Kado yang Berakhir Maut

Standard

Kado yang Berakhir Maut

Petang hari didepan teras rumah pukul 16.00 wib

Seperti biasa aku selalu menunggu ayah sepulang kerjanya, pukul 16.00 wib aku sudah asyik bermain diteras rumah dengan boneka teddy bearku dan seekor kucing Persia hadiah ulang tahun ke 7 ku. Sekarang genap usiaku ke 8. Kata ayah, ia akan memberikan kado istimewa. Tapi aku juga tidak tau apa hadiahnya. Semenjak aku kecil ayah sudah menunjukkan beberapa hewan peliharaannya yang ada dibelakang halaman rumah, ia memelihara kelinci, burung beo, kucing hutan, ayam jago, siamang dan tupai terbang. Ayahku memang pecinta hewan, sehingga sejak kecil aku sudah mengenal banyak sosok hewan-hewan yang mungil sampai buas. Ayah satu-satunya orang yang kucintai semenjak Ibu meninggalkan kemi untuk selamanya selepas melahirkan diriku.
Aduh, kok lama sekali sih ayah pulang. Aku sudah tidak sabar melihat hadiahnya. Daripada bosan menunggu aku siapkan saja masakan buat ayah. Ayah menyukai nasi goring buatan mama, untung saja ayah mengajariku cara membuat nasi goreng yang sama persis seperti buatan mama. Nasi, telur dan beberapa rempah sudah aku siapkan sejak tadi, tinggal mengorengnya sekitar 10 menit.
Nanaaaa…nana…. Aku ingin engkau bahagia ayah, walau mama sudah tiada. Ayah harus bisa kuat dalam menjalani ini semua.

Tok…tok… Assalamualaikum Fani…
Aku : Walaikumsalam ayah, horeee ayah pulang. Kucium tangan lelahnya dan meletakkan tas hitam ke dalam ruang tamu. Ayah sebentar ya, fani lagi masak buat ayah.
Ayah : Wah, dari baunya ayah tau apa itu.
Aku : Apa coba, hayo tebak ayah?
Ayah : Pasti nasi goreng telur setengah matang kan…hehee… kamu ini sama persis seperti ibumu. Tau aja kalau ayah lapar sepulang kerja. Ayah ganti baju dulu ya.
Aku : Ya ayah. Sementara ayah mengganti baju kulanjutkan mengoreng nasi didapur. Sambil menyiapkan piring, kuletakkan hidangan nasi seperti gaya sajian restoran elit. Berbentuk bulat dan disekelilingnya dilapisi bawang, mentimun dan kerupuk udang kesukaan ayah.
Kok ayah tidak memperlihatkan tanda-tanda membawa hadiah ya. Apa ia lupa bahwa hari ini ulang tahunku. Ah tidak mungkin lupa, pasti ayah membawanya.

Aku : Ayah….ayah… the fried rice is ready.
Ayah : Ya sebentar Fani.
Kok lama sekali ayah ganti baju, tidak seperti biasanya. Aih… keburu dingin nasi goreng buatanku.
Ayahhh……. Teriakku tak sabar.
Ayah : Hmm… anak ayah yang rajin, makasih ya nak udah masakin nasi goreng. Diciumnya keningku dengan penuh ketulusan. Kemudian ia duduk dibangku didepanku.
Aku : Ayah, dihabisin ya.
Ayah : Iya pasti dong ayah habisin, kan lapar. Hehee.. gimana sekolah kamu fani?
Aku : Seperti biasa ayah, tapai ada kabar penting ayah, fani didelegasikan guru untuk ikut cerdas cermat bulan depan.
Ayah : Wah, kabar bagus. Ayah bangga mendengarnya. Banyak belajar dan baca-baca ya nak.
Dalam hatiku bertanya-tanya. Kok ayah tidak menanyakan ulang tahunku ya, mana kado istimewa itu.

Padahal sudah dari kemarin aku menunggu kado itu, apa ayah terlalu sibuk sehingga lupa membelikan kado untukku. Aduh, semoga saja ayah tidak melupakannya. Kalau tidak aku bisa ngambek selama seminggu penuh.
Ayah : Kok muka kamu cemberut. Kenapa Fani?
Aku : Gak kok ayah, cemberut gimana ayah? Biasa aja kok
Ayah : Pasti kamu lagi memikirkan sesuatu ya…cerita ke ayah fani.
Aku : Gak kok ayah, cepat-cepat kuhabiskan nasi goreng dan masuk kekamar.

Dikamar Pukul 19.00 wib
Aku kembali berpikir tentang kado itu, kenapa ayah tidak memberikan aku hadiah ya. Apa dia lupa karena kesibukkannya. Mungkin saja, karena ayah sibuk.
Saatnya shalat isya, aku mengambil wudhu dikamar mandi belakang.
Ayah masih sibuk dimeja kerjanya dengan setumpuk kertas-kertas dokumen kerjanya. Aku tinggalkan ayah dan segera masuk kekamarku kembali.
terlelap pukul21.00 wib
hah, kroookk….krookkk…suara apa itu?
Hah! Sentak terkejut mendengar suara yang ada dikamar ini. Seperti suara kodok. Kucari dari mana asal suara itu, ternyata diatas meja belajarku. Sepertinya bunyinya dari dalam kotak ini, hmm… pasti kado dari ayah. Diatas kotak itu tertulis,

Teruntuk buah hatiku Faniyla Anida,

Surpriseeee….
Happy Birthday to you…
kini usiamu genap 8 tahun, ayah doakan dea menjadi anak yang soleh dan tekun belajar ya. Kado ini ayah beli dari Brazil, sengaja ayah pesan dan khusus buat dea. Semoga dea suka ya. Jangan lupa pesan ayah, jadikan hari ini adalah semangat untuk terus maju.

Happy Birthday to You Dea….

Ayah

Rupanya ayah menunggu saat malam tiba, menungguku terlelap dan memberikan kejutan ini. Aku kira ayah telah lupa dengan hari ulang tahunku, wajar saja kejutan ini diberikan pada malam hari karena katak itu sering berbunyi diwaktu malam. Ayah memang pahlawan dan segalanya bagiku, aku menyayangimu ayah.
Duh, kira-kira mau dimana kuletakkan katak ini ya. Dikardus mie atau diember. Payah ayah, masa lupa membelikan sangkarnya.
Lebih baik kuletakkan diembar untuk malam ini. Mungkin ayah belum sempat membelikan sangkarnya. Hmm.. kuberi nama siapa kamu kodok, lucunya. Bagaimana kalau Patricia, hmm sesuai warnamu yang cantik. Ok, patricia. Kita istirahat dulu ya mala mini, jangan banyak mengorok, nanti aku gak bisa tidur lagi. Oke, see you bye bye.

Pagi hari pukul 06.15 wib

Huahhh…. Selamat pagi dunia, hah…hampir setengah tujuh gawat aku telat, kok ayah gak bangunin sih. Duh gawat, cepat-cepat aku menuju ke dapur dan meminum segelas air. Setelah itu kulanjutkan untuk segera mandi secepat kilat. Aba-aba pun kumulai dengan usapan muka dan gosok gigi, selesai. Aduhhhh.. gawat. Bisa kena jemur lagi disekolah kalau gini. Mana seragamku yang kemarin ya.
Aku : Ayah…. Ayahhhhhh… teriakkku dari dalam kamar. Aduh ayah kemana lagi nih.
Aku menuju ke halaman belakang rumah,ternyata ayah disini. Ayah sedang asyik memberi makan hewan-hewan peliharaannya.
Aku : Ayah, seragam Dea dimana ya ayah?
Ayah : Loh, kan hari ini hari minggu nak. Kamu mau sekolah juga?
Aku : Hah! Sentakku kaget. Hari minggu ya ayah? Lupa Dea
Ayah : Itulah makanya jangan belajar terus, jadi lupa hari kan kalau gini.
Aku : Haha… iya ayah, Dea kebanyakkan belajar dan baca sampai-sampai lupa hari. Untung gak lupa makan ayah, kalau lupa bisa kurus nanti, kan jelek.
Ayah : Bener itu. Jadi harus memanfaatkan waktu baik-baik ya nak.
Aku : Iya ayah.

Pagi sudah tegak, aku dan ayahku siap berangkat menuju ke sekolahanku, ayah seperti biasanya mengantarku terlebih dahulu.

Disekolah pukul 06.45 wib
Untung saja aku tidak telat.

Sepulang sekolah aku mengirim sms ke Dea, tetanggaku disebelah rumah. Untung kuundang melihat katak baruku. “ Assalamuallaikum, Dea kerumah ya. Aku mau menunjukkan sesuatu nih… ditunggu.”
Tak berapa lama, terdengar suara langkah kaki. Itu Dea…
Aku : Dea, sini, ayo sini, coba liat aku ada hewan baru, katak brazil. Ini pemberian ayahku, warnanya cantik ya Dea.
Dea : Iya, cantik sekali. Bisa loncat-loncat ya fani?
Aku : Iya bisa dong dea, liat gendut ya.
Dea : Memang katak ini belinya dimana fani? Aku jadi ingin membelinya, lucu sekali warnanya.
Aku : Ayahku yang membelikannya sebagai kado ulang tahunku Dea. Cantik ya kodoknya.
Dea : Ia cantik sekali. Warnanya keren banget Fan. Ayahmu baik ya, gak seperti ayahku, gak pernah membelikan aku hadiah.
Aku : Ah, kamu bisa aja. Ayah memang baik, dia segalanya bagiku Dea.

Katak itu dielusnya, dan dilihat dengan jarak dekat sekali. Seakan heran melihat katak impor yang memang jarang ditemukan di Indonesia.

Malam hari pukul 22.00 wib

Aku menemukan kodokku telah mati dikelilingi semut. Astafirughllah aku lupa menutup sangkarnya tadi sore. Padahal baru 2 hari aku memeliharanya. Selamat jalan kodokku. Maafkan Dea ayah, sudah mengecewakan ayah.
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s