KUMPULAN PUISI

Standard

KUMPULAN PUISI

Muhammad Ardiansyah,S.S
Fb. Serdadukata@gmail.com
@serdadukata

Sauh Di Subuh

Subuh menyambut tanpa sauh
Petang semakin menantang
Akankah perlawanan 2 moderat
kan terlumuri kaki
Angkatlah sauhmu mulailah berlabuh

Jambi, September 2008

Dialog 3 Purba

Biarkan saja apa yang hendak dikata oleh purba
Mengatai senja yang tak berakar, tak bertuah
Tapi bagiku dan setangkai pohon;
Bumiku bersemi dalam setangkai air
Terus dan terus mengalir

Biarkan saja mereka berkata
Akulah sang penguasa
Tapi tetap saja menjadi sok raksasa

Biarkan saja mereka berkata
Matahari pun bisa kugenggam
Padahal panasnya tak sanggup ditahan keringat mentah sekalipun

Biarkan saja mereka berkata
Dalam kata-kata yang tak biasa
Puah!
Puah!
Puah!
Atas nama kata, matilah rangkaian purba

Bandung, 18 Februari 2009
Rumah hujan, setiabudhi

Bunga Kamboja
(untuk WS. Rendra)

Di sini ku berdiri dtemani gaung duka para pepohonan cemara
Deru semakin menderu
Gugurlah sudah dedaunan pelangi mengitari senja

Bunga kamboja yang kau tulis
Kini kembali berawal dari sini
Semangat! Melawan epos pemerintah katamu!
Haru para batu menunduk dalam diam

Kini diam dalam dinginnya kata-kata
Tak luput tertelan mentari, gulita maupun kelam sekalipun
Selamat jalan Sahabat
Selamat jalan Sang Burung Merak

Bandung,07-08-09

Saga dan Mahoni Rupa Kelam

seisi mulutku penuh tawa angin selatan yang menyerupai dewana
menyeruak pitam angkara tak tentu;
hendak kemana tertuju arah utara telah buntu oleh jelaga yang bisat
menaruh harpan pad kelambu puntung
ah, serdadu kecamuk asap menggerogotiku
sudahlah, sapalah senja menarilah bagai esok yang bersedekah pelan
pelan-pelan…
memahkotai nirwana, tentu akal sembari mengotak-atik perilku jalang
tak tentu-tak tentu
menentu dalam akar yang berubah tua
tiada ruah memucuk sang jiwa
menari alunan kosong
sendratari melayung senandung menyeru pualam
pualam-pualam
hendak dikata suram dahaga menjaring malam
kelam-muram-kelam mendurga sahaja
sahaja itu-hanya itu
durga menetas dikepala dan ekor bumi
tapi tak di otakku
tak di kiri malaikat menentukan pusara
di tepi barat aku bertemu
menyapanya
berhenti lalu hilang dalam lapas bayang

rumah inspirasi 14
taman baca
pondok imaji khatulistiwa

gerlong 3

09-03-2010

Ada Nyawa Pada Kuas Cokelat

Ada nyawa pada kuas cokelat
Ia lukis wanita berkulit cokelat
Tapi tak semanis cokelat
Kuasku mengaris wajah dengan serat
Tapi tetap saja tak semanis cokelat
Karena tintaku tak berlapis cokelat 24 karat
Cokelatku berkarat
Dan rasanya tak moderat

12 Maret 2010

Baju Renta yang Kau Robek

Bajuku yang terbiasa kualihkan pada sahabat
Telah kau robek
Tak lagi bertuan dalam sepadu
Tak lagi memberikan kesan keren di tubuhku
Wahai sahabat karibku, istrahatlah pada pusara kancing-kancing tuamu
Akan kuingat jasamu sebagai hangat sesaat aku tampil dahulu
Istirahatlah dengan senyummu

12 maret 2010

Kembali Kecil

Manusia tak jauh dari kesan kecil
Sifat dan kemauan yang kecil
Jalinan masa kecil
Harapan yang kecil
Kisah kecil
Dan mungil

Manusia tak jauh dari mengigil
Dekatkan diri semenjak dingin
Menangis meminta netek
Menangis meminta mainan
Dan tawa

Manusia tak jauh dari kerdil
Sifat dan otak yang mungil
Tak tau arah
Sehingga sesat tak tau jalan pulang
Hingga kecil, merengek dan mengigil

12 Maret 2010

Tercinta Mati dan Rindu

Pukul 18.25 aku terbangun oleh gerak waktu mengerogot masuk keliang lahat telingaku
Seakan tergusar kusebut namamu Ibu, Ibu, Ibu
Aku rindu tertelan sepi
Aku rindu tapak kakimu sambil bersendu tak menentu
Derapan, delapa, derapan, delapan..
Wahai angin!!!…………………
Kemana larinya surgaku
Aku mencarinya, tapi tak jua aku menemuknnya
Aku merindunya
Karena kau telah berbohong padaku, aku tak lagi menyebutmu angin
Tapi sesat yang menyesat dalam lubukku
Jauhilah pikirku yang tak menentu
Wahai malam!!!………………
Kau telah berubah tak jua genderang benderang seperti dahulu aku sendu
Kemana sifat lugumu
Senggamalah angin agar kalian bersatu dalam kepaduan yang sesat
Dan aku bersatu padu dengan rindu yang abadi tanpa unsur ini itu
Yang murni dari alam sadarku
Alam khayalku akan Ibu, surgaku
Ibu aku merindukannmu melebihi apapun yang kurasa dalam genggaman padat
Dalam genggaman padat pada tiap nafas teriak surga
Surga…..

Bandung, TAMAN BACA, PONDOK IMAJI KHATULISTIWA
Ian, 12 Maret 2010

Para Peronda Kelam

Otot sekuat baja mengibas malam
Gegerkan lonceng tua
Atau serdadukan besi pada tiang tua
Wahai para tetua lindungi aku dari alam

Hanya ingin menjaga dan saling
Maka selingi gulita malam dengan lagu emasmu
Agar kelak aku setia dalam tegap
Mendirikan pos-pos penjaga, kokoh tak terpapah waktu

Baja tak jua abadi, akan remuk dan amuk
Maka hanya saling dan saling
Wahai para tetua berilah hamba dahaga jiwa
Agar kelak lonceng-lonceng yang terdengar tak redup, tak usai sampai disini

13 maret 2010

Petunjuk Arah
(untuk Lisa, saudariku)

Semenjak aku gagal mengerti hidup dan sesal
Aku adalah batu diam tak berguna
Semenjak tawaku tak murni terdengar alam
Aku adalah metamorfosis yang lahir sebelum waktunya

Hingga sesaat aku ada, tapi tak rapi adanya
Hingga suatu petuah terasa
Aku alami jelaga tiap malam
Pikirku terlintas pukat dan tajam

Terjajallah sudah langkah tepat didasar perut bumi
Arahku tak lagi sesat
Maka jalan jemariku akan searah gerakkan hendak
Aku ikuti itu

13 maret 2010

Tangis Tandus

Langit Memerah darah dalam pusara kotaku yang tak kunjung padam linang nurani
manusia memerah darah hilang arah hilang suara/pada siapa harus mengharap sedang haru tak kunjung diam
wanita memerah darah mengelilingi 7 kali pusara anak-anak mereka tak berdosa/kepada siapa harus mengadu sedang keharuan tak terbatas terbelenggu keadaan
Allahu Akbar demi nama-Mu tegarkan tiap detik haru padanan yang hadir pada kami/tertelungkup memerah darah dalam untaian tangis kami berharap dalam dzikir tiada henti//

Ian
Bandung, 13 Mei 2010

Desau Merepih Sehari
Dalam sebuah sajak merepih sepi; angkara yang terjelajahi berkibar melangit dalam pita waktu
Senggama angin menyatukan tasbih elegi cerah pada langit yang memecah
Namamu bak layar terkembang tertiup dalam beliung hati
Porak-porandakanlah jiwaku; agar haru tak menjajal pasar induk yang sunyi
Disamping tempatku berbaring pundakmu menggantung pada dinding keropos dalam belulang semu
Aku tertawa hinggap pada larung mata yang kulukis pada bulan kedua langit memerah meminta laksana tawa yang murni
Wahai sisi kanan kiri jangan kau ejek penyair yang mengapungkan rindu pada dermaga murni

Bandung, 4 Juni 2010
Untuk para Sahabat semasa SMA

Prasasti Diam; Elegi Kalam
kudapatkan prasasti diam

melunglai dalam ada;bersandekala dalam selimut itu-itu saja

nan ada berubah elok tiada

hanya itu-itu saja

aku muak;ingin merobek batu apung yang mengaung-ngaung

merebah hari yang dulu

menyibak kembali elegi di kopi hitam itu

bukan ihkwal keanehan mencakup fauna liar

Jambi, 08-07-2010

Berawal Tak untuk Tak

kota itu kaku, kakulah kelakuan hambarkan rasa

dikota yang terhambur hiruk pikuk kata kata; meragu kelam

dimana semi mencair tak jelas mengalir

budaya dimakan mentah mentah

adat diperbudak raksasa wajah wajah suram

dimana ini, rasa rasanya aku disiasati arah mandul

kata kata seakan mebuncah memecah reot pelipis hari

dimana sunyi, elegi itu menguntai atmosfir ambiguitas pasti

dimana mana adat diperbudak nyawa

ah…dimana ini?

rasa rasanya aku disiasati waktu mandul

11 Juli 2010

Kelinang Kota Tanpa Kata
jelajah pada kelam membuat sirna se-hal ihkwal cakap kau dan aku
dimana kata di kota itu
dimana mana terbuang begitu sehampar mengabut hari
dimana kata yang kusebut kata dalam percakapan malam itu
ah, enyah saja kau bayangan aforisma mematikan

sudah kutau dari raut muka camping yang borok tertumpah ditubuhku
dimana kata di kota itu
sirna mematung setengah rindang awan hitam
tak jua kutancap
dimana mana kata kata merajalela
seakan siap dipapah kemudian dihujam dalam terjal kekosongan

Jambi, 19-07-2010

Ranai Kata dalam Kelakar Tua
Wahai kelakar tua engkau sesepuh meluruh lantahakan kehendak jiwa yang mumpu mumpu diraga sang brawa
swarga loka adalah rindai yang tiada layu
lihat ke arah utara akarmu membubung tinggi tak pelak terayu apa apa
hendak manusia tak jua sama

lalu tetap saja bersemedi dalam goa 7 mata 7 rupa
disana alam mengaku benar
dan kau yang mengikar kata demi selinang kata rindang
manusia oh manusia
hendak manusia tak jua baja
hanya bisa bernanar duka
sudah itu saja

Kota In, 23 Juli 2010

Simfoni Absurd; Retak
sengaja kusuguhkan syahdu semu dalam keseharian
absurd yang terlukis padanya tak begitu jelas ditatar bulanan sabit
silahkan engkau tasbihkan satu per satu iga iga melodi yang terhampar di meja persegi
tepat bersebelahan pada ruang kata klasik

25 Juli 2010

Wasiat Menyambut Kata

bapak pergi…

wasiat secerca surat,

hanya ini; berupa susunan kata

tidak lain hanyalah kata yang bapak titip pada padanan harimu kelak

sudahlah anakku jangan kau pikirkan wasiat hidup yang tiada jelas

arahkan kompasmu untuk jelajah gemerlap senja esok hari

perumpamaan gelap akan datang dengan sendirinya

wasiat hanya buruh yang tiada nyawa, nyawamulah harta yang penuh ilalang

anakku merepihlah sehari di bawah pohon kesudihan

disaan terdapat ide ide merah yang siap kau telan mentah-mentah

dan tulislah perlahan dengan jari jari elokmu

menarilah dengan hembusan angin dan tunjukkan jelaga indahmu

bapak pergi nak…titip kesudihan kata yang terletak di otakmu

Elegi, 30 Juli 2010

Menyibak Saras Kata Sang Hyang
Dalam perjalanan sepi terlintas mata-mata mesin siap menerkam
sedang kaki tak sempat menjejak tapak 1
kaku menatap malam

Sirna sirna kelam mengakar arahan rasi ratio galilei
wahaiaheros kembali juang kembali juang

Tak berapa lama lagi sang embun gendangkan tabuh awan
siap dihantar siap dilayar

Kusigapkan jembatan-jembatan tempat kita melintas
terlumuri edelweis sepi yang abadi
tertata diliang sang sanata dewa

Sang Hyang menumpu hawa-hawa hangat
siap ditukarkan dengan setumpuk kata manusia

Om swastiastu, om swastiastu
upacara kata-kata memantra dewana puja
Ah ada ada saja tiadakan saja
Puah!!

Serenada berbicara terjual sudah
lengkapi genap nadi 7 akhir nol memekik pelan
Ssst…ada kata yang patah
Di mana!

Jambi-Tebing Tinggi
22 Agustus 2010

Membahanalah Priyayi Desa
ada wanita yang terkurung dalam pintu pintu kayu tua terbuka menganga
ada wanita yang terkurung dengan pakaian karung berlapis baja
durja durja meraihlah kerlipan mata aura

kerlip sang hyang manata dewa mumpuni hari
elegi pasti elegi mencari cari saudagar yang hilang di ufuk timur
suamiku dalam euforia autum kekar namamu akan mengalun
bak klasika bebunyian mantra yang terhirup bebas dalam lepas; lalu menari dengan iringan syahdu upacara mengais abadi.

Sengeti
11.10.2010

Angkor
Muhammad Ardiansyah

Rerimbunan oak-oak raksasa mengajak kaki-kaki layu nan lemah menertawakan gedung-gedung reyot;purba dikoyak manusia-manusia senja
Kaukah itu yang jelata merambah kerak zaman pada kekunoan sendiri?
Alamak, pesanmu tertinggal diatas jejak-jejak ukuran 42
Ukuran kakimu yang bau ari-ari meniggal gelak sendawa tak henti
Mari awan gemawan yang lunglai;rimbunkan senandung duka
Untuk anak cucu kita yang suram
Untuk generasi yang buta aksara sejarah absolute
Kaum mu menjamurkan safari kata entah untuk siapa
Puah! Sekandang Kuno diterjang modern
Mall-mall murka mencari muka
Aku-kau ;keakuan yang kaku

Jambi, 09-05-2012
JEC-taman kedai belakang

UNTUK BIRU

Semenjak aku dilahirkan biru itu tak lagi sebiru cerita nenek moyangku
Biru membiru habis dipukul
Seperti bonyok habis dipukuli kata-kata carutmu
Lebam tak lagi seindah biru pagi yang keluarkan ari-ari harumnya
Biru itu lenyap terluluh lantah laku kisruh lakumu
Alangkah heran bumi
Hingga ia bertekuk dan kau lebamkan lagi
Biruku haru biruku tinggal debu
Seruan kaki-kaki nista itu berkata ; wahai dahulu kembalikan aku
Kembalikan aku!

Biru huru-hara menyebut-nyebut namamu didaftar hitam
Dan kau tinggalkan riwayat kertas berbentuk wasiat sakti
Haha! Merahlah mereka yang membaca
Sebab birumu tak sebiru terkam kakiku megkiblatkan padaNya

Jambi, 07 Juli 2012

BIODATA

1. Nama Lengkap dan Gelar : Muhammad Ardiansyah,S.S
2. NIP : –
3. Jabatan : Sekretaris Program Studi
4. Perguruan Tinggi : Akademi Bahasa Asing Nurdin Hamzah (ABA NH)
Jambi
5. Alamat Kantor : Jl. Kol. Abunjani Sipin –Jambi
6. Nomor Telp Kantor : 0741-66407
7. Fax : 0741-66407
8. Nomor Telp Pribadi : 0741-7056173
9. Nomor Telp Genggam : 0896-24431591
10. Alamat email Kantor : abanhjambi@gmail.com
11. Alamat email Pribadi : serdadukata@gmail.com / serdadukata@yahoo.com
12. Alamat FB : serdadukata@gmail.com
13. Alamat Twitter :@serdadukata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s