ANTOLOGI 1

Standard

Antologi Puisi I

Posted on July 3, 2010 at 5:06 PM Comments comments (0)

TungkuPetuahku

 

 

Bisikan-bisikannurani, dengarkah dirimu?

Diamlahsejenak hingga kau mendengarnya

Sstttttttttttt…buat harapan dengan tulus

Agarpetuah yang kini kau harapkan tidak terbakar di atas tungku itu

 

Tungkupetuahku bersemayam di balik rahasia-rahasia jiwa

Sukarku mengerti, sukar pula ku sadari

Hinggapetuahku kira-kira begitulah adanya

Beradadi atas tungku hingga aku mati suri

 

Hinggalamunan hanyalah sebatas lamunan

Yangmencoba memadamkan api-api abadi

Hinggaku lahirkan kembali petuah yang dulu lagi

Kisahmasa-masa tanpa satu makna

 

 

 

 

 

 

MaskapaiNyanyian Sang Dewi

 

 

Alunan lagu bergemuruh hingga senjapun enggan melepas lelah

Karena hari ini kan abadi tanpa waktu

Kau seperti nyanyian bersimfoni disetiap hasrat sang jiwa

Mencoba menjerat semua insan karenaalunan-mu

 

Kau seperti nyanyian…

Yang kala waktu bersemi selalu ada

Di setiap aliran darah dahaga kurasakarena alunan keabadianmu

Karena engkau seperti nyanyian yangdipuja dewa-dewi yang tiada

Redup seketika

 

Tutur kata yang serumpun segenapmusikal dewa-dewi

Mencoba selalu ada di alam fana

Hingga hidup tiada redup

Ku ingin hidup di alam nyanyiankeabadianmu

 

 

September2005

 

KetigaNyanyian Lilin Kecil

 

 

Akuberlalu sepintas lantas kutiada merasa puas

Seketikalilin mencair berubah getir seibarat petir

Anginbergemuruh di antara kegelapan

Ketikakutertiup terlayang kutiada gentayang

 

Sepi…sepi…dansendiri ku benci

Menanti…danterus menanti hingga ku enggan dinanti

Sebabnanti kuingin suatu hari dapat menjerat sanubari

Sebabesok kan kuberi sedetik jiwaku

 

Nyanyianlilin kecil bergericik

Dialam gelap ku tiada redup, hingga hidup tinggallah hidup

Danangin menyapa tanpa tanda Tanya

Apa…apayang telah kaurasa

 

Kutenangkan sementara waktu hingga tiada rasa lalu

Menaungisang waktu yang terlampau berlalu

Hinggahidup tinggallah hidup

Mencobamelawan waktu, seketika ku termakan oleh waktu

 

Bandung,13 Oktober 2005

DenyutDibalik Jeruji

 

 

Senjameluruh dalam setangkai mawar yang sedang mekar

Seketikaentah kenapa angin bergelayut dalam dinginnya hari

Mendenyuttanpa nadi

Menyapahujan

Menyapamalam

Menyapakalbu

 

Haihujan, malam, kalbu…

Dengarkahkalian deru yang kusampaikan lewat ombak selatan

 

Haihujan, malam, kalbu…

Dengarkahkalian denyut nadiku menyepi dibalik jeruji

Nadikuterbalik sudah

Lupajalan pulang

 

 

 

RumahMalam

 

 

 

Aku dan Dia

 

 

Akulah dia

Dia adalah aku

Dia pun aku

Akulah dia

Dialah aku

Aku dialah

Dialah aku

Aku sajalah

Dialah aku

Aku dialah

Dia sajalah

Akupun dia

Dia adi adi dia

Ida dia dia ida

Aku kau aku kau

Kau aku kau aku

Aku dia adi kau

 

 

2006

 

Seutas makna

 

 

Lihat kerlap menatap senyap

Kepakkan sayap yang tertata lepas

Meski layar belum terkembang

aku layak melayang dalam gelayangmalam

muram dalam arahan jiwa yang terlanjurkaku

aku membeku dalam desir angin

menikam tembus pandang

senja tiada memanja

hingga arahan suara telah pupusternoda

oleh asap bercampur debu pabrik

maka makna tiada syarat

 

 

2006

 

 

 

 

 

 

 

Terlelap

 

 

Seketikaku bangun dari tidurku

Seketikaitu ku terlelap

Mengulangmakna di balik mimpi-mimpi pasti

Yanghanya ada di balik lelap tidurku

Kuterlelap kini ku berharap kini

Seumpamajanji selalu ada kuingin ada dan selalu ada

Selaludan selalu seperti dahulu

Terlelaphingga ku enggan bangun dari tidurku melanjutkan mimpi-mimpi pasti

 

 

22Maret 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lintas Alam, Tawari Senja Pagi

Untuk K-Ning

 

Pagi cerah, pagi curah

Melintas ia di permukaan gutasipermukan bumi

Tahu-tahu ia malu-malu

Entah apa yang ia permalukan

Atau ia tak tahu apa yang ia mau

Atau ia tak tahu malu

Pagi mencurahkan senja dalam seketika

Tahu-tahu ia bersembunyi

Tahu-tahu ia main-main

Atau hanya permainan yang tak pedulisiapa kau

Siapa ku, siapa pula dirimu

 

 

2006

 

 

 

 

 

 

 

AforismaPetang

 

 

Adasemerbak bau harum yang petang mendatang di rumahku, aforisma apa yangkuketahui dalam hal penciptaan harga diri, musnah terbakar api, tenggelamterbawa ombak di pantai sana, adakah secercak durga yang menyibak tetari dalamnirwana kelam waktu itu, tidak… hanya dentum haru yang menyeru, jangan kautunda lagi, jangan kau tunda lagi, jangan kau tunda untuk kesekian kalinya,jangan kau lari.

 

 

2007

Bandung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3Gelang Kain

Teruntuk:Suku Badui

 

Merekasanggup menerka kapan binasa

Sepertikedekatan pasti yang ada

Dalamlekatan yang erat mereka terikat

Kicauanburung, menyepelekan manusia biasa

Sepertiaku dan Kau

Danmereka tetp berjaga dalam satuan sekutu

Hening meratapi takdir dalam setitiknadir

Danterus hidup dalam kepuasan itu-itu saja

 

 

Bandung,10 Oktober 2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ah,kosong…

 

 

Akucoba berlalu, menggaris selalu lalu menyatu

Danmengoyak satu makna

 

Ah,kosong…

 

 

Bandung,16 Oktober 2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LembayungPagi

Untuk: Kasih, Cinta dan Samudera

 

Parasmumelambangkan keindahan dalam wajah nan indah

Tertatadalam belaian kalbu

Terderusampai jauh

Terderasamudera

Akutelah melembayung dalam sipu dirimu

 

 

Bandung,29-03-08

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LaguSore Hari

 

 

Adasuara tentang lagu yang menyibak tawa dunia

Merangkaisimfoni-simfoni yang menyatukan

perbait kulintang petang

Sungguhtertata dalam pesona yang merona

Hinggapada akhir

Kutemuknsuatu makna dalam peti larung senja

Adakahlinangan yang terangkai oleh kegirangan di waktu malam

Adakahsuara yang melewati batas langkahku pada

Jelagadi ujung jalan itu

 

 

11Oktober 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tak pantas menari diatas jemari

kita tlah kalah dengan lumuransari-sari suci

kutuklah sang raja yang memanja

 

 

18 Mei 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MalamKian Hitam

 

 

Adakah malam selalu menyertai bayanghitam

Putih bercampur hitam

Hitam memekat putih dan layaknya putihyang tinggal nama

Hitam kian hitam

Tiada putih menerawang bayang

 

 

Jambi, Malam September 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akibat-nya

 

 

Akududuk didampingi 2 jendela

Tertutuprapat

Sangatrapat

Dibelakangiada belahan mata

Tertatahitam

Tertatapadat

Sungguhtepat

Akuhanya penunggu akibat

 

 

18Mei 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SendratariSimfoni

 

 

Lambaianangin menandakan lafaz melankoli

Dansenandung jiwa menari bersama jemari kerlap mentari

Inilahdiri, inilah mentari

Inilahsimfoni

 

 

Bandung,20 Mei 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lintang, lantung, linting, lintung,linting, luntung, lanting, lantang

melantangsepi

melantangduniawi

melantang mati

melantang lanting, lantang, lintang, linting

 

 

18 Mei 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Larung

 

 

Kau tahu lelarian senja memupuk larung

Mematung senja hingga nirwana terpana olehnya

 

 

2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Musnah Saja

 

Taknyali, tak otak, sama juga bisa ular mematikan

lebihbaik tertidur hampa hingga terjajal dalam sunyi

berkatahaus dengan kata penuh harta

bukanomong kosong

 

 

2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Risaukah

 

 

Mati, Dupa, Mati kau

hidup dahaga, hidup kau

keluh kau, keluh kalau

Bentang nafas tarik ulur nadi

maka matilah asa

tetaplah mengenang Abu yang tinggallahAbu

 

 

1 Juni 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SeparuhDiri

 

 

Kau tahu kenapa kemalangan mengajarikuberlari

berlari dari ketidakpastian,kebohongan dan kemunfikan

Kau tahu…!

Kau tahu…!

Mulutku ternganga saat kutahu dirimenolak berlari

Diriku membeku diikuti darah yangmenghitam

Aku bukanlah totalitas manusiawi Akutinggal bintik debu yang tinggal disapu halu…

 

 

Bandung, 16 Juni 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khayalandi Ruang Sempit

 

 

Andaisaja nuraniku tak bernyawa,

Mungkinkutasbihkan keindahan dunia di aura

hinggaindahlah yang dapat disaksikan

 

 

2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MimpiKarikatur yang Berlalu

 

 

Kau tahu aku bermimpi semalam temaram

Aku berdansa dan duduk gusar denganaura mata angin

Setiakan angin selatan dan utara dikiri kananku

Wahai malam marilah menari

Wahai bulan malam marilah mengucapjanji

Malam enggan bertitah

Aku hilang, aku girang!

Aku hilang…

Kaulah penujum sandiwara kekal

Aku mencoba mencerna malam, malam,kian malam…

Lihatlah kuncup bintang tetari sambiltertawa

Aku pun ingin sepertinya

Nan elok kata nurani, nan kekal yangbertasbih suci

Kau kah denting yang menyendiri

Kaukah yang bertasbih ketika malamberbohong

Mari… mari kita mengaku, agar malamtak lagi termangu diam

Kenapa…kenapa…kau kunci mulutmu

Gusar, bingar, terkapar, atau kutukanyang menebar sesat di dadamu

Nirwana itu tenggelam, gelaplah yangmencerna maumu, maumu!

Menarilah denga kepakanmu, menyanyilahdengan dentuman matimu

Aku hina malam, aku hina pepara jalangyang malang

Aku hina bukit yang menelan gelapbulan

Aku hina pujian yang semata pujian

Aku hina diri yang berbenturan dengansendi-sendi malam

 

 

Bandung, 21 Juni 2008

Kupersembahkan untuk Sabda Sastra

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fatamorgana Semu

 

 

Angin hembus tembus tulang mati/

Dera sampai mendera jejaman lintas/

terhidupi kalau dan halau//

 

 

Bandung, Agustus 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Patahlah

 

 

Langit seakan mematah ombak

angin terpontang-panting tak tautujuan

Hingga pada akhir

Pasir pun berbisik dengan telapak Bumi

Sebentar lalu semilir telah berlalu

 

 

Jambi, 28 Agustus 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Abu yang Terbawa

 

 

Wahai langkah jelajah raga

Wahai jiwa lumpuhkan luruh haru

Dan kau tinggallah semilir debu yangpenuh haru

 

 

Bandung

2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Genap

 

 

Aku lewati langkah kakiku

langkahku tersesat belantara

temaram, gelap, maka gelaplah sekalian

ataukah malam malu dengan sendrataribumi

 

 

Bandung

2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mayat Kursi

 

 

Pinggirdi tempatku berbaring ada mayat kursi tak berpenghuni

Miliksiapa dahulu sahutku

tiadajawaban dalam diam

laluapalah arti mayat suci

Jikalautelah diam abadi

 

 

Jambi, 30 Agustus 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SimalakamaSimfoni

 

 

Simfoni-simfoni berderai bercampursedu rindu

Menuai rindu yang kian padu

Menuai sendu diiringi lagu

Adakah singgasana sesaat buatkuistirahat

 

 

Jambi, 30 Agustus 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Redup Jiwa

 

 

Lantas apa yang disapa redup ketikagemuruh semakin riuh

Diam semakin diam

Aku disuruh tertawa dalam diam

Malah hitamku berujung maut

redup itu hidup dimanapun

 

 

Jambi tanpa cahaya

Awal September 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CurhatMalam

 

 

Lantas apakah glap merindu senyap yangdulu datang

ah… hanya malamlah yang penuh petuah

Jangan – jangan diubah kata-kataku

Sahut malam

Biar malam tetap tegar tanpa cahayanurani

 

 

September 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DuniaPusara

 

 

Nyatanya rias pagi mengudara senyap

Pagi pagi kian lunglai dikering udaramengudara

Esok tiada lagi yang dapat kau hirupdi paru pura pusara

Malah nisanku tanpa udara

 

 

Rumah Inspirasi 09

2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SauhDi Subuh

 

 

Subuh menyambut tanpa sauh

Petang semakin menantang

Akankah perlawanan 2 moderat

kan terlumuri kaki

Angkatlah sauhmu mulailah berlabuh

 

 

Jambi, September 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TiadaLagi Sari Itu

 

 

Masih adakah sari bunga yang kausisakan tuk hatiku

Ataukh sari itu telah terbawa lebahyang merebah sekarang,

Dengan berbagai keriangannya

Sedangkan haru melumpuhkan semangatku

Apakah bebungaan telah gugur dihatiku

Hanya kau yang tahu

 

 

Jambi, 3 September 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iseng

 

 

Corat

coret-corat-coret-corat-coret

Coret

corat-corat-coret-corat-coret

Coret-coret-coret-coret-ret-ret-ret-ret

 

 

2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DikalahkanSepi

 

 

Sehati itu tiada melupa arti, lalumerangkai

Senja memupuk sudah, tinggal memanen

Menunda kalah, malah mentari berujung

Sepi, tanpa kekalahan yang t’lah kalah

 

 

Jambi, Malam 09 September 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

NaikPitam

 

 

Biar naik pitamku membelah jagad raya

hingga pertarungan yang dulukuharapkan

bersimbah darah biru tak terderu

Pergi– Jauh – Menjauh kataku!

BiarSelat Malaka tak terapung

Biarmerapi bertambah berapi

Pergi – Jauh – Menjauh kataku!

Akan kulibas kau dengan pitamku

Dan nyawa akan kujejerkan padanya…

 

 

2008

®UntukIndonesia Front Pembela Islam (FPI).

“Mari kita tengadahkan kepala kita” ®

 

 

 

 

 

 

DiDepan Teras

 

 

Kala itu asap rokok menggerayangipermukaan yang berkabut pekat

Sungguh heran kulihat kala mentaritaklagi lembut menyambut hijau

Panas udara sungguh mengeras urat dipetang.

Seekorkucing sedang asyik bermain dengan tawanya

Entahapa yang dilakukannya

Diamkumengoyak bebayang lalu,

Lantarandiri tersipu sendiri

Kian kabut memekat hebat

Lantas apakah sajakku kan menjelmasyair melankoli

Yang dapat membuat senyum matahari dandedaunan sunyi.

Entahlah

 

 

Bandung,04 Oktober 2008

 

 

 

 

SapaRanting Pada Bulan

 

 

Wahai bulan kenapa kau diam takbernyawa,

Apakah kau malu menyinari kulitdahanku yang renta

yang tinggal menunggu malaikat Jibrilmencabut akarku,

Wahai bulan penjaga malam,

Berapa lama lagi kita kan bercandalepas?

Sapa ranting pada bulan.

 

 

Bandung, 04 Oktober 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BungaKamboja

(untukWS. Rendra)

 

Di sini ku berdiri dtemani gaung dukapara pepohonan cemara

Deru semakin menderu

Gugurlah sudah dedaunan pelangimengitari senja

 

Bunga kamboja yang kau tulis

Kini kembali berawal dari sini

Semangat! Melawan epos pemerintahkatamu!

Haru para batu menunduk dalam diam

 

Kini diam dalam dinginnya kata-kata

Tak luput tertelan mentari, gulitamaupun kelam sekalipun

Selamat jalan Sahabat

Selamat jalan Sang Burung Merak

 

 

Bandung,07 Agustus 2009

 

 

 

 

 

Mengupas Takdir

 

 

Biar saja aku duduk terdiam di pojokjalan itu

merenungi embun yang tiada henti

 

 

08 Oktober 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akibat

 

 

Seberapa mahalkah pengertian dikaladiri tiada bernyawa

tuntaskan kegagalan dalam seumpamamalam hari

tertulis diri tinggal diri

terimalah inti dari kata

 

 

08 Oktober 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sajak pengesahan kecewa fatamorgana

 

 

Aku ibaratkan bertamasya ketika kakikumenapak di kampus itu

Ada tepi oase kosong yang hanyamembuatku tertawa

Terlintas dalam benakku aku seorangyang kalah dalam diri

Tawaku semakin membahana dalam diamtertepis embun beriak tak tentu

Tiada lantun yang turut mengembangkansayap pada desau dan kicau di esok purbakala yang kutapaki

 

 

Bumi, 17 Oktober 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Angan-anganEsok Hari

(untukCinta)

 

Apakahengkau akan menemani saupiku dialam kesunyian

ketikakupanggil namamu maka datanglah

apakahengkau akan mendekapku dikala angin menyapu tulangku hingga remuk

dialamsunyi dekaplah aku

apakahengkau akan tetap setia bagai mentari dikala mataku kearahnya

 

 

alamkesunyian.Minggu,20 Desember 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mata Dewa

 

 

Nurani oh nurani tularkan mata yangtertuju ruah padaku

Mata oleh deru yang berterbangkearahku

Tertancap dengan anak mata berantairuah pesona 4 arah

Selatan menabuh janji

Utara menorehkan duka

Barat daya tolak ukur nurani

Lantas timur laut merajut mimpi

Mata berkabung rindu gemerlap senja

Mata oh mata tularkan bis racunmumematikan langkahku

Biar tak jauh terluput gelombangkesunyian

 

 

Rabu,30 Desember 2009

-rumah senyai-

 

 

 

 

 

 

 

TarianKupu-kupu Liar

 

 

Pada tiap jengkal angin yang adakudapati awal yang tebawa arah yang nujum mewangi

Wanitaku linang bak kupu-kupu yanghinggap pada bunga sepi menghirup nada sari Lantas menari elok memata-mataisenja

Larut dalam kebebasan mengitari paduanwarna kelopak menyengit pada batang hidungku

Ya batang hidungku; terbanglahsayapku; terbanglah auraku;

Bebas

Bebas

Lepas

Aku jejali cakrawala kelopak SangBunga

 

 

19 Januari 2010

 

 

 

 

 

 

 

Tak Usah Ragu

 

 

Dikala pagi membumi tersenyum kembali

Aku terbuat mati oleh tangisan yangbau tawa, kau torehkan kata secara berkala, mengisak hampa dengan tiada henti

Sungguh hidup berantai ombak dermaga

Sepi tak luput mengantruh mata senja

Aku kembali kelam

Kembali merasa silam, mengaduh layakanak yang menetek kepada ibunya

Haru tak pandang bulu

 

 

2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SerdaduKota Bunga

 

 

Serdadu mengalun ayun dalam desau takindah

Kotaku bungaku tak telaah jua layakdulu terpana mata memandang kearahnya

Kotaku bungaku ternaungi asap busukhingga enggan bertebar menabur wangi

Kotaku bungaku merayu pagi utk tetapbersinar tp kelam bulat bunting terganga padanya

Kotaku bungaku binasa meninggal jejakpusara sejarah

Kotaku bungaku tertidur diam membisutak tentu

Kotaku bungaku tinggal nama tinggalsampan tunggal membatu nisan

 

 

Bandung,7 Februari 2010

 

 

 

 

 

 

 

SuratTitipan Tangis Langit : kepada sang insomnia

 

Jejak kaki melangkah berdetakmenjantung pacuan kuda

Bercak mendarah air kuhisap tepatdibawah kaki langit pohon aura meksiko yang sepi

Ah… lagi- lagi akulah tantangan sepimengubah gelagat tarian awan menjadi rupa biniku

tak jua kuhirup wangi parfum ‘aeronaturalis’ padanya

 

Tetes air mengulang sepi ditiap tetesrinai di lubang got-got tua kala tapalku melewatinya

Tes…tes…tes… Sttt… dengar langit mulaibergumam demam tak tentu

Dr. Jerzy grotowsky menelankan obat denganmelempar secara vertikal keatas

Tak jua disambut tangan kanan sang jingga;runtuhlah kegagalan mengobati tangis sapa sang malam

 

Engkau akan tetap berlari dalam tiapliang hari melewati nisanmu di bukit casanova

Tiap tetesanKu adalah akhir bagiriwayat 101 langkah rindumu

Tanamlah rindu 7 rupamu pada bungamelodi yg Kukirim dari sini

Pada tiap tetesan rinai; kantung mataku teriakarwah nurani yang menguning siap diterbangkan

 

Februari 2010

Rumah inspirasi 14

Hamparan Bukit Tikam Nyawa

 

 

Seperti hamparan syahdu malam kutemukanguratan lekuk tubuhmu

Mengandung ¼ jiwa bercampur melokindah

Durga ya durga namaku ribuan kali

Rerimbun bukit cassanova menjadi takberakar

Dikala kusapu wajah

Dikala goresan kuasku bercampur darahmenikam jantung kiri

Gujat meghujat hingga kalah dalam tawatak nada

 

 

6 Maret 2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sajak Ngantuk

 

 

Aku ngantuk,,

Hoammmmmmmm…….

 

 

6 Maret 2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sajak DR. yang Bodoh

 

 

Katanya DR. adalah lulusan S3 pintarmenjajal teori

Kata-katanya membuat getir parapendengar

Tapi dikala kueratkan dengan kata kuncidi otaknya

Geger seketika tak kuat ia dengar

Tiba-tiba kanker malu bersarangdiwajah lugunya

Sungguh kasihan dalam hati kujeratnamanya

Sungguh ganjaran yang tiada setimpal bainya

Allah tabahkan hati, berikankeleluasan bagi semangat

 

 

5 Maret 2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ada Mantra di Kopi Pahitku

 

 

Puah, mulutku mencelup pertama kali;

Bertemulah samudera semangat di petang

Puah, mbah raswid bertengadahkomat-kamit tak jelas

Pada segelas kopi pahit aku temukankata

Padanan sengama menyorot kearahku

Mulai kujejali ruang inspirasi

Tiada nyawa

Tiada rupa

Tiada nyawa

Tiada rupa

Nyata di otak, kotak atik kata

Jadilah ia

Jadilah engkau

Puah!

Sajak kata bergerak bagai moluska

Pelan tapi pasti

 

6 Maret 2010

 

 

 

Hingga Musim Menemani

Untuk Rani Amalia Busyra

 

Lihatlah ke ufuk timur, matahari barusaja memelekkan mata

Dan kita masih asyik ketawa tentangdunia sapa kelam

Lihatlah ke atas, kita adalah manusiayang berderu melawan waktu

Getir kanan dan kiri meneroboshari-hari

Biarlah dijadikan ombak sesat yangdatang

Dan kita tetap berlabuh dalam samuderayang dalam

Arungi dengan cepat, tepis sesat

Arungi musim yang tertawa pada awalbulan

Hingga dingin adalah hangat

Hangat pada musim kemarau adalah embunyang memberikan dahaga tepat di mulut kala haus

Salju adalah cokelat yang berlumurmanis untuk dihisap perlahan

Dan semi adalah akar bagi perjalanansemangat untuk arungi medan, dalam kata menyeringai tanda

Sapahlah ia, agar kelak namamu setiamenemani tiap-tiap musim berhalu hilir mudik tak tentu

Genggamlah tanganku jika kelak angintak lagi bersahabat

Pada seutas tali rapiah gapailaheforia kehidupan

Senandungkan cinta, jangan ragu

Pualam dalam batu adalah abadi

Desir angin adalah saksi menetapselamanya

Sapalah mereka, jangan ragu

Jangan ragu

Berkemaslah untuk kita arungitiap-tiap wajah aneh

Berlutut pada penguasa alam, berceritainspirasi

Sapuan kata, hingga metamorfosakesejatian manusia

Yang aneh dan nakal

 

 

06 Maret 2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SetangkaiKata

 

 

SepucukNadir hadir berprilaku ganda di depan mata buta

Berharapseongok angin menerpa pundak ;

Nyatanyaseekor kelam menyambut hadir aura bau tubuhmu

Akutersadar dalam kelabu itu

Kutemukanjejak-jejak jiwa berceceran di otakku

Serdadukata menyerangku dengan senyummu yang khas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mana Cigaretku

 

 

Pagi kuhisap Djarum Cokelat yang khas

Siang harinya hadir Djarum Superkualitas no. 1

Sorenya ada Djarum Black yang memangasyik

Malamnya aku gigit jari, cigaret habisterisap semuanya

Ternyata baru kusadari cigaretku habis

Dikala semangat untuk menulis, cigaretadalah sahabat setia

Tiap Asapnya adalah inspirasi nurani

Tiap delik wanginya adalah semangat

Tapi tetap saja aku sedih;

Cigaretku habis, duitpun habis

Wahai puntung berubahlah jadi sediakala

Puah!

 

 

7 Maret 2010

 

 

 

 

 

 

Nyawa di Titik 0

 

 

Aku langkahkan kaki ini tepat di indukbumi

Goncangan itu ada di hatiku

Ketika kumulai mencoba di titik 0

Seketika matilah nyawa, matilahlangkah

Skak mat!

 

 

7 Maret 2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Retak di Jalan Jawa

 

 

Lihatlah ke jalan sana

Ada keretakkan yang merajalela

Ada keretakkan yang dibuat sengaja

Ada beberapa gaduh yang terasa

Kala jalan tak lagi bersahabat

Tumbal akan kuhisap

 

Beberapa sudah punah kujadikan baitmurka

Beberapa sudah kujadikan dendam

Beberapa sudah kulahap

Kulumat dengan seksama, dengan segaladaya upaya

Karena mereka, aku retak-retak

 

Retaklah sudah hariku

Maka lumatlah sepanjang jalanku

Agar sempurnalah yang terasa

Menata pun tak dapat tercapai

Retakanlah dengan kesengajaan ataupunsebaliknya

 

 

7 Maret 2010

Simalakama Abadi

 

 

Semenjak kutahu awal dan akhirkelahiran murni

Seperti simalakama yang ada

Antara senang dan sendu yang bercampursesal

Tapi apa daya manusia jikalau sudahbegini

Sambut sajalah dan tikamlah senja yangada di depan cakrawala

Dentumkan ada, dentumkan tiada

Berbalik berada depan-belakang

Berdepanan

Hingga hilang pantulan cermin diri

 

 

7 Maret 2010

 

 

Kumpulan Puisi I

Posted on July 3, 2010 at 5:02 PM Comments comments (0)

TungkuPetuahku

 

 

Bisikan-bisikannurani, dengarkah dirimu?

Diamlahsejenak hingga kau mendengarnya

Sstttttttttttt…buat harapan dengan tulus

Agarpetuah yang kini kau harapkan tidak terbakar di atas tungku itu

 

Tungkupetuahku bersemayam di balik rahasia-rahasia jiwa

Sukarku mengerti, sukar pula ku sadari

Hinggapetuahku kira-kira begitulah adanya

Beradadi atas tungku hingga aku mati suri

 

Hinggalamunan hanyalah sebatas lamunan

Yangmencoba memadamkan api-api abadi

Hinggaku lahirkan kembali petuah yang dulu lagi

Kisahmasa-masa tanpa satu makna

 

 

 

 

Chairil Anwar

Posted on July 2, 2010 at 12:33 PM Comments comments (0)

Doa

 

Tuhanku

Dalam termangu, aku masih menyebut namaMu

Walau susah

sungguh

Mengingat kau penuh seluruh

Tuhanku

Aku hilang bentuk

Remuk

Tuhanku

Di pintuMu aku me­ngetuk

Aku tidak bisa berpaling

 

 

DI MESJID

 

Sehingga datang juga

Kami pun bermuka-muka.

Seterusnya Ia menyala-nyala dalam dada.

Segala daya memadamkannya

Bersimbah peluh diri yang tidak bisa diperkuda

Ini ruang

Gelanggang kami berperang

Binasa-membinasa

Satu menista lain gila

 

SENDIRI

 

Hidupnya tambah sepi, tambah hampa

Malam apa lagi

Ia memekik ngeri

Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala

Yang minta perempuan untuk kawannya

Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga

Dalam ketakukan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?

Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!

 

Februari 1943

 

 

 

 

 

 

 

 

 

puisi jiwa

Posted on June 30, 2010 at 6:41 PM Comments comments (0)

Mayat Kursi

 

Pinggir di tempatku berbaringada mayat kursi tak berpenghuni/

Milik siapa dahulu sahutku

tiada jawaban dalam diam

lalu apalah arti mayat suci

Jikalau telah diam abadi

 

Jambi, 30-08-08

 

 

 

 

Sauh Di Subuh

 

Subuh menyambut tanpa sauh

Petang semakin menantang

Akankah perlawanan 2 moderat

kan terlumuri kaki

Angkatlah sauhmu mulailahberlabuh

 

 

Jambi, September 2008

 

Temaram

 

Malam temaram

Malam muram

Malam sungguh kian

datangnya alam

 

 

Desau Dingin

 

Malam sungguh dinginmenggerogoti tulang igaku

Sampai-sampai cicak pun malubercinta di permukaan dinding putih

Ataukah karenaku, lantas merekamalu

Baiklah, lebih baik kulanjutkanbunga tidurku, menyempurnakan hangatnya tubuh sang kasur tua.

 

Bandung, 04-10-08

 

 

 

 

 

 

Di Depan Teras

 

Kala itu asap rokok menggerayangipermukaan yang berkabut pekat

Sungguh heran kulihat kalamentaritak lagi lembut menyambut hijau

Panas udara sungguh mengerasurat di petang.

Seekor kucing sedangasyik bermain dengan tawanya

Entah apa yangdilakukannya

Diamku mengoyakbebayang lalu,

Lantaran diritersipu sendiri

Kian kabut memekat hebat

Lantas apakah sajakku kanmenjelma syair melankoli

Yang dapat membuat senyummatahari dan dedaunan sunyi.

Entahlah

 

Bandung,04-10-08

 

 

 

 

 

 

 

 

Sapa Ranting Pada Bulan

 

 

Wahai bulan kenapa kau diam takbernyawa,

Apakah kau malu menyinari kulitdahanku yang renta

yang tinggal menunggu malaikatJibril mencabut akarku,

Wahai bulan penjaga malam,

Berapa lama lagi kita kanbercanda lepas?

Sapa ranting pada bulan.

 

Bandung, 04-10-08

 

 

 

Surat kepada Matdon

 

Aku berkata pada puntung rokok,

Kapan aku akan berhembus seperti asapmu

Sedang gumamku tak berujung pada maut-maut juga

Dan kau telah jadi orang

Aku tidak

Sedikitpun

 

05-07

 

 

 

 

 

 

Bunga Kamboja

(untuk WS. Rendra)

 

 

 

Di sini ku berdiri dtemani gaung duka para pepohonan cemara

Deru semakin menderu

Gugurlah sudah dedaunan pelangi mengitari senja

 

Bunga kamboja yang kau tulis

Kini kembali berawal dari sini

Semangat! Melawan epos pemerintah katamu!

Haru para batu menunduk dalam diam

 

Kini diam dalam dinginnya kata-kata

Tak luput tertelan mentari, gulita maupun kelam sekalipun

Selamat jalan Sahabat

Selamat jalan Sang Burung Merak

 

 

Bandung,07-08-09

 

 

Akibat

 

Seberapa mahalkah pengertian dikala diri tiada bernyawa

tuntaskan kegagalan dalam seumpama malam hari

tertulis diri tinggal diri

terimalah inti dari kata

 

08-10-2009

 

 

Mengupas Takdir

 

Biar saja aku duduk terdiam di pojok jalan itu

merenungi embun yang tiada henti

 

08-10-2009

 

 

Mata Dewa

 

Nurani oh nurani tularkan mata yang tertuju ruah padaku

Mata oleh deru yang berterbang kearahku

Tertancap dengan anak mata berantai ruah pesona 4 arah

Selatan menabuh janji

Utara menorehkan duka

Barat daya tolak ukur nurani

Lantas timur laut merajut mimpi

Mata berkabung rindu gemerlap senja

Mata oh mata tularkan bis racunmu mematikan langkahku

Biar tak jauh terluput gelombang kesunyian

 

Rabu,30-12-2009

-rumah senyai-

Ian

-Salam Budaya Luhur-

 

 

 

Tarian Kupu-kupu Liar

Untuk Rani Amalia Busyra

 

Pada tiap jengkal angin yang ada kudapati awal yang tebawaarah yang nujum mewangi

Wanitaku linang bak kupu-kupu yang hinggap pada bunga sepimenghirup nada sari Lantas menari elok memata-matai senja

Larut dalam kebebasan mengitari paduan warna kelopakmenyengit pada batang hidungku

Ya batang hidungku; terbanglah sayapku; terbanglah auraku;

Bebas

Bebas

Lepas

Aku jejali cakrawala kelopak Sang Bunga

 

 

19-01-2010

 

 

 

 

 

Serdadu Kota Bunga

 

 

Serdadu mengalun ayun dalamdesau tak indah

Kotaku bungaku tak telaah jualayak dulu terpana mata memandang kearahnya

Kotaku bungaku ternaungi asapbusuk hingga enggan bertebar menabur wangi

Kotaku bungaku merayu pagi utktetap bersinar tp kelam bulat bunting terganga padanya

Kotaku bungaku binasa meninggaljejak pusara sejarah

Kotaku bungaku tertidur diammembisu tak tentu

Kotaku bungaku tinggal namatinggal sampan tunggal membatu nisan

 

Bandung, 7 Februari 2010

Mahabrata Liwangi

 

 

 

Surat Titipan Tangis Langit : kepada sang insomnia

 

Jejak kaki melangkah berdetak menjantung pacuan kuda

Bercak mendarah air kuhisap tepat dibawah kaki langit pohonaura meksiko yang sepi

Ah… lagi- lagi akulah tantangan sepi mengubah gelagattarian awan menjadi rupa biniku

tak jua kuhirup wangi parfum ‘aero naturalis’ padanya

 

Tetes air mengulang sepi ditiap tetes rinai di lubanggot-got tua kala tapalku melewatinya

Tes…tes…tes…Sttt… dengar langit mulai bergumam demam tak tentu

Dr. Jerzy grotowskymenelankan obat dengan melempar secara vertikal keatas

Tak jua disambuttangan kanan sang jingga; runtuhlah kegagalan mengobati tangis sapa sang malam

 

Engkau akan tetap berlari dalam tiap liang hari melewatinisanmu di bukit casanova

Tiap tetesanKu adalah akhir bagi riwayat 101 langkah rindumu

Tanamlah rindu 7 rupamu pada bunga melodi yg Kukirim darisini

Pada tiap tetesanrinai; kantung mataku teriak arwah nurani yang menguning siap diterbangkan

 

Februari 2010

Rumah inspirasi 14

Ian

Setangkai Kata

 

Sepucuk Nadir hadir berprilaku ganda di depan mata buta

Berharap seongok angin menerpa pundak ;

Nyatanya seekor kelam menyambut hadir aura bau tubuhmu

Aku tersadar dalam kelabu itu

Kutemukan jejak-jejak jiwa berceceran di otakku

Serdadu kata menyerangku dengan senyummu yang khas

 

 

Mana Cigaretku

 

Pagi kuhisap Djarum Cokelat yang khas

Siang harinya hadir Djarum Super kualitas no. 1

Sorenya ada Djarum Black yang memang asyik

Malamnya aku gigit jari, cigaret habis terisap semuanya

Ternyata baru kusadari cigaretku habis

Dikala semangat untuk menulis, cigaret adalah sahabat setia

Tiap Asapnya adalah inspirasi nurani

Tiap delik wanginya adalah semangat

Tapi tetap saja aku sedih;

Cigaretku habis, duitpun habis

Wahai puntung berubahlah jadi sedia kala

Puah!

 

07-03-2010

 

 

 

 

Nyawa di Titik 0

 

Aku langkahkan kaki ini tepat di induk bumi

Goncangan itu ada di hatiku

Ketika kumulai mencoba di titik 0

Seketika matilah nyawa, matilah langkah

Skak mat!

 

 

07-03-2010

 

 

 

Retak di Jalan Jawa

 

Lihatlah ke jalan sana

Ada keretakkan yang merajalela

Ada keretakkan yang dibuat sengaja

Ada beberapa gaduh yang terasa

Kala jalan tak lagi bersahabat

Tumbal akan kuhisap

 

Beberapa sudah punah kujadikan bait murka

Beberapa sudah kujadikan dendam

Beberapa sudah kulahap

Kulumat dengan seksama, dengan segala daya upaya

Karena mereka, aku retak-retak

 

Retaklah sudah hariku

Maka lumatlah sepanjang jalanku

Agar sempurnalah yang terasa

Menata pun tak dapat tercapai

Retakanlah dengan kesengajaan ataupun sebaliknya

 

 

07-03-2010

 

 

Simalakama Abadi

 

Semenjak kutahu awal dan akhir kelahiran murni

Seperti simalakama yang ada

Antara senang dan sendu yang bercampur sesal

Tapi apa daya manusia jikalau sudah begini

Sambut sajalah dan tikamlah senja yang ada di depancakrawala

Dentumkan ada, dentumkan tiada

Berbalik berada depan-belakang

Berdepanan

Hingga hilang pantulan cermin diri

 

07-03-10

 

 

 

Tungku Petuahku

 

Bisikan-bisikan nurani,dengarkah dirimu?

Diamlah sejenak hingga kaumendengarnya

Sstttttttttttt… buat harapandengan tulus

Agar petuah yang kini kauharapkan tidak terbakar di atas tungku itu

 

Tungku petuahku bersemayam dibalik rahasia-rahasia jiwa

Sukar ku mengerti, sukar pula kusadari

Hingga petuahku kira-kirabegitulah adanya

Berada di atas tungku hingga akumati suri

 

Hingga lamunan hanyalah sebataslamunan

Yang mencoba memadamkan api-apiabadi

Hingga ku lahirkan kembalipetuah yang dulu lagi

Kisah masa-masa tanpa satu makna

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s