Ramalan Jodoh

Standard

Ramalan Jodoh

Namaku Sumarni, sekarang aku berumur 32 tahun. Aku bekerja di kantor Bursa Saham Swasta di Solo. Aku sangat suka bidang pekerjaan yang kujalani, menjadi seorang pekerja keras sudah merupakan darah dagingku setelah lulus dari SMA. Terkadang bekerja membuatku lupa dengan kepribadianku sendiri. Teman-teman menyebutnya workaholic. Perkerjaan membuat jodohku jauh, aku juga kasihan melihat diri ini yang setiap harinya bekerja dan bekerja. Tanpa kenal dan mengurusi jodoh, sejak putus dari pacar pertamaku yang sangat kucintai. Aku tidak lagi mempercayai lelaki. Tidak sama sekali dalam benakku untuk berpacaran. Sehingga phobia terhadap lelaki sangat kental dalam diriku. Itulah sebabnya aku menjadi bulan-bulanan ejekkan dirumah oleh kedua orang tuaku, yang selalu memaksaku untuk mencari jodoh dalam tahun ini. Jika tidak maka pilihannya adalah dijodohkan.
“Marni, kamu itu sudah melewati batas umurmu untuk menikah, sudah hentikan kerjamu dulu, pikirkan dirimu. Kamu asik bekerja sehingga jodohmu jauh. Kamu harus mencari jodohmu dalam tahun ini.”
Aku seakan tidak mendengar perkataan Ibu, bosan aku mendengarnya dengan perkataan yang itu-itu saja setiap harinya. Apa tidak ada pembahasan lain selain jodoh.
Ibuku selalu mengoceh tentang umur dan jodoh, sudah sebulan belakangan ini aku merasa sakit hati dengan paksaan orang tuaku yang memaksaku untuk dijodohkan. Perjodohan atau mencari jodoh sendiri. ah, hal ini membuatku binggung. Sambil duduk didepan pintu rumah aku berpikir, apa aku siap untuk menikah dalam tahun ini. apa aku sanggup mencintai lelaki lagi.
Sabtu, 10 April 2003
Yongki tiba-tiba menghampiriku dari belakang. lamunanku tiba-tiba lenyap oleh kejutannya. Aduh, kamu ini Yong, untung aku tidak darah tinggi. Ada apa Yong? “kamu pasti lagi mikirin jodoh ya?” Iya ni Yong, aku bingung dengan jodohku. Dan ditambah lagi dengan pemaksaan perjodohan oleh orang tuaku. Aku harus bagaimana Yong? “begini saja, kamu coba ke Kakek Tarjan di Nganjuk, katanya dia bisa memberikan jodoh sesuai harapan kita.” Ah, apa benar itu Yong? Tanyaku heran. “Iya, teman-temanku sudah diramal olehnya dan hasilnya memang terbukti manjur.” Kalau begitu aku boleh meminta alamatnya Yong? “Boleh dong, sini aku catat alamatnya Ni.”
Ditulisnya alamat Kakek Tarjan dengan lengkap dikertas, lalu aku berpikir, tawaran ini harus aku coba. Terima kasih ya Yong, aku akan mencoba menemui Kyai ini segera. “Aku doakan berhasil ya Ni.”
Sesampainya dirumah…
Tiba-tiba ada suara teriakkan dari belakang, “Marni! Kamu ini, duduk didepan pintu, bisa jauh jodohmu. Kamu tahu itu. Jangan duduk didepan pintu.” Iya bu, Marni lupa bu. Lalu aku pindah kekursi depan, aku duduk diteras rumah sambil berpikir tentang saran dari Yongki mengenai ramalan jodoh oleh Kakek Tarjan di Kabupaten Nganjuk.
Kebetulan besok adalah hari Minggu, pagi-pagi sekali aku harus pergi ke rumah Kakek Tarjan. Semoga benarbenar manjur ramalannya terhadapku. Sehingga aku bisa memberikan kepercayaan kepada ibuku bahwa aku bisa mendapatkan jodohku sendiri.
Minggu 11 April 2003
Hari ini aku beranikan diri untuk menemui Kakek Tarjan, dengan semangat aku bawa mobil dengan kecepatan 90 km/jam. Aku tidak sabar menemuinya. Dijalan banyak kulihat para pasangan-pasangan muda yang bergandengan tangan. Hal ini membuatku cemburu. Aku yang sudah berumur 32 tahun belum juga mendapatkan pacar, teman-temanku sudah mempunyai keturunan. Mengapa aku begini, ah…
Sesampainya dirumah Kakek Tarjan, aku dipersilahkan masuk oleh istrinya. Monggo silahkan masuk neng, tunggu sebentar saya panggilkan bapak. Belum lagi aku bilang tujuanku kemari, istrinya yang renta dan bungkuk sudah mengetahui maksud kedatanganku. Luar biasa memang orang desa ini.
Tidak berapa lama Kakek Tarjan datang, aku perkenalkan diriku kepadanya. Nama saya Sumarni dari Solo Kakek, maksud kedatangan saya kesini untuk menanyakan nasib jodoh saya kedepannya. Saya mendengar dari teman saya bahwa Kakek bisa membantu membaca jodoh.
Dengan tatapan tajamnya ia lugas berkata, “Ya, saya bisa membantu. Umur kamu berapa nak?”
Saya 32 tahun kek. “Berapa jumlah saudaramu?” Dua kek, saya anak pertama dan adik saya berumur 6 tahun Kek. Dengan tatapan tajamnya dan diamnya, tiba-tiba disuruhnya aku membuka tangan kanan dan kiriku menghadapnya. “Buka tangak kanan dan kirimu dengan lebar nak.” Lalu aku ikuti perintahnyam kubuka dengan lebar selama beberapa menit. Tatapan matanya seperti membaca suatu keanehan, raut wajahnya seperti mendapatkan jawaban atas diriku. “Cukup, turunkan tanganmu nak.” Bagaimana kek dengan ramalannya? “Jujur saja nak, garis tanganmu menghadap kearah langit keduanya dan itu artinya kesulitan jodohmu memang betul-betul susah. Tapi kakek melihat akhir tahun akan ada jodohmu tapi itu juga belum pasti nak. Kamu harus membuka diri ke laki-laki mulai sekarang. Pada garis bawah tanganmu sudah digariskan jodohmu datang dari orang terdekat sehingga kamu tidak perlu mencari jauh-jauh jodohmu.” Jadi saya harus menunggu sampai akhir tahun ini ya kek? “Iya nak, itu yang kakek baca dari garisan hidupmu.” Aku binggung harus berkata apa lagi. Jika benar begitu, inilah takdirku. Kalau boleh saya tau jodoh terdekat itu siapa ya kek? “Inisialnya D dan dia sudah lama menunggumu.” Inisialnya D kek? Semakin bingung lagi diriku mendengarnya, apa mungkin Dino teman SMA ku yang sampai detik ini tetap berkomunikasi baik denganku atau Dendi teman sekantorku, ahh.. entahlah.
Kalau begitu terima kasih kek atas bantuannya. Lalu aku sisipkan amplop yang berisi uang untuknya. Saya pamit kek. Assalamuallaikum…
“Waalaikumsalam”
Aku menuju ke mobilku dan sembari berpikir keras, apa aku harus jujur ke ibu bahwa jodohku akan tiba dalam tahun ini. Aku mulai berpikir keras untuk merubah penampilanku, aku harus bisa mendapatkan jodoh dalam tahun ini.
Keesokkan harinya aku sudah tidak memakai lagi celana jeans dan baju kaos, yang kupakai adalah rok dan kemeja beserta aksesoris keperluan wanita. Aku mulai berdandan dengan sedikit polesan lipstik merah di bibir. Semoga saja dengan perubahan ini ibu dapat melihat sedikit perubahanku dan tidak memaksaku kembali untuk perjodohan itu.
Aku keluar dari kamar untuk segera berangkat ke kantor, Ibuku yang berada dibawah tiba-tiba memanggilku. “Marni, Wah kamu terlihat cantik sekali. Hmm… kamu benar-benar luar biasa marni. Ibu yakin kalau kamu begini, pasti banyak lelaki yang akan datang.” Terima kasih bu, Marni berjanji akan mencari jodoh buat Marni dan keluarga kita, Ibu jangan takut ya. Doakan Marni supaya dimudahkan jodoh dalam tahun ini.
Aku melanjutkan langkah kaki menuju kantor, selama 20 menit diperjalanan menuju kantor. Dari kaca mobil aku selalu berkaca, ternyata aku memang terlihat cantik. Haha… baru kali ini aku sadar bahwa aku cantik. Ternyata pekerjaan sudah merengut kepribadianku. Sesampainya dikantor, “Selamat pagi Ibu cantik.” Sapa seorang receptionist dikantorku. Pagi mbak. hehe…mbak bisa saja. Aku melanjutkan untuk kelantai dua menuju meja kerjaku, disini aku disapa teman-teman dengan sedikit guyonan mereka setelah melihatku, “Mau ke undangan bu.” Sapa Fani rekan kerjaku yang persis didepan mejaku.
Jam makan siang telah tiba, aku dihampiri oleh Dendi yang tidak biasanya ia hadir hari ini. “Ni, makan siang yuk.” Dengan tersenyum manis dan malu-malu, aku menjawab, Oke Den. Lalu kami berdua turun kebawah dan aku diajaknya ke restoran cepat saji yang berjarak 10 menit dari kantor. Disini dia mulai heran melihat perubahan penampilanku yang drastis., tampak dari wajahnya yang kagum melihat wajahku. Dasar lelaki melihat wanita cantik sedikit lalu kami suka. Apa benar kata orang, berdandan bisa mendatangkan rezeki dan jodoh. Ah, entahlah yang terpenting hari ini sudah terbukti ada lelaki yang mengajakku keluar.
Kami mulai membicarakan tentang kepribadian masing-masing, Lalu aku mulai berpikir tentang ramalan jodoh yang berinisial D. apa benar ini jodohku. “Ni, kamu kok beda ya sekarang?” Beda bagaimana Den? “Iya kamu berbeda dalam penampilan hari ini, kamu tampak cantik Ni.” Ah, kamu bisa saja Den, biasa aja ah. “Ni, sekarang kamu dekat dengan siapa?” aku binggung menjawabnya, kenapa dia tiba-tiba menanyakan pribadiku. Aku masih sendiri Den. “Wah, kalau begitu sama dong, aku juga masih sendiri Ni. Haha… berarti kita jodoh ya.” Candanya membuatku terpikir mengenai kembali mengenai ramalan itu.
Satu bulan berlalu…
Aku mendapatkan pesan singkat dari Dendi, berisi. “Ni, will you marry with me?”
Aku terkejut setengah mati bercampur bahagia mendengarnya, baru satu bulan kami dekat, ternyata dia benar-benar serius denganku. Lalu tanpa berpikir panjang aku membalasnya dengan jawaban. Yes, I will. Jawaban singkat itu lalu aku kabarkan langsung ke Ibu.
Ibu…ibu… Marni dilamar bu. “Apaaaa! Yang benar kamu Ni, siapa yang melamarmu?” Dendi bu, teman sekantor Marni. Ibu masih ingat kan dengan Dendi yang mengantar Marni pulang beberapa waktu lalu? “Oh, iya ibu ingat Ni, lelaki muda yang kulitnya putih itu kan.” Iya bu, dia yang melamar Marni. “Ibu senang mendengar kabar ini, nanti biar Ibu yang mengurusi acara pernikahannya. Kamu duduk manis saja dengan Dendi ya nak.
Mendengar ucapan Ibu barusan membuat hatiku terasa lapang, terasa bahagia sekali pada akhirnya aku bisa memberikan kabar mengenai jodoh dalam waktu singkat ini. Terima kasih ya Allah telah mendatangkan jodoh bagi diriku.
***

Aku selalu menolak ajakkan ibu dengan perjodohan, memangnya ini zaman Siti Nurbaya yang bisa dijodoh-jodohkan.

***

Penulis bernama lengkap Muhammad Ardiansyah, kelahiran Jambi 22 Agustus 1986, sudah mengeluti dunia sastra dan seni lukis sejak duduk dibangku SMP, diantaranya cerpen, essay, puisi dan naskah drama. penulis dapat dihubungi di nomor telp : 0741-7056173 / 0896-24431591. Email. serdadukata@gmail.com, FB : Muhammad Ardiansyah, Twitter : @serdadukata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s