Lukisan Berdarah

Standard

Lukisan Berdarah

Hari pertama pindahan kerumah baru ini membuat tulang-tulangku terasa retak, pegalnya bukan kepalang. Tetapi aku senang bisa membawa seluruh keluargaku kerumah baru yang berukuran besar ini. sudah lama aku mengincar rumah ini. Akhirnya aku bisa memilikinya dengan cara membelinya dengan harga terjangkau. Sungguh memang sudah nasibku memilikinya.
Aku dan keluarga sangat bahagia bisa menikmati rumah besar yang ukurannya 3 kali lipat dari rumah pertamaku. Ini hari pertama kali tinggal di rumah ini. Pada malam harinya, aku memutuskan untuk cepat tidur karena lelah merapikan debu-debu dirumah ini. Malam hari ketika ingin tidur, aku mendengar suara air di dapur. Tess..tess… dan semakin besar. Aku langsung ke bawah dan mematikan air kran didapur. Kukira anak-anak yang bermain air.
Ketika kutanya ke Aldin dan Eka, mereka mengatakan tidak ke dapur. Mereka asyik bermain di depan ruang tamu. Aneh memang, ah, sudahlah mungkin hanya kran yang bocor, maklum ini rumah lama yang sudah lama ditinggal pemiliknya.
Setelah mendengar suara-suara aneh didalam rumah ini, aku memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi didalam rumah ini. Aku segera menemui pemangku adat di desa ini. “Pak, saya mendengar suara-suara aneh didalam rumah yang saya tempati sekarang. apa benar rumah tersebut angker?” Kemudian dengan lugas Pak Roswan menjelaskan. “sebenarnya apa yang kamu dengar dirumah tersebut?”
Aku menjelaskan panjang lebar mengenai suara-suara gemericik air, suara angin yang tidak lazim didalam rumah, lampu yang tiba-tiba mati dan hidup kembali dan lukisan yang mengeluarkan darah. Sewaktu menjelaskan semua itu, Pak Roswan kaget. “Apa!!! Bapak yakin dengan semua itu?” “Iya pak, saya dan keluarga sering diganggu setiap malamnya.” Pak Roswan memaparkan tentang kejadian rumah angker tersebut dengan terus terang kepadaku. “Rumah itu adalah rumah tua yang dulunya ditinggali oleh Bapak Sulistio dan Ibu Diana, 20 tahun yang lalu kami mendengar kabar bahwa Ibu Diana menghilang dari rumah dan tidak seorang pun tahu keberadaannya.” Kaget mendengar kabar tersebut, kemudian aku memutuskan untuk meminta saran kepada Pak Roswan. “Jadi rumah tersebut angker ya Pak? Apa yang harus saya lakukan?” “Banyak-banyaklah berzikir dan shalat didalam rumah tersebut, insyallah bapak sekeluarga tidak akan merasa hal-hal janggal.” “Baik pak, kalau begitu saya pamit pak, Assallamualaikum.” “Waalaikumsalam.”
Beberapa hari kemudian, setelah melihat untuk ketiga kalinya lukisan itu berdarah aku langsung memutuskan untuk memindahkan lukisan ke gudang belakang. Saat menurunkan lukisan, “Hah…kenapa berat sekali lukisan ini?” aku heran setengah mati, kok bisa lukisan berukuran 2,5×4 m bisa berat seperti mengangkat orang. Dibaliknya terlihat dinding yang keropos, ada rongga kecil dan rambut. Aku menariknya dan rambut itu bertambah banyak. “Apa ada mayat didalamnya pikirku.” Dengan heran aku melihat lukisan itu kembali dengan heran, sambil kuputar balik lukisan ini, aneh lukisan kok bisa berdarah pikirku. Aku lihat jeli, ini hanya sebuah kanvas tiada darahnya. Tapi kenapa bisa mengeluarkan darah pada saat itu.
Ah, lebih baik aku menemui Pak Roswan sekarang. setelah kutemui dirumahnya, Pak Roswan sedang duduk didepan teras rumah. “Assalamualaikum, pak…pak…! Tolong saya, bapak harus ikut saya kerumah.” Dengan nafas terengah-engah, aku duduk didepan Pak Roswan. “Bapak tenang dulu, sekarang juga kita lihat apa yang sebenarnya terjadi.”
Sesampainya dirumah, Pak Roswan komat-kamit membaca ayat-ayat sambil melihat rongga kecil berambut putih. Ditariknya dan kemudian dipukulnya dinding itu dengan kayu balok. Semua kaget dan histeris. “Astafirughllah…” astaga-astaga istriku berteriak, “sudah ma, ini memang nasib keluarga kita. Mama jangan takut, secepatnya kita pindahkan mayat ini.” istriku tetap saja gemetar dan histeris melihat mayat wanita tersebut. “Pa, kita harus pindah, harus! Mama tidak mau tinggal dirumah angker ini.” “Iya ma, setelah kita menguburkan jasad ini, segera kita cari perumahan baru ya ma.” Aku peluk istriku dengan erat, meyakinkannya agar tidak merasa takut terhadap rumah ini.”
Aku tak kuasa setelah melihat apa yang ada dibalik lukisan ini. Ternyata mayat yang telah mengeras didalam dinding ini.
Pak Roswan mengingat kembali kejadian 20 tahun silam. “Lukisan ini adalah lukisan seorang wanita yang telah hilang selama 20 tahun yang lalu, istri Bapak Sulistio pemilik rumah ini yang dikabarkan bunuh diri di kamarnya sendiri akibat menderita penyakit epilepsi yang tidak kunjung sembuh.
kenapa ada orang sekejam itu menanam istrinya sendiri didalam rumah, memang kejam Pak Sulistio. Tidak mempunyai hati nurani terhadap istrinya sendiri, jika memang benar ada permasalahan di rumah ini seharusnya diselesaikan secara baik-baik bukan dengan jalan pintas. Hal ini mengemparkan warga desa sekitar sampai ke seberang.
Setelah kami meurunkan jasad ini dan meletakkannya didalam peti mati, bergegas kami bawa ke pemakaman umum.
Pak Roswan sibuk menenangkan hati warga, “Sekarang mari kita kuburkan dengan layak Ibu Diana di tempat pemakaman umum di seberang desa.” Dan warga pun ikut menjawab lantang, “Mari…!
Keesokan harinya
Kami sekeluarga langsung merapikan barang-barang dan perabotan rumah untuk segera pindah menuju rumah baru. Tapi aku bingung apa bisa dengan cepat aku temukan rumah baru. Akhirnya dengan pemikiran lugas aku ambil kesimpulan, “Ma, lebih baik kita tetap disini dulu selama 3-4 hari. Papa harus mencari rumah baru dulu. Kalau kita paksakan untuk pindah sekarang itu mustahil. Karena tidak mudah mencari rumah.” Istriku dengan cemberut menjawab, “Jangan pa, Mama sudah tidak kuat tinggal disini. Kita harus cepat-cepat angkat kaki dari rumah berhantu ini.” aku peluk istriku dengan erat. “Ma, jangan takut, kita tidak boleh takut dengan makhluk gaib. Mama harus banyak-banyak ibadah supaya terhindar dari rasa takut ya.” Istriku tetap saja manja dan keras dengan pendiriannya. “Pokoknya kita harus pindah, titik!
Mau tidak mau aku harus mencari jalan lain agar bisa mendapatkan waktu beberapa hari menunda pindahan rumah ini. Aha! Aku harus meyakinkan istriku bahwa aku sedang tidak enak badan, sehingga bisa menunda pindahan untuk beberapa kedepan. Semoga saja ide ini berjalan lancar dan istriku yakin.
Saat sedang merapikan perabotan dirumah, aku melihat istriku sedang sibuk merapikan pernak-pernik. Aku membantunya, ketika memindahkan patung keramik setinggi 1,5 m tiba-tiba aku terjatuh karena lantai ini licin. “Aduh!” rasanya sakit sekali terjatuh dan dihimpit patung keramik. “Papa sih tidak hati-hati. Sudah tahu licin dilantai ini.”
“Aduh sakit sekali ma, tolong papa berdiri.” Pinggangku rasanya ada yang retak. Aku sulit berdiri. Mulai kuingat ide untuk pura-pura sakit tetapi malah sekarang aku benar-benar sakit. Astafirughllah… apa benar dirumah ini bertuah. Sehingga kata-kata saja bisa menjadi karma bagi setiap orang yang berujar.

Sore hari menjelang Maghrib…

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s