Menyusun Sesal

Standard

Menyusun Sesal

Kehidupan seiring berjalan saling silang menyiku waktu
Orang-orang seolah sibuk membisikkan luka-luka yang sengaja dibuat
Sesal itu dijalan ini; jalan pertama melangkah rumah menuju alur sesak
Sesal itu dijalan ini; ketika uang tak lagi menyimpan nilainya
Dan kau bilang aku hilang bentuk, hilang prinsip yang jelas-jelas terkutip dikening-kening pagi didepan kaca reyot
Kemana aku larikan nurani ini, sedang kau asyik menikmati tawa deritamu tertuju padaku
Gladys Yamarisa

Jakarta,25 Januari 2001

Aku buka diary-diary lamaku yang berdebu beralas beberapa kain diatasnya dan dilapisi kardus-kardus mie, tanpa terasa tumpukkan diary itu sebanyak 4 kardus, dan terang saja aku langsung menangis mengingat diary pada tahun 2001 yang kutulis mengenai kisah hidup kelamku dimasa gemilang namun tak seterang bulan purnama.
Jakarta, pertengahan Juni 2002
Aku masih bekerja sebagai sekretaris di PT. Galileo International Ltd. Tidak mudah bagiku mencapai titik nyaman seperti sekarang, dimulai dari operator yang setiap harinya mengangkat telp dari klien-klien yang sibuk mencari atasan. Sampai ke administrasi yang setiap harinya mengurusi uang-uang perusahaan yang jumlahnya membuat mata keluar, wajar saja aku belum pernah melihat tumpukkan uang yang tersusun di brankas-brankas besi dengan pin tersembunyi yang hanya Direktur mengetahuinya.
Sebagai seorang sekretaris diperusahaan ini, seringkali aku terpikir untuk menikmati hasil gajiku untuk membeli apapun yang aku butuhkan, ya gajiku memang tidak sebesar direktur atau manager, tapi setidaknya cukup dengan nilai Rp. 4.500.000 per bulan, aku bisa menyisihkan sisanya untuk orang tuaku belanja.
Bulan pertama dan gaji pertama.
Mendekati akhir bulan, orang-orang sibuk mengurusi administrasi kantor mengenai keuangan internal dan eksternal termasuk gaji karyawan. Tinggal 2 hari lagi aku akan menikmati hasil kerja kerasku. Kira-kira apa ya yang akan kubeli, sepatu, tas, baju blouse atau setelan jas baru. Ah… liat besok aja setelah kuterima gaji itu. Yang penting menikmati gaji itu adalah hal wajar setelah kerja keras selama sebulan.
Para karyawan antri disepanjang ATM BNI didepan perusahaan tempatku bekerja, maklum saja jumlah karyawannya lebih dari 500 orang, sehingga jatuh tempo gajian pada hari ini mereka sibuk mengambil gaji di mesin uang terdekat. Aku dideretan tengah, mudah-mudahan saja uang dimesin tidak habis, kalau habis terpaksa aku harus menarik uang dimall anggrek.
Tiba-tiba aku melihat Andi, sahabat SMA ku berdiri 2 baris didepanku. Lekas aku sapa dirinya.
Aku : hei, dy… Andy kan?
Andy : hei, Dis. Kemana aja kamu? Lama ya kita gak ketemu. Mau ambil uang juga ya?
Aku : iya di, antri nih. Aku kerja diperusahaan depan tuh. Kamu antri disini juga, memang kerja dimana di?
Andy : loh, kamu kerja di Galileo juga dis? Aku juga disana. Dibagian teknisi lantai bawah. Kamu bagian apa dis?
Aku : walah-walah, kok bisa ya kita gak pernah ketemu padahal 1 perusahaan. Aku sekretaris direktur pemasaran di. Dilantai 7.
Andy : wow, hebat kamu dis, bisa jadi sekretaris. Uangnya banyak tu. Hehee… jadi kamu sekarang tinggal dimana dis?
Aku : aku masih dengan orang tuaku dis. Eh, ngomong-ngomong udah tu antriannya, ambil dulu uangnya di.
Andy : o, iya, aku ambil dulu ya dis.
Aku : oke deh, jangan lupa sisain uangnya dimesin itu, nanti habis lagi. Hehee…
Andy : oke deh dis.
Tak disangka-sangka bertemu teman lama dimesin ATM. Dan lebih tak disangka lagi kami satu perusahaan.
Aku : udah belum di? Lama bener, nanti habis uangnya. Haha…
Andy : iya udah ni dis, silahkan giliran sekretaris.
Aku : tunggu ya pak technisi.
Andy : oke deh, aku tunggu disamping dis.
Langsung saja aku masukkan ATM dan pin, total gajiku Rp.5.000.000 bulan ini, wah ada kenaikkan Rp.500.000, kok bisa ya. Memang baik bosku. Langsung kutarik semuanya, kusisakan Rp. 50.000, karena memang tidak bisa ditarik semuanya di mesin ini.
Aku : oke, di. Aku sudah selesai juga nih. Kalau gitu besok aja kita ngobrol lagi ya di.
Andi : oke deh dis, kalau boleh nih dis, boleh kutau nomormu dis?
Aku : nomor apa di? Nomor baju, nomor celana atau nomor sepatu? Mau beliin ya. Hehee…
Andi : bukanlah, nomor hp… haha…
Aku : pp..kukira no apaan. Untungnya td mau kuberi nomor rekening di. Hahaaa…
Andi : ah kau bisa aja dis.
Aku : catat, 08127898766, itu nomorku di. Oke kalau begitu aku duluan ya di. Udah hampir gelap ni.
Andi : oke dis, hati-hati dijalan.
Aku : oke di.

Akupun melangkah menuju trotoar, tampak hilir mudik orang-orang sepulang kerja melepaskan lelah dengan wajah muram. Diseberang trotoar tampak seorang ibu tua yang kakinya hanya sebelah, astafirugllah.. baru kali ini kulihat pengemis diseberang jalan ini, biasanya tidak pernah kutemui. Siapa dia, kecamuk hatiku ingin mengetahui asal usul ibu itu.
Kudekati perlahan, bu… maaf. Ibu kok duduk disini?
Ibu tua : ibu baru sampai dari kampong nak. Mau bersitirahat sebentar disini.
Aku : ibu dari mana?
Ibu tua : dari Nganjuk nak. Mau berkunjung kerumah anak ibu disini.
Aku : dimana alamatnya bu kalau saya boleh tau?
Ibu tua : alamatnya di Depok nak, tapi ibu lupa nama jalannya.
Aku : waduh, Depok luas bu. Lalu tanpa pikir panjang, aku langsung memberikan beberapa uangku untuk ibu ini, sebesar Rp. 100.000. ini ibu, ada rezeki tolong diterima ya bu.
Ibu tua : terima kasih nak. Alhamdulillah, terima kasih nak.
Aku : sama-sama bu.

Lalu aku lanjutkan perjalananku menuju Swalayan Griya yang berjarak 50 km dari sini. Alangkah malangnya ibu tua itu, semoga Allah melindunginya dan bertemu dengan anaknya kelak.

Aku ambil beberapa barang keperluan rumah, mulai dari makanan instan dan kebutuhanku yang telah hamper habis. Aha, baju ya baju. Jangan sampai aku lupakan untuk membeli beberapa baju.
Setelah asyik berbelanja makanan, aku ke Matahari Department Store, disini surge baju bagiku. Kali ini aku akan membeli baju sebanyak 5 buah, termasuk baju lebaran nanti.
Aku : mbak, lagi diskon ya?
Penjaga Toko : ya mbak, semuanya diskon 50 %.
Asyik, kebetulan, kalau begitu aku ambil baju long dress merah, putih dan biru. Kesempatan diskon jangan sampai aku sia-siakan.
Setelah selesai memilah baju-baju, aku segera membayar semua barang belanjaanku. Kasir toko seakan sibuk menghitung barang-barangku.
Kasir : Totalnya Rp.1.360.000 mbak. mau pakai kartu kredit atau tunai mbak?
Aku : Tunai saja mbak. untung uangku masih cukup. Aku berikan 1.400.000 ribu ke kasir itu.
Kasir : kembaliannya Rp.40.000, terima kasih.
Aku : sama-sama mbak.
Astaga, uangku tinggal Rp.240.000, mana cukup untuk sebulan kedepan. Belum lagi memberikannya ke mama. Siap-siap aku diocehin lagi oleh mama.
Perjalanan menuju rumah kutempuh selama 20 menit. Aku masih teringat pertemuanku dengan Andy, apa dia akan menelponku ya nanti. Ah, mudah-mudahan saja. Tampaknya dia kaya sekarang. Semoga saja dia menelponku nanti.
Sampai dirumah pukul 20.05, Assalamualaikum…
Mama dan adikku : walaikumsalam…
Aku : ini ma, belanjaan hari ini. Adis baru gajian tadi langsung ke supermarket belanja.
Mama : itu apa dis?
Aku : biasa ma, baju baru. Hehehe…
Mama : kamu ini, kebiasaan menghamburkan uang ke baju. Tiap kali gajian pasti beli baju. Liat lemarimu itu, sudah tidak muat lagi dengan baju-bajumu.
Aku : tenang aja ma, nanti Adis beli lemari yang lebih besar untuk menyimpan baju-baju ini.
Kemudian aku menuju kamar untuk meletakkan barang belanjaanku, tak berapa lama aku mendengar suara handphone bordering, hah, nomor siapa ini?
Aku : Assalamualaikum…
Orang tak dikenal : waalaikumsalam… dis, ini aku Andy.
Aku : oh, Andy. Aku baru saja sampai dirumah dy.
Andy : o iya? Wah kemana aja neng. Kok baru sampai sih?
Aku : kan shopping tadi. Hehehe… kamu lagi apa dy? Sudah lama ya kita gak ketemu dan tadi ketemu-ketemu di depan ATM. Hahaha…
Andy : iya dis, makanya dari sanalah aku berpikir untuk mengajakmu besok keluar. Kebetulan besok hari minggu. Ada kegiatan gak dis?
Aku : Besok aku santai kok dy. Mau ketemu dimana?
Andy : Di JCO taman anggrek jam 10.00 wib aja dis. Bagaimana?
Aku : Oke deh, tapi kamu jemput ya?
Andy : Oke dis, rumahmu masih yang dulu kan?
Aku : Masih dong, belum pindah kok.
Andy : Oke deh, kalau begitu sampai ketemu besok ya dis.
Aku : Oke bos.

Tut..tut.. selesai andy menelpon aku lanjutkan mandi, sambil bernyanyi lagu Sherinna Munaf, Cinta Pertama dan Terakhir didalam kamar mandi. Senangnya hatiku mendapat undangan kencan besok bersama Andy. Sudah sebulan aku putus dengan Harry. Rindu juga rasanya jalan-jalan.

Ah, selesai mandi, aku mengambil buku diaryku. Dimana kuletakkan kemarin, ah, disini kamu rupanya. Kok dibawah bantal sih… kupeluk erat sambil tersenyum manja dengan ajakan kencan oleh Andy.

Dear Diary…
Hari ini aku bahagia sekali, gajiku naik dan berbelanja beberapa baju kesukaanku. Besok hari pertama kencanku dengan Andy. Ah, senangnya hati ini. Kira-kira apa ya obrolan besok, ehm sepertinya Andy mulai menyukaiku, eh, Gladys jangan sok PD dulu. Mungkin aja dia mau cerita-cerita aja. Ah, aku tak sabar menunggu hari esok.

Gladys
Jakarta, 26 Januari 2001

Hari minggu pagi…

Pagi ini aku mulai bangun lebih awal, entah kenapa aku bangun lebih cepat. Mama sedang sibuk memasak ikan lele dan kerupuk ubi didapur.
Aku : pagi ma. Aku mencium pipi kanan mama.
Mama : tumben kamu cepat bangun dis, biasanya jam 8 baru bangun. Ada apa nih? wajahmu juga riang sekali.
Aku : biasa ma, hehe… mau kencan nanti.
Mama : dasar anak genit, pacar gonta-ganti terus, seperti memakai baju aja. Tiap bulan ada aja pacar barumu. Ingat ya dis, jaga diri baik-baik. Jangan sampai kamu menyesal nanti.
Aku : siap bos. Sambil kusisikan hormat kearah mama.

Pukul 10.00 wib

Tin..tinnnn….
Suara klakson siapa itu diluar. Krrringggg… handphoneku berbunyi kembali. Oh, andy yang menelpon.
Aku : Haloo Dy.
Andy : Halo Dis, aku diluar ni. Sudah siap kan?
Aku : Sudah dong, tunggu bentar ya.

Lalu aku langsung memakai highheel untuk segera menemui Andy. Baju biru long dress dan tas Giorgado kesukaanku. Wah ternyata Andy membawa mobil Suzuki Swift, hebat juga dia sekarang. tidak kusangka, Andy sudah sukses sekarang.
Aku : Hi, Dy.
Andy : Hi, Dis. Sudah siap Dis? Ada yang tertinggal?
Aku : Siap dong, yang tertinggal apa ya. Kayaknya gak ada deh.
Andy : oke, kalau begitu kita meluncur sekarang.
Aku : Jangan kebut-kebut Dy. Santai aja nyetirnya.
Andy : Siap tuan putri. Kamu tambah lama tambah cantik aja Dis. Sekarang siapa pacar kamu Dis?
Aku : Ah, masa sih? Aku jomblo sekarang Dy. Baru putus bulan kemarin. Kamu gimana? Siapa pacarmu Dy?
Andy : Aku sudah ditinggal sama pacarku tahun kemarin Dis. Sekarang aku sendiri.
Aku : Ditinggal gimana Dy? Emang dia kemana? Ke Jepang ya. Hehehe…
Andy : Bukan, dia dijodohkan sama orang tuanya Dis.
Aku : Upss.. maaf Dy.
Andy : Ah, gak apa-apa kok. Lalu kamu kenapa bisa putus Dis?
Aku : Ah, biasalah mereka tidak bisa menerima keadaanku yang sibuk. Katanya aku terlalu sibuk bekerja sehingga perhatian yang kuberikan selalu kurang. Sehingga ending dari segalanya adalah putus.

Sesampainya di Mall Taman Angrek, kami langsung menuju JCO, disini kami kembali berbicara mengenai masa-masa SMA sampai perihal pekerjaan. Kami sama-sama heran kenapa bisa sama-sama bekerja di PT. Galileo International Ltd. Padahal kami tidak pernah ketemu sebelumnya dikantor. Mungkin ini yang dinamakan jodoh, pikirku.

Andy : Dis, kamu mau pesan apa?
Aku : Apa aja Di, disini kan toko kue. Ya pastinya kue dong. Masa bakso. Hahaha…
Andy : Hahaha… iya kan banyak jenis kuenya. Mau kue apa Dis?
Aku : Kue brownies aja Dy.
Andy : Oke deh. Mbak pesan kue brownies 2, cappucinno 1 dan Milk Shake 1.
Pelayan : Baik pak, Kue Brownies 2, Cappucinno 1 dan Milkshake 1. Ada lagi pak?
Andy : Itu saja mbak. terima kasih.
Aku : Dy, aku ke toilet dulu ya.
Andy : oke deh, eh tunggu Dis. Itu merk bajumu kok belum dicopot?
Aku : aduh, aku lupa. Lalu aku segera berlari menuju toilet, malunya diriku dengan merk sialan ini. Kenapa bisa-bisanya aku lupa melepas merknya.
Sekembalinya dari toilet. Aku melanjutkan obrolanku dengannya. Andy menatapku seakan penuh nafsu, apa yang dilihatnya. Apa kemolekkan tubuhku. Beberapa obrolan yang umum sampai khusus, rasanya Andy memang seorang laki-laki idaman bagiku. Ia tampan, berkulit putih dan mapan pula.
Satu jam kami mengobrol di JCO, Andy mengajakku pulang. Didalam mobil Andy menyatakan perasaannya kepadaku. Ia ingin menjadi pacarku, aku tidak kuasa menolaknya. Kebetulan aku lagi sendiri, sehingga aku menerimanya dengan hati yang terbuka dan tulus.
Sampai dirumah aku berbaring, dengan senyuman-senyuman yang tidak masuk akal. Aku senang hari ini, hari pertama kencanku dan aku jadian kembali dengan lelaki yang dulunya teman satu sekolahku.
Sebulan setelahnya…
Hampir sebulan hubunganku dengan Andy, tetapi kenapa Andy jarang menelponku sekarang. ada apa ini. Kenapa perasaanku tiba-tiba lenyap kepadanya. Sebulan membina kasih dengan Andy, rasanya hambar sekali setelah sebulan ini. Apa karena kesibukanku sehingga Andy merasa bosan denganku. Atau kesanku yang terlalu cuek dengannya. Begitu juga dengan mantan-mantanku dahulu yang meninggalkanku begitu saja dengan alasan, “wanita sibuk”.
Krringgg… nada sms handphoneku berbunyi, sms dari Andy toh. Assalamualaikum… Dis kamu terlalu sibuk dengan dirimu sendiri. kamu tidak bisa membedakan mana hal pribadi dan pekerjaan Dis. Maaf jika aku harus jujur, aku ingin kita usai Dis. Lebih baik kamu tetap konsentrasi dibidangmu, sebagai sekretaris pribadi big bosmu. Mungkin itu lebih baik, terima kasih buat waktu-waktumu yang kamu berikan Dis.
Lalu aku membalas sms tersebut dengan kata-kata seadanya, aku memang sibuk, jika kamu tidak bisa menerima keadaanku. Aku terima Di. Inilah aku, inilah gaya hidupku. Terima kasih telah menemani hari-hariku. Walaupun singkat tapi aku senang bisa mengenalmu sampai detik ini.
Lagi-lagi cintaku terputus karena kesalahanku sendiri. aku terlalu bodoh mencintai seseorang, aku terlalu gegabah dalam membina hubungan yang seharusnya seimbang. Kini aku hanya bisa meratapinya dan menyesalkan apa yang telah kugariskan sampai detik ini.
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s