… Assalamualaikum…
Big bos : Waalaikumsalam, Silahkan masuk.

Lalu aku dengan wajah sedikit gugup memasuki ruangan. Lelaki ini benar-benar seram, wajah yang dipenuhi jenggot dan kumis tebal, sangat mirip dengan orang Arab.

Big Bos : Silahkan duduk.
Aku : Terima kasih pak.
Big Bos : Kamu berasal dari mana?
Aku : Saya dari Tasikmalaya Indonesia pak.
Big Bos : Oh, Indonesia. Saya suka orang Indonesia, mereka cantik-cantik.

Didekatinya aku, kemudian dengan jarak 5 centimeter, ia mulai menanyakkanku mengenai hal-hal pribadi yang benar-benar tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

Big Bos : Apa kamu sudah bersuami?
Aku : Belum pak, saya masih single pak.
Big bos : Bagus-bagus kalau begitu.

Astaga, cara pandangnya mulai tak wajar terhadapku. Ia mulai mengeliatkan tangannya ke rambutku. Dielusnya perlahan.

Aku : Kenapa Pak ?
Big bos : Rambutmu halus ya. Sangat enak dielus, bagaimana dengan kulitmu mbak rina, pasti mulus juga.
Aku : bapak jangan sembaragan bicara ya.
Big bos : Sudah, saya sudah sering mengelus semua karyawan saya dan menyetubuhinya setiap hari dengan wanita-wanita yang berbeda. Kamu jangan heran ya. Ini sudah menjadi kebiasaan saya dari dulu. Mari dekat sini sayang…

Lalu ia kembali memegang pahaku dengan perlahan. Dan dengan wajah lugunya, ia bilang aku cantik.

Aku : Jangan pak. Jaaa…jaaa….Jangannnnnnnnn…saya tidak mau pak. Jangannnnnnnnnnnnnnnnn!
Big bos : Kamu diam saja!

Aku tak bisa berbuat apa-apa, dia terus memgerayangi seluruh tubuhku dan hingga pada akhirnya aku diperkosa olehnya dengan hitungan menit aku tidak sadarkan diri akibat perlakuannya yang cukup kasar memaksaku untuk berhubungan badan dengannya.

Ya allah, kenapa hal ini bisa terjadi dengan diriku, apa ini kutukkan dari Ibu yang telah melarangku untuk pergi ke Malaysia, apakah ini karma terbesar yang aku terima ya Allah. Maafkan aku ya Allah, telah melawan orang tuaku.

Astagfirullahaladzim… aku manusia berdosa, tak pantas kembali ke orang tuaku.
Pranggg! Kupecahkan kaca jendela mess dengan kepalan tanganku sendiri.
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s