Pecahan Impian 5 Dekade

Standard

Pecahan Impian 5 Dekade

(1)
Lantun subuh itu terdengar sayup-sayup bak panggilan shalawat disubuh hari
Rima yang pelan membut gelagat mengeliat kearahnya
Aduhai ada peri subuh sedang berkumandang embun pagi; senandung embun
Kukoyak subuh yang mengantuk mengutuk badan yang mengantuk
Aduhai suara semerdu burung pipit mencari teduh
Angan-anganku melayang mengepak sayap kiri dan kanan kearahnya
Malahan terbawa tanpa aba-aba satu dua dan tiga seperti hitung-hitungan tempo dulu
Kau menelisik diseberang arah jalan; mengibarkan warna-warna dasar yang basah
Padahal pagi masih malu-malu mengupas mata lelahnya
Kau imbangi dengan setengah wajah yang bersinar setengah senandung godaan syahdu
Oh amboi jika kudapat membantumu mengiris basah itu ke tali-tali lapar mentari
Jika rasa-rasanya akulah sang udara dan tiap paginya terpaut asmara tak ragu
Oh amboi jika kudapat merias pagimu yang sepi
Jika rasa-rasanya akulah mentari sebelum pukul lima pagi
Tengadah tanganku keatas memohon petunjuk impian
Dan kau terus saja menemani ayat-ayat pagi yang kulontarkan bersamaNya
Allah jika benar doaku terwujud maka saksikanlah indahnya hambamu bercengkarama sebelum mentari
Jendela-jendela reyot sebagai saksi dibolong sejak tadi
Kuintip nyanyian merdu-merdu yang kau arahkan kepenjuru arah
Ayu syahdu nan melodrama menyajikan tarian pundak langit

(2)
Jangan kau palingkan wajahmu dariku; pagi ini aku ingin kau rayu dengan senyummu sebelum lelah bertandang
Jangan kau palingkan suara emasmu dipalungan dengan sekat
Sebab kisah-kisahnya tak dapat kuukir sejelas tanpa bilik-bilik padat
Ayu, aku pergi kearahmu, jangan berpaling pukau mantra pamitku sejengkal rumah
Dari arah depan kupalingkan sedikit tumpah ruah asmara loka
Kau tersipu dalam abstraksi jingga pagi itu
Sapamu lugu; senyummu simbolkan mawar berkembang meliuk harum
Dua dekade kita terpisahkan waktu disemai rindu teramat hangat
Adakah kau dengar serangan rinduku yang terbawa angin utara sekian hari dibabak ranai embun sendu
Ayu, ulurkan waktu beberapa hari kedepan pada mahar yang anggun
Angguklah menandai setujui harapan dulu sesirna sepi terbawa lapisan lerai saupi
Dan kau isi seperempat kerontang jiwa mengais kiblat sucimu
Jejak kuhisap dari jantung keluar luntang-lantung tak jelas hati bergema
Bersemai pasrah
Kau geraikan kisah kasih di senja tukikkan manja
Oh, kasih berdayang-dayang malaikat putih
Seongok madu di wajahmu mulai cair kebumi
Ingin kukecup manis-manisnya bersama mimpi
Dalam diam kurasakan hadirmu bergema sisikan hari tanpa batas
Rembulan berkata padaku : kau teriak luka
Hilang duka
Hilangkan nestapa yang sejak tadi sore telah kau siniskan
Ini janji punya siapa?
Atau kau lupa pernah bercinta dipelukkanku semalam suntuk
Didepan pasar tumpah para manusia-manusia berkumpul pasrah
Atau kau lupa pernah mengoyakkan baju-bajuku dikala dingin menerpamu
Dielok hari kau berkata : cinta mengapung-apungkan
Biru itu tak lagi seterang mata lahirmu
Aku tak lagi menatapnya dalam diamku di petang ini
Kemana dirimu selama sepekan aku ke negeri asing
Bernama lantun-lantun mawar tanpa durinya
Kau empukkan pikiranku sekejap senyum
Sekejap senyap, duhai bejana-bajana kosong berbunyi
Luntang-lantung silih berganti mematung
Kau pahat hatiku di negeri tak bernama
Di selokkan jernih wajahmu berkaca-kaca porselin
Untuk siap kupajang didepan teras hatiku
Duhai mawar-mawar berduri prajurit mainan tempo dulu
Bergeraklah berperang melawan roh-roh sufisme di depanmu
Gejolakan beberapa haluan-haluan genap hari untuk dipatrikan

(3)
Dibukit curam berisi lekuk-lekuk tubuhmu
Aduhai, seluas jagad kau tentramkan keindahan dipulau ini
Apa aku salah memilah bibit-bibit cinta untuk ditanamkan bersama angin
Kau layangkan udara berkabut tipis di udara
Apungkan hatiku, terombang-ambing tersesat digelombang sonar
Aku kiblatkan hawa nafasku ke utara dank au layangkan matamu
Berkelok haluan kearah sebaliknya yang tak kumengerti
Wahai syahdu-syahdu punya madu
Kepingan-kepingan senyummu mengulur lenganku untuk melukis surealismu
Dalam semu-dalam semu-dalam semu
Gegap dan gagap kau berkata
a..aaku adalah kalbu
dilahirkan Rabu hitam tanpa matahari dan rembulan
aku desaukan beberapa nama untuk dikeping-kepingan dalam warna
siapkan kanvas putih bermerk bingung
tancapkan warna hitam sebagai penghias kisah romantic
berbalut merah diatasnya sebagai dinding-dinding nadi
romantisnya dirimu tak sebanding bunyi katak di sore ini
memanggil-manggil sang betina untuk dikawinkan bersama embun
aduhai, kau lupa jalanmu dibawah huru-hara
untuk disaksikan para serdadu kumbang putih meraup untung
oh sayang beribu cenayang
madumu dikucilkan sang kumbang jantan
dirobekkan manisnya seharga perak berubah emas
oh sayang beribu cenayang
kau kelokkan bait-bait tangisan
untuk disesali kesan-kesan yang terbuang
kau lupa jalan pulang menuju ibu-ibu kandungmu
aku ibumu nak; kemari dan genapkan rindumu di liang nisanku
disini kau lupakan binti ibumu
asyik bercumbu dengan make up-make up raksasa
berpesan kelam-kelam pada episode tak berpenghuni
kau tau siapa yang bertanya pada malaikat jibril?
Eros dan karikatur nubuat tabiat itu sengsarakan jalan keluar
Idemu bergeumul jadi satu dikendorkan lelah
Sudahkah kau puas dengan serat-serat tawa yang lepas tanpa aba-aba
Sebelum garis finish yang kau raup medalinya
Aduhai senja mulai berpesan tilam-tilam siap dimakamkan
Dipetang yang kuhelatkan namamu
Kau lupa jalan pulang

(4)
Dari kecil sudah kutimang nuranimu menjadi satu
Tapi kau koyakkan dengan beribu sesal didada ini
Jadi apa maumu dengan sekumpulan dongeng hidupmu yang tak berakal?
Alamak, dus-dus palsu berisi baju-baju kecilmu
Berbau nista tak terampuni para malaikat-malaikat hidup disisi kiri kanan
Kau heran akan batu yang keras di depan rumah
Yang kutanam bersama ayah dan ibumu
Dikelas-kelas aristokrat zaman edan
Peganglah sementara waktu, jual dengan harga pasti
Untuk menopang hidup dan tawa-tawa manismu
Untuk cucu-cucu nistamu yang beranak pinak tak bernama
Tak bernisan
Kau lupa jalan utara tempatmu ditemukan
Cinta dalam hati ini bercucuran di air mata sepi
Tanpa sehelai pakaian di gubuk sepi
Hanya kau dan aku sehabis hujan lelah atas rintik-rintiknya
Kau heran melihat tempayan-tempayan kosong tak terisi beras
Dimasa sulit kau ributkan sayur-sayur tak bergaram
Kau lupa jalan pulang
Sempatmu berucap selamat tinggal kepada mempelai
Sekasih tinggalkan permaisuri
Raja-raja sepi ditinggal dayang-dayang sumbi
Kau katakana aku tak lagi berdaya murni
Semangat mendarah butakan hari
Kau lupa jalan pulang
Kasih, disini kau kutemukan
Hatimu masih berbentuk padat tak bimbang
Tapi kau tinggalkan sebab untuk kujawab ragu
Seperti lagu tanpa lirik lirisnya yang membuat tangisan
Senduan srigala memanggil betina
Dan kau lari ke negeri tak bernama
Neraka gelap
Neraka gelap

(5)
Dengan segumpal darah beku aku sisipkan rindu penghias gurindam berbaris anthem
Rembulan berentet menunggu bintang-bintang lenyap
Matamu melongok kea rah yang salah
Kau katakan, akulah penguasa romansa-romansa pria
Tiap-tiap langkahmu berisi madu-madu menggiurkan detak jantungnya
Mengajarkan cara bercinta gaya Eropa abad 18
Kau lupa gaya Indonesia dimabuk asmara
Andai kau lupakan kehendakmu menjadi wayang
Kau tidak akan lupakan bayang
Semadu serumpun itu tak lagi terkekang
Aduhai, wahana wajahmu berkulit-kulit plastik seharga sekilo
Siap untuk diisi makanan didalamnya
Apa kau mau formalin disisipkan didalamnya?
Atau porselin keramik agar terang mengendap disisi-sisinya?
Aduhai, tawamu renyah digigitan pertama
Kau lupa irigasi merah mengarah kemana
Tenang, telah kusiapkan peta buta untuk kau hias arah-arahmu
Menuju sesat tanpa jalan pulang
Anggap saja ini permainan petak umpet diantara kita
Kau penjaga dan aku penjara
Tenangkan hatimu yang bercampur aduk tak jelas arahnya
Asmara pada buah loka itu adalah kita
Kecuplah sari-sarinya diwajah hari
Kian renta
Kian renta
Tak jelas terombol-terombol katanya
Kecuplah bibir langit berwajah suram
Mimpi suram
Mimpi suram

(6)
Sesosok bayang muncul menerka-nerka wajah tak berpadu sapa
Aku ini gelap dan kau telah musnah kuterkam berlumat-lumat dalam kisruh beribu serbu
Bayang-bayang lekaslah datang; hampiri ruang ilalang yang diterka tarian anginnya
Dipetang ini rambutmu bergoyang mengisi layang-layang daunku
Lihat ada tetes embun sebelum waktunya
Kukira hujan karikatur sendu yang diturunkan awan bersama hujan
Riakkan genap-genap masa yang kian renta
Ini aku yang merambah petang kian menantang pelan
Rimanya sedikit sumbing diabu-abu ditelan waktu
Mata-mata liar sibuk mencari nanar berbiinar bayang,
Punyamu atau kepunyaanMu
Ssstt…ada lagu senja yang mengajak berkencan di peraduannya
Kisah gelora menyampaikan peri-peri sedang teteskan gutasi turun ke bumi,
Kisahmu disambut estafet para pelari senja
Tak jelas asal muasal
Tersesat di baris awal
Tersesat di baris awal
Kemana dirimu beranjak kasih
Dermaga tak lagi menyiapkan pelabuhannya
Tersesat di kompas rusak
Tak ada jalan
Tak ada jalan kembali
Jelas-jelas telah kuabaitkan lagu pohon pala teruntukmu
Sepaket rindu bersemayam di tanah Jawa
Tapi kau pindahkan ke negeri tak bernama
Sapalah nuraniku yang tinggal debu
Siap ditiup kemanapun ia pergi
Pasrah kupasrahkan keniscayaan pribadi
Negeri suram
Negeri suram

(7)
Rerimbunan oak-oak raksasa mengajak kaki-kaki layu nan lemah menertawakan gedung-gedung reyot;purba dikoyak manusia-manusia senja
Kaukah itu yang jelata merambah kerak zaman pada kekunoan sendiri?
Alamak, pesanmu tertinggal diatas jejak-jejak ukuran 42
Ukuran kakimu yang bau ari-ari meniggal gelak sendawa tak henti
Mari awan gemawan yang lunglai; rimbunkan senandung duka
Untuk anak cucu kita yang suram
Untuk generasi yang buta aksara sejarah absolute
Kaum mu menjamurkan safari kata entah untuk siapa
Puah! Sekandang Kuno diterjang modern
Mall-mall murka mencari muka
Atau kau lupa bahwa kita pernah menitipkan rindu di pusat mall ini
Mall purba ditinggal pernghuninya
Zombie-zombie haus cinta
Yang menunggu datangnya aroma hasrat bercinta
Mendekatlah mimpi-mimpi pasrah
Peluklah tubuhku yang haus manjamu
Mari genggam tanganku ke Port Helsinky
Disana kita jejali aneka mimpi
Selongsong anak di rahimku siap dibuahi
Janji tinggal janji
Janji tinggalkan biji tanpa benih
Kau mandulkan surga dunia
Kasih cantik nan tiada guna
Mau kemana, kompasmu tertinggal di kamarku
Lihat jantung-jantung hatiku bergantungan kau buat
Ambil tali untuk menggaetkannya ke tubuh asal
Amsal-amsal tua tertulis Adam dan Hawa
Kau bukan anak cucu mereka
Tak bisa berbuah
Kulitmu penuh luka bercampur dahaga yang dibuat-buat
Garang kau setubuhi diri
Lekaslah pulang kembali ke pangkuan ibumu
Kasih putih yang berabu-abu yang tak kontras
Hai, peluit di sudut kota itu memanggilmu
Untuk dihantarkan ke rumah asalmu
Neraka atau Surga
Kau bisa memilihnya di toko cinta
Dosa atau dusta
Tak berwujud kata kau bilang padaku
Lalu apa mau dikata
Musim telah berganti pacaran antara madu dan manisnya
Tinggal terbuang di semak-semak belukar
Di hutan berpenghuni liar
Seperti kau alam liar di tubuhku
Kasih aku rindu jalan pulang bersamamu
Mendekatlah ingin kucumbu satu per satu duri-duri tubuhmu yang muda
Beliakan alam diamku
Mendekatlah; alam raya diap menjadi saksi bisu
Percintaan mimpi kita yang diamsalkan alam sesal
Ribuan sajak doa telah kucetak dalam kertas berbentuk tanah
Tanah bernamamu
Tanah bercintamu
Tanah pertemuan terakhir antara mata dan kasih
Sungguh kasihan diri
Ditinggal bayang
Ditinggal bayangan yang ditelan kenyang sehabis lapar

(8)
Jangan kau sebut aku cinta dalam hatimu lagi
Sebab suci telah direngut beberapa alam liar
Ditubuhku telah hitam tak berujung pangkal
Nominal tak berbentuk angka
Darahku padat memikirkanmu
Mendekatlah pada jasad cintaku
Aku-kau ; keakuan yang kaku
Tak akan berpadu menyatu
Kau hilangkan renta janji di pusat kota kata
Di toko-toko baju kegemaranmu; sapalah patung-patung sesal
Tak bernyawa
Tak tersenyum dalam rongganya
Begitu juga aku, dalam hidup yang kau mantrai patung
Siap dilelang kepada pembeli
Haus untung tak mau rugi
Begitu pula dirimu yang buntung setelah kenyang menyantap kata baru
Dalam amsal janji kau tinggalkan bait suci
Didalam kamar masih tersembunyi aroma pahitmu
Setelah berujar kembali
Dalam mimpi berkejaran melawan pagi
Aku kecam bejana-bejana kain putih yang kau deretkan
Berjejer didepan kamarku
Untuk disandingkan bersama didepan penghulu
Yang tamu-tamulnya adalah raja-raja dan ratu-ratu abad ke-1
Sempurnalah mimpiku fasihku
Mengeja namamu dalam barisan bait suci
Aku nikahkan engkau dengan sepasang senyuman
Dalam mimpi terbawa mimpi
Dalam mimpi terbawa duri
Menusuk hari-hari dengan nyawanya
Tak kunjung usai
Tak kunjung usai

BIODATA
Penulis bernama lengkap Muhammad Ardiansyah, kelahiran Jambi 22 Agustus 1986, sudah mengeluti dunia sastra dan seni lukis sejak duduk dibangku SMP, diantaranya cerpen, essay, puisi dan naskah drama. tulisan-tulisannya pernah dimuat di website nulisbuku.com, jejakkubikel.com dan kompasiana.com dan antologi puisi berjudul Bersama Gerimis adalah antologi puisi penyair komunitas Majelis Sastra Bandung yang terbit (2009). Pernah mengikuti sayembara pembacaaan puisi mahasiswa/mahasiswi universitas pasundan bandung, pernah ikut serta dalam pembacaan sajak alm. W.S. Rendra, mengadakan teater musikalisasi serta aktif dalam berbagai komunitas sastra yaitu, komunitas Konstruksi Puing Bandung 2005-2006, Komunitas Sabda Sastra Bandung (SSB) 2006-2009, Komunitas Majelis Sastra Bandung (MSB) 2009-sekarang. Pernah mengadakan pameran tunggal lukisan “Mata” 2010 dikampus Universitas Pasundan dengan total lukisan 105 buah.
Sekarang bekerja sebagai Dosen sastra di Akademi Bahasa Asing Nurdin Hamzah Jambi dan aktif menulis di group taman sastra, blog serdadukataku.wordpress.com dan pimpinan sekaligus pelatih Teater Mata Langit Jambi. penulis dapat dihubungi di nomor telp : 0741-7056173 / 0896-24431591. Email. serdadukata@gmail.com, fb : sahadewa prasastra, twitter : @serdadukata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s