Kwitang

Standard

Kwitang

Terik mentari membawaku ke pasar padat manusia-manusia, pasar tumpah yang dipadati tulisan-tulisan serba beragam, politik, sastra, ekonomi, budaya, sosial dan lain-lain.aku dibawa ke sebuah toko salahudin seorang penjual buku-buku bekas berkualitas, sastra penuh di toko-toko ini. ini merupakan toko terlengkap yang aku kunjungi, kebetulan aku sedang mencari buku sastra karangan Taufik Ismail.
Mataku berbinar menatapi panggung-panggung buku yang berbaris. Hawa buku-buku lama sangat kental tercium dan seakan memberiku nyama baru. Satu per satu kubaca tulisan-tulisan yang tertera di punggung buku. Terkadang kutarik sebuah buku dan kubaca kemudian kumasukan lagi kedalam barisan. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada sebuah buku yang punggungnya dipenuhi huruf simbol. Sastra jawa kunokah? Ah, tak mungkin, karena setahuku buku-buku sastra jawa kuno telah bersemayam di Leiden university, Belanda. Dan kalaupun ada sisanya, paling buku palsunya. Kalau ada yang asli pasti harganya juga sangat mahal.
Tiba-tiba penjual buku datang, “ada buku yang kamu cari nak?” sebuah sentuhan tangan menyentuh bahuku. “oh, iya pak, saya mau mencari Angin Danau, karya Sitor Situmorang.” Kataku segera mengingat tujuan utamaku datang ke toko ini.
“mari nak,” pak salahudin tersenyum dan mengajakku ke sebuah sudut toko yang tentunya dipenuhi buku juga. Aku salut dengan kekuatan ingatan pak salahudin akan segala sudut dan satu per satu isi tokonya yang dipadati buku-buku yang jumlahnya mencapai ribuan.
Jari telunjukku menyusuri satu per satu punggung buku, kemudian berhenti dan menarik sebuah buku dengan hati-hati.
“Ini yang kamu cari nak?”, katanya sambil menyodorkan sebuah buku dengan sampul yang bergambar ilustrasi panorama air dan awan bearak diatasnya.
“ya, benar pak.” Aku tersenyum sumringah. Karena buku yang kucari selama ini telah dengan susah payah, kini berada di dalam tas punggungku dan telah menjadi milikku sekarang.
Namun rasanya ada sesuatu yang kurang dan tertinggal. Hatiku bertanya-tanya. Apa itu, aku coba mengingat ulang seluruh kejadian hari ini dan akhirnya ingatanku kembali pada sebuah buku dengan huruf-huruf simbolnya.
Ah! Mengapa aku bisa lupa? Hari sudah memasuki maghrib saat ini. tidak mungkin aku kembali ke toko itu, bisa-bisa aku pulang larut malam. Terpaksa aku menunggu esok hari sambil berdoa agar buku itu tidak diambli alih oleh orang lain.
Empat belas jam tak terasa begitu lama saat aku menanti pagi. Dan kembalilah aku disini. Dipasar Kwitang, sedikit tergesa kulangkahkan kaki menuju toko Salahudin. Belum ada satu pun pembeli. Namun kulihat ada setumpukkan buku yang sepertinya baru saja rubuh, pak salahudin yang sedang berjingkok sibuk merapikannya. Kudekati ia dengan niat membantu dan dari dekat aku menyadari kalau pak Salahudin menangis!
“Ah, saya ceroboh nak keytika membersihkan buku,” katanya sambil berusaha menyembunyikan air mata. Lelaki tua ini begitu mencintai buku hingga menangis seperti ini. tiba-tiba kulihat buku jawa Kuno yang tergeletak di lantai. Segera aku mengambilnya.
“kamu orang ketiga yang tertarik pada buku ini nak” kata pak salahudin sambil menatap buku yang ada di tanganku.
“Orang ketiga?” tanyaku dalam hati. Tapi mengapa buku ini belum juga berpindah tangan? Begitu mahalkah harganya sehingga dua orang sebelumku tidak mampu membelinya.
“Harganya tidak mahal nak.” Kata pak salahudin yang seakan mengerti isi pikiranku,” hanya saja untuk membelinya ada beberapa syarat-syarat tertentu dan kamu harus lulus dari syarat ini.
Aku beralih menatap Pak Salahudin, “syarat apa pak?” pertama kau harus menuliskan nama 3 raja keturunan majapahit, kedua kamu harus menuliskan dalam huruf jawa kuno sesuai isi buku ini nama-nama tersebut. “bagaimana nak? Kamu sanggup memenuhi syarat-syarat yang bapak ajukan?” Sejenak aku terdiam dan berharap aku bisa memenuhi permintaan Pak Salahudin. “ya, aku akan mencobanya Pak.”
“Baik, tunggu sebentar bapak ambilkan selembar kertas untukmu.”
Aku mulai mengingat nama-nama raja majapahit, dan huruf-huruf jawa kuno yang dulunya pernah diajarkan pamanku. Semoga saja aku masih mengingatnya.
“Ini nak, silahkan kamu tuliskan sekarang. duduklah dimeja bapak untuk menuliskannya.”
“Baik pak, akan saya coba sekarang.” tanganku mulai menuliskan beberapa nama raja-raja.
Kemudian kusalin dalam tulisan jawa kuno. Setelah selesai kutulis, langsung kuberikan kepada Pak Salahudin. Berharap semua yang kutulis ini benar. Pak Salahudin tersenyum setelah merespon tulisaku. “ambilah buku ini nak, bapak sudah tahu bahwa kamulah yang berhasil mendapatkan buku ini, jaga baik-baik buku ini.”
“Baik pak, kalau begitu terima kasih banyak atas pemberian buku ini Pak. Akan saya jaga baik-baik buku ini.”
Sebulan setelah aku mempelajari buku Epos Mahabrata, kehidupanku mulai berubah seratus delapan puluh derajat. Aku mulai bisa mengartikan kehidupan dengan lebih bijak. Terima kasih ya Allah, aku sadar bahwa hidup haruslah seimbang dalam setiap langkah dan jejak.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s