Bocah-Bocah Rumput

Standard

Bocah-Bocah Rumput

Lihat mereka di tanah Jawa, bermain-main di sawah dan merangkai bunga-bunga sawah menjadi beranda tawa. Anak-anak kota asyik bermain dengan mainan mewah, sedang anak-anak rumput adalah kesederhanaan tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal kotor. Karena kotor adalah wangi dan rumput adalah kehidupan.
Sore yang gerimis, aku dan teman-temanku asyik bermain seluncuran di tebing Koeswoyo dekat sawah. Setiap hari hujan adalah waktu bagiku dan teman-teman untuk menyempatkan diri bermain seluncuran, kami mencabut satu daun pisang lebar untuk siap kami luncurkan bersama licinnnya hujan. Teriakan gembira, angan-angan kebersaamaan yang lepas dan semangat untuk saling menjaga.
Aku adalah penikmat hujan, terkadang dengan sengaja kutandangi hujan beserta diri berdiri, sampai pada tetesan awal aku akan meneguk airnya dan membuat harapan kelak.
Ibuku berkata, setiap tetesan hujan itu berharga dan dapat menyembuhkan penyakit.
Pernah kutanyakan padanya, “Bu, apa benar air hujan dapat menyembuhkan penyakit?”
“Ya bisa, Nduk. Kamu ndak percaya toh? Nanti coba sendiri pas hujan datang yo.”
Pada saban hari yang genap, Selasa Wegi aku dan teman-teman pergi ke arah persawahan kosong di dekat desa. Kami duduk bersama dan bercengkrama, layaknya orang-orang tua. Memang sudah menjadi kebiasaan kami untuk menghabiskan waktu di sore hari. Berbicara esok, lusa dan masa depan.
Aku bermimpi kelak dapat merantau ke negeri Belanda dan mempelajari segalanya di sana, Diman bermimpi ingin menjadi arsitek dan kelak membangun rumah megah di desa, sedangkan Trisno ingin menjadi wartawan senior. Kami memang berbeda dalam mimpi tapi semangat kami tetap satu dan kebersamaan selalu jadi andalan kami.
Tak berapa lama ketika sedang asyik ngobrol, tiba-tiba mobil megah Jaguar lewat dengan kencang. Tampak wajah bocah-bocah sombong di balik jendela mobil mewah itu. Kami berpikir, apa yang mereka cari di desa ini? Apakah hanya berlibur atau ingin berbaur bersama kami? Belum pernah ada orang kota yang datang ke desa ini berbaur dengan masyarakat desa. Mereka angkuh, tak jauh dengan para konglomerat yang kusebut kaum-kaum penghianat moral.
Kembali terngiang di kepalaku pesan ibu, yang akan terus kusimpan sampai aku tua kelak.
Jagalah moral dan budaya, Nduk.
Karena ada jenjang kejujuran di sana.
Hari semakin sore. Kami bersiap pulang ke rumah sambil mengadu lari sekencang mungkin.
“Ayo, Man! Tris! Kita adu lari sampai ke pertigaan jalan!”
“Ayo, Yo!” Diman dan Trisna bersemangat menyambut ajakanku.
Aku memulai aba-aba “Satu… dua… tiii…ga!”
Kami berlari mengejar angin.
Diman lebih dahulu sampai di tujuan. Memang dia paling kuat dalam hal berlari. Aku dan Trisnabenges dibuatnya.
“Huhhhhh… Man… Tris… Istirahat dulu yuk. Huh… Huhhh… Capek…” aku tersengal.
“Ah kau, Yo. Segitu aja sudah capek. Gimana mau lari marathon?” Diman berkata dengan logat sumateranya yang kental.
“Kamu memang kuat, Man. Kami ndak begitu. Hebat kamu, Man. Dikasih apa sama mak kamu? Jangan-jangan dikasih vitamin L,” Trisna pun terlihat kewalahan.
“Hah? Apa itu vitamin L? Rasanya belum pernah kudengar,” Diman mengerutkan keningnya.
“Iyo. Opo toh Tris? Ah ngaco kamu,” aku pun bingung. Seingatku tidak ada Vitamin L.
Trisna nyengir, “Vitamin L, Vitamin Lari… Hahahhaaaa…”
Diman dan aku terpingkal.
“Mungkin juga Tris, haahahahaaa… Sampe kuat gini fisik aku.”
“Mungkin mak kamu memberi ASI plus-plus, Man… Beda dengan kami,” aku ikut menambahkan.
“Anda semua ingin tahu lebih jelas, kawan-kawan? Silahkan tanya pada makku di rumah…” Diman membusungkan dada sambil meniru bapak-bapak pembaca berita di televisi.
“Hahahaaa…. Gayamu, Man…” aku dan Trisna meninju pelan bahu Diman.
Sesampai di rumah, aku mendapati hidangan istimewa telah disiapkan ibu untuk santapan malam. Udang goreng kesukaanku.
Sambil makan, aku bercerita pada ibu mengenai orang-orang asing dan mobil Jaguar hitam yang kulihat tadi.
“Itu adalah Wakil Bupati Tumenggung, Nduk. Sudah sejak dua hari lalu ada di desa ini. Dia kaya raya, tapi tidak mempunyai anak,” ibu menjelaskan padaku.
Aku tersentak, “Loh…loh…, bentar, Bu. Kulihat ada anak-anak kecil didalam mobil itu loh, Bu.”
“Mereka anak-anak panti asuhan, Nduk…” ibu menjawab keherananku, lalu melanjutkan, “Mereka datang untuk mempelajari tentang permainan-permainan tradisional di desa kita ini. Permainan-permainan tradisional itu nantinya akan diperagakan pada acara pameran yang akan dilangsungkan minggu depan di kota.”
“Hah… opo tak salah kupingku mendengar, Bu? Yang benar, Bu?”
“Iyo, benar Nduk. Tujuan mereka ya cuma satu itu, mau minta diajarkan permainan tradisional daerah kita, seperti enggrang, wayang, ambil-ambilan dan lain-lain.”
Aku merenung, fikiranku melayang pada mainan-mainan mahal dan mesin-mesin yang pada waktu-waktu kemarin pernah kuimpikan. Mainan-mainan itu belum pernah sampai di desa ini, apalagi di tanganku. Lalu mengapa anak-anak kota yang pastinya sudah puas mencicipi segala kecanggihan malah mencari permainan yang dengan mudahnya dapat kami mainkan?
Nduk,
Segala yang kamu dan teman-temanmu dapat dari alam saat ini jauh lebih berharga ketimbang apa yang dimiliki oleh para bocah-bocah modern di kota.
Kata-kata ibu meresap lekat ke relung hatiku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s