Mengapai Cinta Abu-Abu

Standard

Mengapai Cinta Abu-Abu

Setelah meninggalnya Ayahku beberapa bulan yang lalu, Aku anak satu-satunya yang dikeluarga dan Ibu adalah segalanya bagiku. Sebagai seorang remaja yang baru mengenal hitam dan putih aku terjerat pergaulan yang liar dan membangkang ke Ibuku. Ibuku sering berkata, “Aku gagal menjadi orang tua bagimu Clara”.
Aku benar-benar keras kepala, aku memang sangat keras dengan kemauanku dan kepribadianku memang berbeda dari Ibu. Aku memutuskan bekerja di diskotik karena aku menyukai dunia hiburan. Padahal belum ada dari generasi sebelumnya dari keluargaku yang bekerja di tempat tidak wajar seperti ini.
Berulang kali aku membangkang Ibu namun berulang kali juga Ibu tetap ikhlas mendengar cacian dan kata-kata kasarku setiap malamnya.
Sudah deh Ma, jangan atur-atur hidup Clara lagi. Clara sudah dewasa Ma, tahu mana yang baik dan buruk buat Clara. “Iya tapi kamu kenapa harus membangkang kata mama? Kamu kan bisa berbicara baik-baik. Tidak dengan mengambil uang di laci tanpa memberi tahu mama sebelumnya.” “Clara bilang lagi butuh uang! Mama tahu gak, nanti Clara ganti deh, Cuma sejuta aja kok repot.”
Astafiruhllah…Clara, istighfar nak. Ini ibumu.” Kemudian Aku membentak secara kuat. “Sudah-sudah! Jangan sok jadi ustadzah deh ma, Mama aja gak bisa bahagiain Clara.”
Lalu Ibu pergi dan masuk kekamar dengan sedih. Aku heran melihat tingkah lakuku yang menjadi-jadi setiap harinya. Kenapa dengan diriku, kenapa aku selalu melawan Ibuku sendiri.
Beberapa bulan kemudian
Aku jarang pulang dan kalaupun pulang selalu larut malam. Malam ini ibu sengaja menunggu aku pulang dengan duduk didepan ruang tamu.
“Clara, kesini dulu. Siapa pemuda itu?”
“ah, itu urusan Clara. Dia teman Clara kok.”
“Tapi…ke…” belum tuntas Ibu bertanya, aku segera berlari masuk kedalam kamar. Aku tak kuasa menahan rasa sakit ini, aku hamil. Karena Fajri lelaki biadab itu yang telah membuatku seperti ini. tangisanku ternyata didengar Ibu dari luar.
“Tok..tok… Clara, buka pintunya, Mama mau bicara.” Tidak ada jawaban. “Clara buka pintunya.”
Beberapa menit kemudian aku membuka pintunya dan menangis dipelukkan Ibu, “Kenapa nak? Kenapa kamu menangis?” “Maafkan Clara Ma, Clara sudah banyak berdosa. Clara hamil ma.” Ibu terkejut mendengar ucapannya barusan. “Apaaaa…!!! Kamu hamil? Siapa yang menghamilimu nak?” “Fajri ma, laki-laki yang dekat dengan Clara, dia tidak mau mengakui perbuatannya Ma. Aku yang terisak sambil meminta maaf dengan berteriak… “Maafkan Clara Ma…”
Setelah kudengar kabar tersebut, aku langsung menuju kamar dan berpikir. Semua ini salahku, salah tidak bisa menjadi seorang anak yang berbakti dan terjerambab pergaulan bebas. Ya Allah maafkan aku. Saat aku keluar untuk mengambil air minum kudengar lafaz-lafaz doa yang dibaca Ibu. Dari balik pintu kudengar.
”Ya, Allah maafkan hambamu yang berdosa ini. Berikanlah ketabahan kepada keluarga kami.” Tak berapa lama Aku datang, dan melihat Ibu sujud tak bernyawa. Mama, mama… bangun…bangunnnnnn… Mama… Aku menangis sambil kupeluk tubuh Ibu yang dingin, Ya Allah… jangan ambil Ibuku. Sambil terisak aku mengaku bersalah. Semua ini salahku, Ibu… maafkan Clara.
Sudah berulang kali aku menghela dada karena sifat angkuhnya yang merajalela di kehidupanku. apa harus aku lari dari sisinya, sehingga aku puas dan merasa bebas? aku masih tetap tegar karena pesan ibu, “dia lelaki baik nak, jaga dan setialah kepadanya.”
Tapi aku benar-benar sudah tidak kuat, setiap hari dia memainkan matanya ke para gadis, aku juga punya hati, punya rasa dan punya keinginan untuk diperhatikan. bukan dicuekkan begitu saja olehnya. ah, aku akan menyimpan segala rasa ini, biarlah Tuhan yang mengatur sebab dan gelisah yang kudera selama ini.
Sore itu dari bilik pintu rumahku, aku melihat dia menggoda seorang gadis, memainkan siulan-siulan manisnya. Aku tak mengerti apa maksud dari semua ini, tak terpungkiri rasa cemburu itu ada tapi pantaskah aku cemburu kepada gadis itu? Gadis yang terpaut jauh denganku, gadis belia yang terlalu manis untuk di cerca. Ku coba mengontrol egoku, bukan gadis manis itu yang salah, tetapi lelaki itu, lelaki yang tak pernah menghargai kehadiranku. Jika saja ibuku tau hal ini, mungkinkah ibuku melepaskan anak gadisnya untuk laki-laki itu. Mungkinkah Ia rela melihat anak gadisnya merintih resah dan dilema karenanya. Ah..itu tak mungkin ia lakukan untukku, ini sebuah takdir Tuhan yang menggariskan hidupku tuk menguji jalanku.
Sekarang aku baru tahu pahitnya membina rumah tangga yang tidak ada rasa cinta sedikitpun, sakit rasanya sudah mencoba mencintainya dengan tulus tapi sikapnya sangat tidak mencerminkan sebagai seorang suami yang setia. Ibuku memang belum tahu sisi hitamnya, aku pun baru mengetahuinya setelah menikah. selama pacaran ia sering menunjukkan sikap yang baik, ramah dan sopan terhadapku. tetapi kenapa setelah menikah tingkah lakunya seperti anak-anak hijau yang baru mengenal pacaran, tidak bisa melihat gadis sedikit, langsung disiulin. terkadang aku juga muak dengan sikap manjanya sepulang kerja. “ma, buatin teh dong…” ih, jijik lama-lama aku mendengar ucapan itu. hampir setiap harinya ia mengombal di depanku. tapi apa dia kira perasaanku sama seperti gadis-gadis jalanan itu yang digombalin dan langsung merah merona. dia salah besar, akulah batu yang keras dalam menetaskan prinsip hidup. Sepertinya sudah waktunya shalat maghrib, lebih baik aku mengambil wudhu sekarang.
Aku bergegas ke sumur yang berada di belakang rumah kami, maklum kami belum memiliki kamar mandi di dalam rumah, seperti kamar mandi orang gedongan. Di belakang rumah kulihat suamiku sedang asyik teleponan, entah dengan siapa. Semakin dekat dan dekat, kudengar suara sayang dan sayang. Dengan siapa lagi dia selingkuh di belakangku.
Kudekati dia dari belakang, “mas, kamu telepon siapa?”
“Ah, gak, ini rekan bisnis ma.”
“Rekan bisnis apanya, kok pake sayang-sayangan?”
Ah, aku langsung pergi dari sisinya. Kembali ke dasar sajadah dan mengadu ke Allah tentang tangisku. Maafkan aku ya Allah.
***

Muhammad Ardiansyah dan Rieztha Khakhazuta Kaishu
https://www.facebook.com/rieztha.kaishu?ref=ts&fref=ts
https://www.facebook.com/sahadewa.prasastra?ref=tn_tnmn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s