Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006 59

Standard

Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006 59
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran
Peran Guru dalam Membangun
Kesadaran Kritis Siswa

*) Kepala Jenjang SMAK BPK PENABUR Jakarta
Opini
al yang sangat sering kita dengar dalam
dekade terakhir ini adalah menurunnya
mutu pendidikan, darimana masyarakat
menilai? Apa yang diamati oleh
masyarakat adalah anak sekarang tidak dapat
memahami hal-hal yang sederhana yang terjadi
di sekelilingnya baik dalam fungsi hitungmenghitung,
fungsi sosial, maupun perilaku dan
moral mereka. Mereka lebih senang tawuran
daripada belajar padahal mereka diberi pelajaran
Pendidikan Moral Pancasila yang sarat dengan
nilai-nilai moral dan etika selama bertahun-tahun,
mereka lebih senang membuat gaduh dan tidak
tertib daripada berkreasi, mereka cenderung
menginginkan segala sesuatu yang instan tanpa
mau bersusah payah dan berpikir keras, inisiatif
serta kreativitas mereka terbatas. Dimana letak
kesalahan pendidikan kita? Siapa yang salah?
Para siswa, orang tua, pendidik, sistem
pendidikan kita atau Pemerintah sebagai
pengambil kebijakan?
Sistem pendidikan kita membatasi setiap ruang
gerak anak. Anak tidak mempunyai kebebasan
untuk mengungkapkan apa saja yang menjadi
buah pemikirannya. Mereka “ditakdirkan” hanya
cukup menerima pemberian guru. Sebab jargon
yang mengatakan bahwa “guru tahu segalanya”
masih banyak berlaku sehingga sistem yang
berjalan adalah satu arah, hanya dari guru ke anak.
Tidak ada informasi dari anak ke guru, atau timbal
balik keduanya. Bukan hanya guru, tetapi
pendidikan secara menyeluruh telah menciptakan
generasi inggah-inggih (generasi “asal bapak
senang).
Dari diskusi siswa-siswi di suatu sekolah di
Jakarta yang dimuat dalam majalah Basis,
Menggugat Dunia Pendidkan Kita, 1998,: “Menurut
pandangan kami yang dimaksud dengan
“mencerdaskan” adalah membentuk manusia
yang mempunyai pola pikir yang logis, kritis dan
reflektif, serta mampu mengungkapkan isi
pikirannya, berwawasan luas dan mempunyai
daya analisis yang tajam”. Sementara sistem
pendidikan sekarang ibarat gelas kecil yang diisi
penuh air melalui selang pemadam kebakaran,
pada akhirnya akan tumpah ruah karena tidak
dapat lagi menampung air yang disemprotkan.
Kesadaran kritis lebih melihat pada aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Ciri-ciri pokok dari
pembelajaran yang membangun kesadaran kritis adalah belajar dari realitas atau pengalaman, tidak menggurui
dan dialogis. Pola pembelajaran searah kurang dapat menumbuhkan kesadaran kritis. Peran guru yang lebih
tepat untuk membangun kesadaran kritis adalah sebagai fasilitator, dan siswa sebagai subjek bukan objek
pembelajaran.
Kata kunci : Peran guru, siswa, pembelajaran, kesadaran ktitis
The critical consciousness tends to see the system and structural aspect as a problem source.The main
feature in developing the critical consciousness is learning from reality or experience, not dictating but
interacting. One way instructional process does not develop the critical consciousness
In improving the critical consciousness the teacher is expected to act more as a fasilitator, and the student
plays as the subject, not the object of learning process.
Abstrak
H
Pendahuluan
60 Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran Kritis Siswa
Tidak dapat dipungkiri kalau sistem
pendidikan seperti ini akan mematikan
kreativitas, sikap kritis dan potensi siswa.
Pendidikan justru membawa para siswa menjadi
‘jauh’ dari lingkungannya, tidak peka terhadap
lingkungannya sendiri karena hanya
mementingkan hal-hal yang bersifat akademis dan
materiil. Pelajaran-pelajaran hanya diberikan
secara teoritis belaka tanpa ditelaah secara
mendalam dan mengkritisinya serta diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pelajaranpelajaran
tersebut tidak bermanfaat.
Hal-hal tersebut di atas membuat siswa tumbuh
dan dibentuk menjadi pribadi-pribadi yang
individualis, dangkal dan lama kelamaan akan
menanamkan sifat “emang gue pikirin”, sementara
guru-guru hanya melaksanakan tugasnya sebagai
pengajar, bukan sebagai pendidik karena mereka
hanya mengejar target materi-materi kurikulum.
Salah satu kelemahan utama pendidikan kita
adalah tidak membangun kesadaran kritis siswa
dalam belajar. Kita lebih banyak menjejalkan
pengetahuan ke dalam otak siswa tanpa mau tahu
apakah pengetahuan yang kita berikan diserap
dengan baik atau tidak karena kita hanya
menuntut mereka untuk menghafalkan apa yang
kita berikan. Tidak heran kalau siswa sering kali
menjawab “tidak tahu” jika guru bertanya sesuatu
yang baru saja diajarkan
kepada mereka. Dalam
taxonomi Bloom tingkat
belajar yang paling rendah
adalah menghafal dan ini
sudah menjadi pola belajar
siswa kita bahkan sampai
tingkat mahasiswa
sekalipun. Bagaimana
mungkin otak mereka
mampu menyerap secara
mendalam ilmu pengetahuan
yang kita berikan karena
terlalu banyaknya bahan
pelajaran yang kita berikan, dengan demikian
pengetahuan itu tidak sempat mengendap dan
dicerna dengan baik. Apa yang dilakukan oleh
para guru selama ini adalah sesuatu yang sia-sia.
Sungguh keprihatinan yang luar biasa karena
pekerjaan mulia para guru ini kurang bermanfaat
bagi perkembangan anak didik.
Lalu pertanyaannya menjadi, apakah yang
hendak kita capai melalui pendidikan untuk anakanak
kita? Orang tua mengharapkan anaknya
bertumbuh menjadi manusia yang mandiri dan
mampu menentukan pilihan-pilihannya secara
bertanggung jawab. Untuk itu diperlukan
kesadaran kritis mengenai tanggung jawab
sebagai manusia. Lalu mengapa kita tidak
membangun kesadaran kritis para siswa untuk
belajar sesuatu yang lebih berguna, dengan
demikian siswa akan belajar “living value”.
Berpikir kritis merupakan salah satu ciri manusia
yang cerdas. Akan tetapi berpikir kritis akan terjadi
apabila didahului dengan kesadaran kritis yang
diharapkan dapat ditumbuh kembangkan melalui
pendidikan. Tulisan ini mencoba menelaah peran
guru untuk membangun kesadaran kritis siswanya.
Disadari bahwa guru mengemban berbagai peran
sebagai pembelajar di sekolah, akan tetapi telaah
berikut ini dibatasi pada perannya dalam
membangun kesadaran kritis siswa.
Paulo Fraire, seorang ahli pendidikan dari Brazilia,
(1921–1997) banyak mengkritisi teori-teori dan
praktek pendidikan pada jamannya. Dalam
bukunya yang terkenal yakni
Pedagogy of Opressed, 1978
(Pendidikan Kaum Tertindas)
dan Cultural Action for Freedom,
1977 (Gerakan
Kebudayaan Untuk
K e m e r d e k a a n ) ,
menggolongkan kesadaran
manusia menjadi tiga kategori
: Kesadaran magis, kesadaran
naïf dan kesadaran kritis.
Kesadaran magis (magical
consciousness), adalah suatu
kesadaran masyarakat yang
tidak mampu mengetahui kaitan antara suatu
faktor dengan faktor lainnya. Dalam dunia
pendidikan, jika proses belajar mengajar tidak
mampu melakukan analisis terhadap suatu
masalah maka proses belajar mengajar tersebut
dalam prespektif Freirean disebut sebagai
pendidikan fatalistic. Proses pendidikan modern
ini tidak memberikan kemampuan analisis, kaitan
antara sistem dan struktur terhadap suatu
permasalahan masyarakat. Murid secara dogmatik
menerima ‘kebenaran’ dari guru, tanpa ada
mekanisme untuk memahami ‘makna’ ideologi
Tinjauan Teoritis
Filsafat Pendidikan Paulo Fraire
Masalah
Berpikir kritis merupakan
salah satu ciri manusia yang
cerdas. Akan tetapi berpikir
kritis akan terjadi apabila
didahului dengan kesadaran
kritis yang diharapkan dapat
ditumbuhkembangkan
melalui pendidikan.
Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006 61
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran
dari setiap konsepsi atas kehidupan masyarakat.
Kesadaran naif (naival consciousness), kesadaran
ini lebih melihat ‘aspek manusia’ menjadi akar
penyebab masalah masyarakat. Pendidikan dalam
konteks ini tidak mempertanyakan sistem dan
struktur yang ada sudah baik dan benar.
Semuanya merupakan faktor “given” dan oleh
sebab itu tidak perlu dipertanyakan. Tugas
pendidikan adalah bagaimana membuat dan
mengarahkan agar siswa dapat masuk
beradaptasi dengan sistem yang sudah benar
tersebut.
Kesadaran kritis (critical consciousness),
kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan
struktur sebagai sumber masalah. Paradigma
kritis dalam pendidikan, melatih siswa dapat
untuk mampu mengidentifikasi ‘ketidakadilan’
dalam sistem dan struktur yang ada, kemudian
mampu melakukan analisis bagaimana sistem dan
struktur itu bekerja, serta bagaimana
mentransformasikannya.
Bagi Fraire pendidikan haruslah berorientasi
kepada pengenalan realitas diri manusia dan
dirinya sendiri, sistem pendidikan yang ada
selama ini dapat diandaikan sebagai sebuah
“bank” (banking concept of education). Pelajar diberi
ilmu pengetahuan agar ia kelak dapat
mendatangkan hasil yang berlipat ganda. Jadi
anak didik sebagai objek investasi dan sumber
deposito potensial.
Secara sederhana Fraire menyusun daftar
antagonisme pendidikan “gaya bank” itu sebagai
berikut :
 Guru mengajar, murid belajar.
 Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apaapa.
 Guru berpikir, murid dipikirkan.
 Guru bicara, murid mendengarkan.
 Guru mengatur, murid diatur.
 Guru memilih dan memaksakan pilihannya,
murid menuruti.
 Guru bertindak, murid membayangkan
bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan
gurunya.
 Guru memilih apa yang akan diajarkan, murid
menyesuaikan diri.
 Guru mengacaukan wewenang ilmu
pengetahuan dengan wewenang
profesionalismenya, mempertentangkannya
dengan kebebasan murid-murid.
 Guru adalah subyek proses belajar, murid
obyeknya.
Oleh karena guru yang menjadi pusat
segalanya, maka merupakan hal yang lumrah saja
jika kemudian murid-murid mengidentifikasikan
diri seperti gurunya sebagai prototip manusia ideal
yang harus digugu dan ditiru. Sistem pendidikan
yang bersifat satu arah yang menjadikan guru
sebagai subjek dan murid sebagai objek melahirkan
hubungan yang otoriter antara guru dan murid.
Pada saatnya sistem dan praktek pendidikan
seperti itu melahirkan generasi baru manusiamanusia
penindas.
Bagi Fraire, sistem pendidikan sebaiknya harus
menjadi kekuatan penyadar dan pembebas umat
manusia. Sistem pendidikan mapan selama ini
telah menjadikan anak didik sebagai manusiamanusia
yang terasing dan tercerabut (disinherited
masses) dari realita dirinya sendiri dan karena ia
telah dididik menjadi seperti orang lain yang
bukan dirinya sendiri.
Manusia pada dasarnya adalah kesatuan dari
fungsi berpikir, berbicara dan berbuat.
Kemanunggalan karsa, kata dan karya disebut
praxis. Prinsip praxis inilah yang menjadi
kerangka dasar sistem dan metodologi pendidikan
Fraire. Seperti yang digambarkan dalam diagram
di bawah ini :
Gambar 1: Kerangka Dasar Sistem dan metodologi
Pendidikan Praire
Dengan aktif bertindak dan aktif berpikir
sebagai pelaku, dengan terlibat langsung dalam
permasalahan nyata, dan dalam suasana yang
dialogis, maka pendidikan segera menumbuhkan
kesadaran yang menjauhkan seseorang dari “rasa
takut akan kemerdekaan” (fear of freedom). Proses
kesadaran seseorang merupakan proses inti atau
hakikat dari proses pendidikan itu sendiri. Dunia
kesadaran seseorang tidak boleh berhenti atau
mandeg, harus senantiasa berproses, berkembang
dan meluas dari satu tahap ke tahap berikutnya,
dari tingkat “kesadaran naïf” sampai ketingkat
“kesadaran kritis”, sampai akhirnya mencapai
tingkat kesadaran tertinggi dan terdalam yaitu
“kesadarannya kesadaran” (the consice of the
consiousness).
Bertindak
Bertindak
Dst …
Berpikir
Berpikir
62 Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran Kritis Siswa
Jika seseorang sudah mampu mencapai tingkat
kesadaran kritis terhadap realitas, maka orang
itupun mulai masuk ke dalam proses pengertian
dan bukan proses menghafal semata-mata. Ia
menjadi orang yang mengerti bukanlah orang
yang menghafal, karena ia menyatakan diri atau
sesuatu berdasarkan suatu “kesadaran”,
sedangkan orang yang menghafal hanya
menyatakan diri atau sesuatu secara mekanis
tanpa perlu sadar apa yang dikatakannya,
darimana ia telah menerima hafalan yang
dinyatakannya, dan untuk apa ia menyatakannya.
Seseorang yang telah mencapai kesadaran kritis
akan dapat berpikir kritis, tidak membeo saja, tetapi
dapat melontarkan pertanyaan dan tanggapan
kritis. Kita membutuhkan orang-orang yang
mampu berpikir kritis untuk dapat menjawab
tantangan masa depan pada era globalisasi yang
serba tidak pasti dan berubah sangat cepat.
Berpikir kritis mencakup seluruh proses
mendapatkan, membandingkan, menganalisis,
mengevaluasi, internalisasi dan bertindak
melampaui ilmu pengetahuan dan nilai-nilai.
Berpikir kritis bukan sekedar berpikir logis sebab
berpikir kritis harus memiliki keyakinan dalam
nilai-nilai, dasar pemikiran dan percaya sebelum
didapatkan alasan yang logis dari padanya (Steven
D. Schafersman, 1998). Berpikir kritis berarti
berpikir tepat dalam pencarian relevansi dan andal
tentang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai tentang
dunia. Berpikir kritis adalah berpikir yang
beralasan, reflektif, bertanggung jawab dan
terampil berpikir yang fokus dalam pengambilan
keputusan yang dapat dipercaya.
Seseorang yang berpikir kritis dapat
mengajukan pertanyaan dengan tepat,
memperoleh informasi yang relevan, efektif dan
kreatif dalam memilah-milah informasi, alasan
logis dari informasi, sampai pada kesimpulan
yang dapat dipercaya dan meyakinkan tentang
dunia yang memungkinkan untuk hidup dan
beraktifitas dengan sukses di dalamnya. Adalah
tidak mungkin untuk mendapatkan aktualisasi
diri tanpa melatih berpikir kritis. Kebiasaan
berpikir kritis itu tidak akan terjadi tanpa didahului
oleh kesadaran kritis.
Peran guru dalam pendidikan formal (sekolah)
adalah “mengajar”. Saat ini banyak guru yang
karena kesibukannya dalam mengajar lupa bahwa
siswa yang sebenarnya harus belajar. Jika guru
secara intensif mengajar tetapi siswa tidak intensif
belajar maka terjadilah kegagalan pendidikan formal.
Jika guru sudah mengajar tetapi murid belum
belajar maka guru belum mampu membelajarkan
murid.
Menurut Yamamoto, belajar mengajar akan
mencapai titik optimal ketika guru dan murid
mempunyai intensitas belajar yang tinggi dalam
waktu yang bersamaan. Kedudukan guru dan
siswa haruslah dianggap sejajar dalam belajar, jika
kita memandang siswa adalah subyek pendidikan
(Sumarsono, 1993). Guru dan siswa sama-sama
belajar, kebenaran bukan mutlak di tangan guru.
Guru harus memberi kesempatan seluas-luasnya
bagi siswa untuk belajar dan memfasilitasinya agar
siswa dapat mengaktualisasikan dirinya untuk
belajar. Gurupun harus mengembangkan
pengetahuannya secara meluas dan mendalam
agar dapat memfasilitasi siswanya. Inilah peran
guru dari guru.
Kesalahan fatal yang dilakukan pendidik orang dewasa
adalah usaha dalam mendefinisikan fungsi dirinya
sebagai pelaku tunggal bagi perubahan tingkah laku dan
berbuat seolah-olah tugas prinsipnya adalah untuk
mengkomunikasikan ide-ide, mendesain latihan (exercise),
untuk mengembangkan pengetahuan,
keterampilan atau sikap tertentu untuk menentukan
perubahan tingkah laku dan melakukan survey untuk
mendeteksi kebutuhan. (Kezirow,1987)
Di samping orang tua, pelaku utama
pendidikan adalah guru, sehingga seringkali guru
dalam paradigma lama berlaku sebagai sumber
utama ilmu pengetahuan dan menjadi segalagalanya
dalam pengajaran. Guru adalah orang
yang digugu dan ditiru, sehingga tak pelak lagi guru
menjadi orang yang setengah didewakan oleh
anak didiknya. Tetapi peran guru yang sentral
dalam pendidikan kurang berpengaruh terhadap
pembelajaran siswanya. Hal ini tentunya sebatas
hubungan formal yang tidak mendalam dalam
membangun kesadaran siswa untuk belajar
dengan sepenuh hatinya.
Guru pada era sekarang bukan satu-satunya
sumber pengetahuan karena begitu luas dan cepat
akses informasi yang menerpa kita, sehingga tidak
mungkin seseorang dapat menguasai begitu luas
dan dalamnya ilmu pengetahuan serta
perkembangannya. Akan lebih tepat jika guru
berlaku sebagai fasilitator bagi para siswanya
sehingga siswa memiliki kepandaian dalam
memperoleh informasi, belajar memecahkan
Peran Guru
Berpikir Kritis
Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006 63
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran
masalah, menarik kesimpulan, menuliskan,
mengekspresikan apa yang diketahuinya, ini akan
membuat siswa menjadi seorang pembelajar yang
luar biasa.
Ki Hajar Dewantoro merumuskan peran guru
dalam mendidik di sekolah sebagai berikut ing
ngarso sung tulodo, di depan memberi teladan, ing
madyo mangun karso, di tengah membangun
kreativitas dan tut wuri handayani, di belakang
memberi semangat. Hingga sekarang peran ini
masih aktual dan menjadi dasar dari semua peran
yang dijalankan seorang guru dalam mendidik,
bagaimana guru berperan sebagai teladan, mediator
sekaligus motivator dalam proses
pembelajaran, dengan pendekatan/metode
apapun yang digunakan oleh guru.
Pendidikan abad ke-21 diprediksi akan jauh
berbeda dengan sebelumnya sehingga UNESCO
pada tahun 1977 sudah mulai menggali esensi dari
pendidikan dan kemudian memperkenalkan The
Four Pillars of Education, yaitu Learning to know,
Learning to do, Learning to live together, dan Learning
to be, untuk mengantisipasi perubahan yang bukan
hanya linier tetapi mungkin eksponensial yang
diantisipasi akan terjadi di masyarakat yang
mengglobal.
Paolo Fraire mencoba untuk mengungkapkan
kondisi kemanusiaan yang sedemikian rapuh
dalam masyarakat kita dengan kejujuran tanpa
tedeng aling-aling. Pernyataan-pernyataan Fraire
memang sering kontroversial, meletup-letup dan
memancing banyak pertanyaan bahkan kritik,
namun fakta yang diungkapkannya adalah
realitas tak terbantahkan di hampir semua, negara
dunia ketiga. Dalam model banking seperti yang
diuraikan oleh Fraire, guru sangat aktif dan siswa
menjadi pasif dalam proses belajar mengajar di
sekolah. Gurulah yang berkuasa untuk
menentukan semuanya, sedangkan siswa hanya
menurut saja. Siswa dijadikan objek dan tidak
mempunyai hak untuk ikut menentukan. Aktor
utama adalah guru bukan siswa. Hal itu tampak
praktek guru seperti indoktrinasi sedangkan siswa
hanya menerima apa yang diajarkan guru dan
tidak boleh bertanya apalagi bersikap kritis.
Guru seringkali menekankan pada hanya ada
satu nilai/jawaban yang benar, juga guru
mengharuskan siswa untuk menggunakan satu
jalan saja, tanpa boleh menggunakan cara lain.
Jika siswa mengungkapkan gagasan alternatif,
selalu disalahkan. Hal ini kadang disebabkan
karena guru sendiri tidak memiliki pengetahuan
yang luas sehingga tidak memahami ada
bermacam-macam alternatif jawaban. Seringkali
guru beranggapan siswa yang banyak bertanya
sebagai pengganggu, apalagi kalau
pertanyaannya tidak dapat dijawab oleh guru.
Pola pengajaran demikian membuat siswa kita
tidak kreatif, tertekan, tidak bebas dalam
mengungkapkan pemikirannya. Jika kita ingin
mengubah pendidikan kita maka metode
pengajaran di atas perlu diubah dengan metode
pengajaran yang membuat siswa aktif, model
multinilai dan multikebenaran, bebas berbicara,
diperbolehkan salah, metode ilmiah dengan
pencarian bebas, berpikir kritis, membahas
masalah masyarakat secara terbuka, hubungan
guru-siswa dialogis (Paul Suparno, 1999)
Seperti yang diungkapkan Andy Hakim
Nasoetion, dalam Ilmu untuk Kehidupan dan
Penghidupan, seorang murid SD dari suatu desa
mengajukan pertanyaan kritis sebagai berikut:
“Kalau saya seorang astronut dan membawa kipas
ke ruang angkasa, kemudian saya kipas-kipaskan,
apakah akan terjadi angin?”. Disusul oleh
pertanyaan dari seorang murid SMP sebagai
berikut: “Kalau saya nyalakan lilin, nyalanya
menuju ke atas. Akan tetapi, kalau lilin itu saya
balikkan sumbunya kearah bawah, mengapa
nyalanya tidak mengarah ke bawah, melainkan
ke atas juga sehingga melelehkan ujung lilin itu
lebih cepat?”. Ternyata pertanyaan-pertanyaan itu
cukup sukar dijawab oleh para guru, guru tidak
siap dalam menjawab pertanyaan kritis dari
muridnya. Guru tidak suka merangsang murid
untuk bertanya karena pengetahuan guru yang
terbatas dan tidak memahami konsep-konsep sains
secara mendalam.
Guru harus menjadi agen perubahan dengan
mengubah paradigma berpikirnya terlebih dulu.
Guru harus siap dan dapat mengantisipasi dalam
menghadapi setiap perubahan yang terjadi, karena
dengan memberi kebebasan bagi siswa untuk
berpikir dan berekplorasi maka seringkali apa yang
dipikirkan dan ditemukannya berbeda dengan apa
yang selama ini menjadi pemahaman guru. Di
samping itu guru harus terus menerus
mengaktualisasikan diri, belajar memperluas dan
memperdalam pengetahuannya agar dapat
memfasilitasi siswa dalam belajar. Guru harus
membuat dirinya kompeten dan profesional. Hal
ini berarti guru perlu secara terus menerus
mengembangkan kemampuannya dalam
menguasai disiplin ilmu yang diajarkannya serta
Pembahasan
64 Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran Kritis Siswa
metodologi pembelajaran. Guru diharapkan
memberdayakan siswanya dalam proses
pembelajaran sehingga siswa benar-benar
memperoleh pengalaman belajar melalui metode
pembelajaram yang tepat.
Di antara berbagai metode pembelajaran siswa,
metode ceramah banyak dipergunakan oleh guru
dalam berbagai situasi dan tujuan. Pada masa lalu,
dan mungkin juga sampai sekarang, banyak
orang berpendapat seseorang yang disebut sebagai
guru berdiri di depan kelas sementara yang lain
duduk diam mendengarkan dan melaksanakan
perintahnya. Metode ini hingga sekarang masih
berlaku. Pusat pengetahuan hanya ada pada sang
guru. Metode mengajar seperti ini kurang
mengaktifkan siswa untuk memperoleh ilmu
pengetahuan dan belajar tentang nilai-nilai.
Belajar secara aktif akan lebih baik jika proses
belajar itu didorong oleh metode pengembangan
kemampuan dan pengetahuan yang diproses dari
pengalaman masing-masing. Metode ini akan
menimbulkan suatu pengalaman belajar yang lain
yang lebih menantang baik bagi guru maupun
siswa. Guru akan berperan sebagai fasilitator yang
mendorong semangat belajar siswanya, dan
menjadi faktor pendorong terjadinya perubahan.
Diakui bahwa metode ceramah efektif untuk
penyampaian pelajaran yang bersifat kognitif
dengan jumlah siswa yang besar dalam suatu
kelas. Akan tetapi penggunaan metode ini secara
tidak tepat dapat menimbulkan hal-hal negatif
sebagai berikut:
1. Pengetahuan yang disampaikan hanya
didasarkan pada apa yang dimiliki
penceramahnya, ibarat komunikasi maka
hanya satu arah tanpa peran partisipan, dan
tak ada umpan balik dari pendengarnya.
2. Ada kesenjangan pengetahuan antara
penceramah dan pendengarnya.
Anggapannya peserta adalah orang yang
tidak berpengetahuan sama sekali sehingga
harus diisi.
3. Peserta hanya menerima informasi secara
pasif, maka mereka akan cepat bosan dan
lelah.
4. Metode kuliah menekankan pada transfer
informasi dan fakta, lebih banyak
mengandalkan pesan-pesan dari informasi
dibandingkan denga faktanya.
5. Rentang waktu peserta untuk dapat
berkonsentrasi penuh sangat terbatas, apalagi
ceramah dengan suara monoton. Rata-rata
orang melupakan 50% dari apa yang mereka
dengar.
6. Penceramah biasanya tidak memiliki cara
untuk memastikan seberapa jauh para peserta
menangkap dan memahami apa yang
disampaikan penceramah, apalagi jika tidak
ditinjau ulang selama ceramah atau setelah
ceramah.
Metode ceramah tidak membuat siswa berpikir
secara aktif, apalagi kritis sehingga metode ini tidak
tepat untuk dapat membangun kesadaran kritis
siswa. Dengan waktu yang terbatas serta jumlah
siswa yang banyak dalam kelas, guru tidak mampu
melayani berbagai pertanyaan siswa dengan baik.
Menurut Vigotsky, proses belajar yang dapat
meningkatkan semangat siswa adalah dengan
berdiskusi, banyak bertanya, bereksplorasi, dan
bermain (fun learning), sehingga kemampuan verbal
dan motoriknya berkembang, termasuk
kemampuan berpikir kritisnya (higher order thinking).
Akan tetapi guru yang telah terbiasa dengan
metode tertentu merasa telah nyaman dengan
metode tersebut cenderung mempertahankannya
sungguhpun hasilnya kurang dapat membuat
siswa berpikir kritis. Keengganan guru tersebut
juga diungkapkan oleh Ratna Megawangi, dalam
Otonomi Sekolah, 2005, dengan mengatakan
“Masalah yang sering kami hadapi di Indonesia
Heritage Foundation, ketika melatih para guru
untuk mengubah metode pembelajaran di kelas
agar tujuan membangun manusia holistik yang
berkarakter dapat tercapai, yaitu ketakutan dan
keengganan para guru untuk memperbaiki metode
pembelajaran di kelas agar sesuai dengan teoriteori
yang berlaku (misalnya Piaget, Erik Erikson,
Vigotsky, dll).
Dari uraian di atas jelaslah bahwa membangun
kesadaran kritis tidak dapat dilakukan dengan
pola pengajaran ceramah, seperti yang selama ini
dilakukan oleh para guru.
Bagaimana Cara Membangun
Kesadaran Kritis?
Kerugian dari Mendengarkan
dalam Metode Ceramah
Metode Ceramah
Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006 65
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran
Proses Pendidikan Kritis, menurut Mansour Fakih,
2001.
Suatu penyelenggaraan belajar-mengajar,
merupakan proses pendidikan kritis harus
mencerdaskan sekaligus bersifat membebaskan
pesertanya untuk menjadi pelaku (subjek) utama,
bukan sasaran perlakuan (objek), dari proses
tersebut.
Artinya bahwa siswalah yang aktif untuk mencari
pengetahuannya dan menentukan apa yang ingin
dipelajari dan, guru berfungsi memfasilitasi siswa.
Ciri-ciri pokok dari pembelajaran yang
membangun kesadaran kritis, yaitu :
1. Belajar dari realitas atau pengalaman : yang
diajarkan bukan ajaran (teori, pendapat,
kesimpulan, wejangan, dsb) tetapi realitas
nyata. Keabsahan pengetahuan seseorang
ditentukan oleh pembuktiannya dalam
realitas tindakan atau pengalaman langsung
bukan pada retorika teoritik.
2. Tidak menggurui : guru dan murid samasama
belajar.
3. Dialogis : prosesnya bukan bersifat satu arah
tetapi lebih pada diskusi kelompok, bermain
peran dsb dan menggunakan media (peraga,
grafik, audio visual, dsb) yang lebih
memungkinkan terjadinya dialog kritis antara
semua orang.
Panduan proses belajar harus disusun dan
dilaksanakan dalam suatu proses yang dikenal
sebagai “daur belajar dari pengalaman yang
distrukturkan” (structural experiences learning
cyrcle) agar pendidikan kritis dapat dicapai dalam
pembelajaran. Proses ini memungkinkan setiap
orang untuk mencapai pemahaman dan
kesadaran kritis dengan cara terlibat didalamnya
secara langsung ataupun tidak. Proses yang
melibatkan setiap orang yang belajar itu adalah :
1. Rekonstruksi: yaitu menguraikan kembali
rincian (fakta, unsur-unsur, urutan kejadian,
dll). Ini tahap proses mengalami, menggali
pengalaman dengan cara melakukan
kegiatan. Apa yang dilakukan dan dialami
adalah mengerjakan, mengamati, melihat dan
mengatakan sesuatu. Pengalaman ini yang
menjadi titik tolak proses belajar selanjutnya.
2. Ungkapkan: setelah mengalami, maka tahap
berikutnya yaitu proses mengungkapkan/
menyatakan kembali apa yang sudah
dialami, bagaimana tanggapan, kesan atas
pengalaman tersebut.
3. Analisis: yaitu mengkaji sebab dan kaitan
permasalahan yang ada dalam realitas
tersebut yaitu tatanan, aturan-aturan, sistem
dari pokok pembahasan.
4. Kesimpulan: yaitu merumuskan makna atau
hakekat dari apa yang dipelajari, sehingga
terjadi pemahaman baru yang lebih utuh,
berupa prinsip-prinsip, kesimpulan umum
dari kajian atas pengalaman.
5. Tindakan: tahap akhir dari daur belajar ini
adalah memutuskan dan melaksanakan
tindakan-tindakan baru yang lebih baik
berdasarkan pemahaman atau pengertian
atas realitas tersebut, sehingga ada
kemungkinan menciptakan realitas baru yang
lebih baik. Langkah ini diwujudkan dengan
cara merencanakan tindakan dalam rangka
menerapkan prinsip-prinsip yang telah
disimpulkan.
Proses pengalaman belumlah lengkap,
sebelum didapatkan ajaran baru, pengalaman
baru, penemuan baru yang dilaksanakan dan diuji
dalam perilaku yang sesungguhnya, dalam
penerapan ini juga menimbulkan pengalaman
baru. Daur proses ini akan berulang kembali dari
awal, konsep learning by doing tercipta dalam daur
ini.
Gambar 2: Daur Belajar dari Pengalaman yang
Distrukturkan
Proses pendidikan kritis untuk
menumbuhkan kesadaran kritis, akan tercapai
jika guru menempatkan diri sebagai fasilitator
yang siap untuk melayani siswa dalam belajar,
bukan untuk menggurui dan berlaku sebagai satusatunya
sumber ilmu dan kebenaran. Dengan
lebih banyak menggunakan metode ilmiah dan
eksperimen agar siswa sebanyak mungkin
merasakan dan mengalami dalam suasana yang
dialogis.
Selama ini guru cenderung kurang mempedulikan
apakah siswanya memiliki motivasi dalam belajar,
karena yang penting adalah materi yang harus
disampaikan selesai. Padahal jika seseorang tidak
5
Tindakan
1
Rekontruksi
2
Ungkapan
3
Analisis
4
Kesimpulan
Motivasi Belajar
66 Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran Kritis Siswa
memiliki motivasi yang kuat dalam belajar maka
mustahil mereka akan mampu mempelajari
sesuatu dengan baik. Tugas seorang fasilitator
adalah justru membangkitkan motivasi itu, yaitu
dengan menciptakan cara-cara kreatif untuk
memotivasi siswa. Dengan demikian diharapkan
siswa akan belajar dengan penuh semangat.
Banyak masalah untuk membangun suasana
belajar dan membelajarkan siswa yang aktif dan
menarik dan sebagai aktor utama, guru, seringkali
secara personal mempunyai banyak kendala.
Tetapi tentu saja hal tersebut dapat dipelajari jika
diawali dengan niat yang sungguh-sungguh,
meskipun untuk menjadi fasilitator yang baik
memang diperlukan pengalaman dan jam terbang
yang cukup tinggi.
Mengutip pendapat dari Jenny Rogers,
fasilitator akan dengan semangat, peka dan
cermat memandu sebuah proses belajar jika ia
memiliki watak/karakter :
1. Kepribadian yang menyenangkan.
2. Kemampuan sosial, dengan kemampuan
menciptakan dinamika kelompok.
3. Mampu mendesain cara memfasilitasi yang
membangkitkan semangat para partisipan.
4. Mampu mengorganisasi kegiatan.
5. Cermat dalam melihat persoalan partisipan.
6. Memiliki ketertarikan terhadap subyek.
7. Fleksibel dalam merespon perubahan
kebutuhan belajar.
8. Pemahaman atas materi pokok pembahasan.
Dalam perspektif dan metodologi pendidikan
kritis, penggunaan media merupakan suatu
keharusan dalam hal siswa menemukan dengan
pengalamannya sendiri, bukan hafalan, teori, atau
kaidah dan rumus-rumus. Media akan membantu
siswa untuk memvisualkan hal-hal abstrak,
mengasah rasa, merangsang kreatifitas,
menemukan pengetahuan, memahami konsep,
dll. Agar dapat berfungsi meningkatkan mutu
proses dan hasil belajar, media harus disiapkan
dan dirancang dengan cermat oleh guru untuk
mencapai tujuan pembelajarannya. Di sini guru
dituntut untuk kreatif dan inovatif.
Sebagai contoh program Managing Basic Education
(MBA), dalam pendampingan sekolah di Pacitan
Jawa Timur mempergunakan Pembelajaran Aktif,
Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) yang
disusun oleh Lynne Hill. PAKEM memenuhi
syarat untuk mengembangkan kesadaran kritis
dalam diri siswa.
Pembelajaran yang baik dimulai dengan
perencanaan yang baik, kemudian diusahakan
agar pembelajaran menarik dan menantang serta
aktif. Hal ini memerlukan kreativitas guru dan
aktualisasi yang terus menerus agar dapat
memfasilitasi siswa dengan baik.
Dalam merencanakan pembelajaran yang
baik guru dapat melakukan hal-hal berikut:
1. Mengidentifikasi dengan tepat tujuan
pembelajaran (kompetensi yang diinginkan)
2. Mengidentifikasi apa yang telah diketahui
siswa dan mengembangkan pembelajaran
berdasarkan informasi tersebut.
3. Membuat urutan pembelajaran terdiri dari
beberapa tahap dan kegiatan.
4. Menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang
efektif.
5. Menyiapkan bahan dan sumber belajar.
6. Mengorganisasikan kelas dan mengelola
sumber-sumber yang direncanakan dengan
baik.
7. Memutuskan bagaimana menilai hasil belajar
siswa.
8. Merencanakan proses maupun hasil belajar
(produk). Proses dan produk pembelajaran:
apa yang akan dikerjakan siswa dan
bagaimana mengerjakannya (proses), dan
bagaimana siswa akan mendemonstrasikan
hasil belajar mereka (produk).
Agar pembelajaran menarik dan menantang
sehingga meningkatkan motivasi belajar, guru
hendaknya berusaha agar :
1. tidak terlalu banyak bicara dan memberikan
ceramah tetapi memberi kesempatan pada
siswa untuk melakukan sendiri kegiatan
yang sudah dirancang;
2. siswa tidak terlalu banyak mendengarkan
dan menjawab pertanyaan bersama-sama
(koor);
3. melakukan kegiatan meningkatkan
kemampuan berpikir kritis, memecahkan
masalah, termasuk tugas-tugas terbuka,
Pembelajaran yang Baik
Media Pembelajaran
Bagaimana Menjadi
Fasilitator yang Baik?
Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006 67
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran
misalnya percobaan di laboratorium dengan
metode inquiry laboratory lesson yaitu guru
dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan
pengarah untuk merangsang siswa berpikir
untuk memecahkan masalah;
4. mengembangkan pengalaman siswa secara
langsung (sumber belajar tangan pertama)
untuk meningkatkan minat dan motivasi,
misalnya mempelajari tentang hak asasi
manusia dengan cara melakukan wawancara
dengan tokoh atau orang yang mengalami
ketertindasan atau hak-haknya dilanggar.
Pembelajaran yang mengaktifkan siswa:
1. belajar dengan mengerjakan, siswa aktif,
terlibat, berpartisipasi, bekerja;
2. interaksi antar siswa tinggi, belajar kelompok,
berpasangan, bekerjasama;
3. siswa menemukan, memecahkan masalah
dan mengambil kesimpulan dari yang
dipelajari; dan
4. berfokus pada proses pembelajaran bukan
semata-mata hasil atau penyelesaian target
materi pelajaran selesai
Kesadaran kritis sangat diperlukan dalam
pengembangan pribadi dan intelektual siswa
dalam kehidupan sekarang dan maupun
kemudian hari. Kesadaran kritis dan berpikir kritis
dapat dibangun melalui pendidikan di sekolah
dan secara khusus melalui kegiatan belajar dan
pembelajaran.
Untuk menumbuhkan kesadaran kritis serta
berpikir kritis siswa dengan menempatkan siswa
sebagai subjek, maka hal-hal berikut perlu
diperhatikan guru.
1. Pembelajaran di kelas harus berubah dari
berpusat kepada guru menjadi berpusat
kepada siswa.
2. Guru berperan sebagai fasilitator untuk
melayani siswa dalam membelajarkan siswa
dan membuat siswa mengalami serta
menyukai belajar. Untuk itu guru senantiasa
belajar terus menerus mengaktualisasi diri,
memperluas dan memperdalam
pengetahuannya agar efektif dalam
memfasilitasi siswa dalam belajar.
3. Mengajar dengan mengembangkan metode
dialogis dalam diskusi, memberi kesempatan
pada siswa untuk berpikir dan
mengendapkan pengetahuannya, memberi
kesempatan untuk bertanya, berdebat,
berekplorasi untuk menemukan suatu
pemahaman yang baru.
4. Dalam membelajarkan siswa maka
pembelajaran dibuat semenarik mungkin
untuk memotivasi siswa sehingga senang
belajar, dengan demikian merangsang otak
untuk dapat menerima pengetahuan/
pemahaman baru lebih cepat.
5. Membuat perencanaan, persiapkan dengan
media yang dapat membantu siswa dalam
mengalami belajar, menemukan dan
merumuskan sendiri pengetahuannya.
6. Guru berperan sebagai agen perubahan
dengan berani mengubah paradigma
berpikirnya yaitu menjauhkan diri dari
ketakutan dan keengganan mengubah cara
mengajarnya yang tidak efektif serta bersikap
terbuka.
7. Kesadaran kritis akan terbentuk jika siswa
merasa bebas dalam berpikir, berpendapat
dan mengekpresikan diri dalam suasana
belajar yang terbuka, tidak banyak aturanaturan
yang membelenggu, multinilai,
multikebenaran, diperbolehkan salah,
menerapkan metode ilmiah. Guru tidak
menggurui karena guru dan siswa setara.
8. Kesadaran kritis akan membentuk pola
pemahaman konsep yang kuat bukan sekedar
menghafal, mampu untuk mencerna
pengetahuan dengan mendalam, memiliki
cara berpikir kritis menghadapi masalahmasalah
sehari-hari dalam kehidupan.
Pembelajaran dengan membangun kesadaran
kritis akan menghasilkan pembelajaran yang
bermutu.
Pembelajaran yang dapat meningkatkan
kesadaran kritis siswa ialah pembelajaran yang
membuat siswa menjadi pelaku dan berperan aktif
dalam proses belajar dan pembelajaran. Peran
aktif siswa dapat dirangsang dan ditingkatkan
dengan metode pembelajaran yang berfokus pada
kegiatan siswa untuk mengalami belajar (learning
by doing).
Guru sebaiknya melakukan perubahan dalam
mengefektifkan perannya untuk membangun
kesadaran kritis siswa sehingga dapat
menampilkan pembelajaran menjadi lebih
Kesimpulan
68 Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni 2006
Peran Guru dalam Membangun Kesadaran Kritis Siswa
bermutu dan berguna bagi masa depan siswanya
serta mencerdaskan kehidupan bangsa.
Fakih, Mansour, dkk,. (2001). Pendidikan popular,
membangun kesadaran kritis. Yogyakarta: Insist
Hill, Lynne. (2005). Pembelajaran yang baik, dalam
Program Managing Basic Education (MBE) Indonesia.
http://www.mbeproject.net
Majalah BASIS, No. 01-02 tahun ke 47, edisi khusus
Menggugat Dunia Pendidikan Kita, Februari
1998
Megawangi, Ratna. Otonomi sekolah. Suara
Pembaruan Daily, 2005. http://
http://www.suarapembaruan.com
Nasution, Andi Hakim. (2000). Ilmu untuk
kehidupan dan Penghidupan, dalam menggagas
paradigma baru pendidikan. Yogyakarta:
Yayasan Kanisius
Paul, Suparno. (2000). Kurikulum SMU yang
menunjang pendidikan demokrasi, dalam
membuka masa depan anak-anak kita.
Mencari kurikulum pendidikan abad XXI.
Yogyakarta: Yayasan Kanisius
Poerwowidagdo, Judo MA, PhD. (2001).
Meningkatkan kualitas pendidikan Kristen
dalam menjawab perubahan zaman, dalam
pendidikan yang mendidik. butir-butir
pemikiran strategis-reflektif di seputar
pendidikan. Jakarta: Yudhistira
Schafersman, Steven D. (1998). Critical thinking and
its relation to science and humanism,
scahafesd@humanism.net.
Sumarsono. (1993). Pendidikan nilai dan profesi guru,
dalam Pendidikan nilai memasuki tahun 2000.
Jakarta: Grasindo
Supeli, Karlina Laksono. Ringkasan pemikiran: Orang
Tua di dalam Pendidikan Anak-Anak, Media
Kerja Budaya, http://
mkb.kerjabudaya.org , 2003
Tilaar, H.A.R. (1999). Beberapa agenda reformasi
pendidikan nasional. Magelang: Tera Indonesia
Daftar Pustaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s