Sedarah Tembus Masa

Standard

Sedarah Tembus Masa

Pagi ini aku melanjutkan aktivitas sebagai PSG sebuah perusahaan seluler “Nokia” di Jakarta, berpindah dari satu mall ke mall lain sudah menjadi kebiasaanku menjajakan sebuah inovasi baru keluaran “Nokia”. Terkadang pekerjaan ini dianggap remeh oleh beberapa pengunjung yang melihat PSG adalah pekerjaan murahan. Aku pernah mengalami kisah tanpa dugaan pada bulan ke dua bekerja sebagai PSG ketika ibu masih hidup. Pada saat menjajakan telepon genggam, seorang laki-laki paruh baya melihat-lihat telepon genggam yang ada ditanganku kemudian ia menanyakan kepadaku, apakah aku mau diajak berkencan malam hari. Bodohnya aku pada saat itu, kuberikan nomor handphoneku dan malam harinya ia datang kerumah.
Dari luar rumah terdengar suara ketokkan pintu. “Tok.. tok…tok…Assalamualaikum…” Waalaikumsalam… “eh, mbak. gimana bisa kita keluar mbak Dinda? Hmm… sebentar ya, aku tanyakan ke ibu dulu. Kemudian tidak beberapa lama ibu keluar dan melihat tamuku dari jendela. “Siapa itu Dinda?” Teman Dinda bu, dia mau mengajak keluar bu. “Tidak boleh, kamu anak gadis jangan keluar malam-malam.” Tapi bu. “Tidak ada tapi-tapian, kamu mau menurut atau tidak.” Baa..ba…baik bu.
Kemudian dari amanat ibu, aku langsung menemui pemuda itu yang sama sekali belum kukenal siapa namanya dan darimana pemuda ini berasal. Maaf mas, kayaknya lain kali aja ya kita keluar. Aku dilarang keluar malam ini. “Oke deh, tidak apa-apa mbak. lainkali kan bisa. Kalau begitu aku pamit dulu ya.” Iya mas, terima kasih atas kunjungannya.
Setelah menutup pintu depan, aku langsung menuju kekamar. Ibu yang masih duduk diruang tengah tiba-tiba memanggilku. “Diana, kemari.” Ada apa bu?. “Duduk disini. Kamu harus mendengar perkataan ibu, jika seorang pemuda datang pada waktu-waktu malam dengan asal-usul yang tidak jelas, jangan sekali-sekali kamu terima. Ibu tidak mau kamu dianggap gadis yang tidak tahu aturan.” Baik bu, tapi apa salahnya bu, kan dia hanya bertamu. “Walaupun bertamu kamu harus tau, jam berkunjung untuk kerumah jam berapa dan asal-usul harus jelas.” Baik bu, Dinda tidak akan menggulangi lagi hal seperti tadi.
Pukul 05.20 wib, aku bangun dari tidurku setelah mendapatkan mimpi ibu kecelakaan. Dan sentak saja langsung aku temui ibu, ternyata ibu terbaring lemas di kasurnya. Ibu-ibu, kenapa ibu. “Ibu tidak apa-apa Dinda, kamu harus ingat perkataan ibu baik-baik. Jagalah dirimu seperti mawar yang dijaga oleh durinya”. Ibu… ibu… Dinda ambilkan obat dulu. Ibu harus kuat. Lalu aku langsung berlari ke dapur untuk mengambilobat asma. Tapi tiba-tiba, praangggg! Obat itu jatuh ked an pecah. Aku sibuk mengambil sisanya dan menuju kekamar, kulihat ibu sudah tak bernyawa.” Ibuuuuuu!!! Ibu maafkan Dinda. Ibu, aku memang anak yang kurang berbakti.
Sudah dua tahun kepergian ibu, sekarang aku hidup sebatang kara tanpa siapapun yang dapat mengerti keluh kesah yang kualami. Yang dapat kulakukan adalah curahan hati imajinasi kepada Ibu. Setiap hari, poto ibu menjadi pemandangan yang mengingatkanku pada sosok kasih sayangnya semasa hidup.
Sambil menatap poto ibu aku monolog dan berkata, Ibu maukah kau menerimaku lagi seperti dahulu, meninabobokan aku sebelum ku terlelap. Aku rindu kasih sayangmu yang dulu hangat dan tentram didadaku. Aku rindu semangat pagi sebelum fajar menyingsing. Kau peluk dengan kasihmu yang tak terhingga. Ibu…aku haus kasihmu.
Hidupku penuh dengan dosa, setelah ditinggal ibu aku menjadi liar, tak ada lagi perhatian yang dapat aku terima. Makan tidak teratur, pulang larut malam dan aku lebih suka bersenang-senang dengan teman-teman sesama PSG sepulang kerja. Aku tidak pernah lagi ingat keadaan rumah, hidup ini terasa hampa, aku benci hidup ini. Aku benci! Ibu, aku rindu padamu. Sambil kupeluk poto ibu, tetesan air mata seakan mengingatkan perkataan ibu yang dulu pernah terisi dihati ini. “kamu anak gadis jangan keluar malam-malam, harus tau jam-jam berkunjung.”
Dalam buku diary, kutulis beberapa bait penghantar lelahku.
Dear Diary,
Air mataku jatuh beribu kali menyapa tanah luhur
Air mata ini mengibarkan sesal yang teramat kesal pada diri
Sebatang diri tak kenal pada diri
Ibu, aku kesal pada diri yang tak mengerti arti hidup
Maafkan Dinda Ibu
Selasa, 09 Januari 2005

BIODATA
Penulis bernama lengkap Muhammad Ardiansyah, kelahiran Jambi 22 Agustus 1986, sudah mengeluti dunia sastra dan seni lukis sejak duduk dibangku SMP, diantaranya cerpen, essay, puisi dan naskah drama. tulisan-tulisannya pernah dimuat di website nulisbuku.com, jejakkubikel.com dan kompasiana.com dan antologi puisi berjudul Bersama Gerimis adalah antologi puisi penyair komunitas Majelis Sastra Bandung yang terbit (2009). Pernah mengikuti sayembara pembacaaan puisi mahasiswa/mahasiswi universitas pasundan bandung, pernah ikut serta dalam pembacaan sajak alm. W.S. Rendra, mengadakan teater musikalisasi serta aktif dalam berbagai komunitas sastra yaitu, komunitas Konstruksi Puing Bandung 2005-2006, Komunitas Sabda Sastra Bandung (SSB) 2006-2009, Komunitas Majelis Sastra Bandung (MSB) 2009-sekarang. Pernah mengadakan pameran tunggal lukisan “Mata” 2010 dikampus Universitas Pasundan dengan total lukisan 105 buah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s