Karma

Standard

Karma

Aku Tiwi, umurku 14 tahun sekarang. aku mempunyai 2 saudara laki-laki, Rida berumur 2 tahun dan Gino yang berumur 7 tahun.
Ayahku seorang buruh bangunan, yang kadang-kadang ia pulang dengan muka cemberut dan wajah suram karena tidak berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai buruh bangunan. Maklum saja, sebagau buruh bangunan kadang bernasib rezeki harimau. Kadang ada dan kadang tidak ada sama sekali. Kadang banyak uangnya dan kadang sedikit, jadi ayahku sangat keras dirumah. Adikku Gino seringkali melihat pertengkaran hebat kedua orang tuaku.
Sehingga ia sering meniru gaya ayah ketika sedang marah, terkadang ia juga sering melupakan waktu belajar, ia lebih suka menyita waktu yang seharusnya belajar menjadi waktu untuk bermain. Gino sudah sering diperingati ibu, untuk jangan sering bermain diluar. Nanti kamu bisa jadi bodoh dan nilai kamu akan turun. Tapi ia tidak mendengar dan tetap saja bermain.
Sepulang bermain, dia langsung menuju dapur. Ibu, Gino lapar.”Lapar-lapar, enak saja kamu. Sudah ibu bilang jangan kamu sering bermain. Masih saja kamu main. Sekarang mandi terus belajar.” Tapi Gino lapar bu. “Mandi dulu sana, nanti baru makan.” Baik bu. Lebih baik kuturuti saja perintah ibu, daripada dihukum sehari tidak makan, bisa ngamuk cacing di perutku. Ibu, Ibu… sudah selesai nih PR Gino, sekarang boleh makan kan bu? “Mana PR mu?” ini bu, sudah Gino kerjakan semua. “Baik kalau begitu, silahkan makan.”
Keesokan harinya. Pada siang yang terik.
Ayahku pulang dengan memberikan uang sebesar Rp.5000 ke Ibu. Dan ia mulai marah-marah tidak jelas, karena susah mencari uang. “Kenapa sih, Bapak ini pulang-pulang langsung marah-marah.Seharusnya bapak itu bersyukur kalau masih diberi rezeki sama Allah.”
Ayahku memang keras kepala, ia sering main tangan dengan ibu. Terkadang ia tidak membawa uang kerumah dan ini sangat membuat kami sakit. Terkadang beberapa hari kami tidak makan. Hanya makan mie saja, rasanya tidak cukup menganjal perut kami setelah seharian bekerja. Ayah memang tidak ada hati sebagai kepala keluarga.
Tiba-tiba dari luar terdengar suara becak ayah. Lagi-lagi ia datang-datang dengan tangan kosong. Ibu terlihat sangat sedih sekarang, lagi-lagi ia dapatkan ocehan yang tidak jelas dari Ayah. Ayah bukannya senang dengan perhatian dari ibu. Tetapi ini malah menyalahkan. Ibu, sudahlah jangan dipikirkan mengenai uang untuk hari ini. Biar Tiwi saja yang jualan hari ini ya bu. “Kamu masih kecil nak, jangan jualan dulu. Lebih baik kamu fokus sekolah.” Tapi bu? “sudah, kamu jangan pikirkan ibu. Nanti Ibu yang jual di terminal.”
Tiba-tiba Gino datang menghampiri Ibu, dilihatnya Ibu yang sedang sibuk. Kemudian dengan gayanya yang tidak biasa. Ibu, biar gino bantu ya. “Apa! Tidak salah dengar Ibu, tumben kamu mau bantu Ibu. Ya sudah, kalau begitu kamu ikut Ibu ke terminal ya.” Baik bu.
Lalu sepulangnya dari terminal Gino dan ibu terlihat bahagia, karena hasil dagangannya laris. Ibu berkata kepada Gino: “rajin-rajin bantu ibu, supaya kita bisa makan enak ya nak.” Aku melihat dari dalam kamar, tidak sengaja kulihat Gino mengambil uang Rp.3000 dari bakul jualan Ibu, untuk apa uang itu pikirku. Ah, biarlah. Nanti juga dia akan dimarahi Ibu jika ketahuan mencuri.
Dua hari setelahnya.
Gino meronta-ronta kesakitan karena giginya sakit setelah memakan permen sebanyak 20 buah. Inilah akibatnya jika mengambil uang Ibu, ia rasakan sendiri akibatnya. Aku tertawa melihatnya meronta kesakitan. Karena aku tahu, dialah yang mencuri uang Ibu dan menggunakan uang tersebut untuk membeli permen.
Dengan ronta rasa sakitnya ia meneriaki nama ibu. Ibuuuuuuuu! Tolong Gino. “kenapa lagi kamu/” Gino minta maaf bu, Gino sudah bersalah. “bersalah kenapa,sepertinya kamu tidak bersalah sama ibu.” Gii..Giino sudah mengambil uang ibu kemarin di bakul. Maafkan Gino bu. “Apa! Kamu ini benar-benar nakal.ibu hanya memberi nasehat kepadanya. “lainkali jangan mencuri, ini akibatnya kan. Karma kamu, kalau mau sesuatu harus bilang dan minta baik-baik. Jangan lagi kamu ulangi ya.” Iya bu, maafkan Gino ya bu. “Iya Ibu maafkan. Sekarang cepat minum obat dulu sana.”
Gino yang sekarat akhirnya berubah menjadi anak yang jujur, ia tidak pernah lagi mencuri. Bahkan sekarang ia selalu mengajarkan teman-temannya untuk bersikap berani dan jujur kepada orang tua. Dia ceritakan pengalaman pahitnya ke teman-teman sekelas. Namun ada beberapa yang peduli dan ada yang tidak.
Ia menjadi murid yang teladan di sekolah, sekarang ia sering membantu sesama dan menjadi kebangaan wali kelas karena kerajinannya.
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s