Antologi 4

Standard

Mahligai Beranda Kosong #1

Aku memanggilmu seru yang dibawa dendang lagu sore bertempo ½ kilo;
Berjarak-jarak heningkan senyap
Kemari mendekat ke beranda tak seorang pun menghampiri
Atau wajahmu kan kulukis bersama pramusaji angin
Atau hujan tinggalkan gerimis renyai
Meredup serunai sarang-sarang gemuruh antara
Jiwa moksa-moksa mengulum sisa mimpi

Jambi, 22 Desember 2012

Kredo Ger

Kemana lagi kau melangkah ger?
Gerbang ini sudah bapak lumuri darah ibumu
Sebelum kau dilahirkan pada jam-jam maksiat di daerah laknat penuh penat
Mau kemana kau ger?
Disinilah rumahmu penuh sihir mantra-mantra ranah minang
Sebelum kau tahu hayat mengenang masa;
Tetaplah kau berdarah biru perawan bisu
Jambi, 22 Desember 2012
Anak Pohon

Kau lupa akar-akar yang memberimu janji air-air pemberi dahaga selepas gagap bicara
Dan haha! Dan haha!
Kau tertawa mengitari buyut merebut lahan memilin derajat waktu
Dan luka! Dan Luka!
Hitunglah langkahmu, di sini beranda mayatku; lupa
Dan siksa! Dan Siksa!
Kau lupa masa gemetar dan kuusap hangat diantara badai gemuruh tak bertuan berdekade
Sempurnalah kau dilumat kredo-kredo pahit dalam jiwa dalam lubrikasi di depan mulutmu
Dan sambutlah lerai-lerai serenada melodi kaum biksu bisu
Ini rantai untukmu memasung cinta
Hanya sesatkan warna merah bergincu aliran darah
Padat-padatkan kanvas berisi jantung bergantung-gantung
Dan nyawa! Dan nyawa!
Luka; merunut kisah
Jambi, 22 Desember 2012

Gurindam Merambah Akar
: Untuk para gadis yang direngut perawannya

Kunamai ini sebatang selasar pondok mekar/
Mekar-mekarlah sunyi selebat-lebat hunian sempat/
Aih, jika saja ada ranum berloncat-loncat intuisi sunyi/
Kunodai sepenuh irisan jari menetes retas/
Melahirkan paras-paras bermuka beras/
Aih, kau masih juga memakan sisa nasi tadi malam/
Untuk bayi dalam rahim berumur nista/
Berumur sial-sesial kandungan 5 buah sperma membuncah dalam perut/
Kau bukan manusia; tak untuk kulahirkan/
Sebagai peristiwa; ayahmu lima dan laknat merebut perawan/
Menebus dosa; ah kau membuatku terasing/
Dalam dunia, sudut pemerkosa dan bernama gerimis abadi/
Aku lupa ibuku?
Insial namaku bernama karma/
Kalenderkan ruang-ruang di atas normal/
Semua tertawa sembari menyesalkan inisial-inisial membuat kisah selama nafas dikandung zaman/
Semua menangis dalam ruang-ruang sempit/
Aku bermimpi kau menjemputku ke ruang bernama suryaloka/
Bangunkan aku jika nodanya berbintik di wajah/
Yang kulupakan bersama sehelai dosa/
Setegak doa buas menghisap masa berarus saling silang/
Jambi, 22 Desember 2012 /
Selamat hari ibu. Sabtu, 22 Desember 2012/

Kredo Keranda 1

Di barisan antara janji-janji tak lagi-lagi mengucap doa
Kau tukikkan dosa berlembar-lembar menghias pohon pala depan rumah
Lerai langkah-langkah mengantar nyawa
Suara pesing meruas-ruas merubuh intuisi
Seksi berdebu tinggal nama tinggal nama

26 Desember 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s